SUARA PEMBARUAN DAILY

Meneropong Hubungan Indonesia-Selandia Baru

Amris Hassan

Tahun 2008 terasa istimewa karena jalinan hubungan diplomatik Indonesia dengan Selandia Baru genap berusia 50 tahun. Jika diibaratkan sebuah perkawinan, maka kedua pasangan merayakan Tahun Emas, seringkali saat terbaik bagi pasangan tersebut untuk merenungi kembali sejarah hubungan, dan memikirkan apa lagi yang bisa diperbuat agar hubungan tidak saja bertahan namun terus berkembang melewati milestone waktu berikutnya.

Sebagaimana lazimnya suatu hubungan antar aktor internasional yang berdaulat, perjalanan ini tidak selalu berjalan mulus. Dapat dicatat sikap Selandia Baru yang "enggan" membangun kontak intensif dengan Indonesia sepanjang dekade 1990-an. Selandia Baru juga tak segan berkomentar atas sejumlah insiden di tanah air yang merefleksikan lemahnya perlindungan HAM, penegakan hukum dan demokrasi. Pada sisi lain, situasi ini diperburuk dengan samarnya gambaran Selandia Baru bagi publik Indonesia dan mispersepsi tentang signifikansi, skala dan kedalaman kerjasama politik dan ekonomi yang mungkin dijalin.

Namun, tantangan dalam lingkup lingkungan pasca Perang Dingin, interdependensi ekonomi yang makin inten dan dinamika keamanan pasca 9/11 mendorong respons berupa prioritas kemitraan regional serta saling pemahaman dan mengesampingkan konflik perbedaan kepentingan.

Hal ini pula yang mengarahkan Selandia Baru untuk lebih melibatkan diri dalam dinamika di lingkungan terdekatnya di utara yang sempat terabaikan. Selandia Baru sangat antusias dengan proses East Asia Summit dan cukup banyak melibatkan diri dalam proses penyelesaian krisis nuklir Korea Utara, suatu hal yang tak terbayangkan di masa lalu. Tanpa mengurangi makna penting hubungan yang dijalin dengan mitra tradisional di Eropa, Amerika Utara dan Pasifik, tampak bahwa porsi perhatian Selandia Baru pada Asia semakin besar.

Di dalam negeri, berlanjutnya arus imigrasi Asia beserta implikasinya pada corak sosial demografi Selandia Baru serta semakin signifikannya peran global ekonomi Asia mempertinggi tingkat awareness Asia pada para pemangku kepentingan Selandia Baru.

Bulan Oktober 2007, Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Selandia Baru meluncurkan buku putih berjudul Our Future with Asia yang mempertegas pergeseran substantif kebijakan politik luar negeri Selandia Baru sekaligus pengakuan atas pentingnya Asia bagi masa depan peran politik dan ekonomi Selandia Baru.

Peningkatan Hubungan

Sudah barang tentu menguatnya dorongan bagi revitalisasi hubungan Selandia Baru dengan Asia, khususnya Indonesia, bukan hasil dari proses satu arah. Capaian-capaian positif di tanah air seperti giliran reformasi TNI, penyelesaian damai konflik komunal, menguatnya demokratisasi, serta peningkatan penegakan hukum secara efektif mempertipis resistensi sejumlah elemen politik domestik Selandia Baru bagi peningkatan hubungan dengan Indonesia. Citra Indonesia sebagai negara demokratis dan moderat membesarkan peluang-peluang baru dari melebarnya basis kesamaan yang dimiliki kedua negara.

Kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2005 dan kunjungan balasan PM Helen Clark ke Indonesia pada tahun 2007 menegaskan optimisme pada babak baru persahabatan serta kerjasama konkret. Selandia Baru juga berinisiatif mencairkan kembali hubungan pertahanan dengan Indonesia yang selama periode 1999-2006 menjadi hambatan psikologis intensifikasi kemitraan politis kedua negara. Secara bersamaan tampak pula lonjakan kerjasama praktis dan inisiatif di berbagai bidang antara lain kerjasama antar kepolisian, peningkatan Official Development Assistance (ODA), pertukaran kunjungan pejabat senior, dan terselenggaranya pertemuan komisi bilateral di tingkat menteri untuk pertama kalinya pada tahun 2007.

Sangat disayangkan bahwa antusiasme politis dan peluang bilateral yang lahir bersamanya belum sepenuhnya ditangkap oleh pelaku bisnis di tanah air. Ekspor Indonesia ke Selandia Baru tumbuh rata-rata 11 persen selama dekade terakhir dengan pengecualian pada tahun 2006 dimana nilai ekspor meningkat hingga 30 persen yang sebagian besar diperkirakan karena faktor eksternal lonjakan harga internasional minyak dan batu bara yang kontribusinya 46 persen dari ekspor Indonesia ke Selandia Baru.

Dalam lingkar kompetisi bisnis yang makin mencekik dan akses ekspor ke pasar konvensional yang sering kali terganggu, sudah saatnya pelaku bisnis Indonesia melihat lebih jauh dan meninggalkan kesan sekilas yang dangkal mengenai Selandia Baru. Dengan 4 juta penduduknya, Selandia Baru barangkali bukan tergolong ekonomi yang besar, namun tidak berarti tidak terdapat peluang pasar dan ceruk bisnis yang menguntungkan. Data statistik memperlihatkan bahwa konsumen Selandia Baru menyerap produk furniture impor hingga senilai NZD 300 juta setiap tahunnya. Kebutuhan ini sebagian besar dipenuhi oleh Tiongkok disusul oleh Malaysia dan Vietnam dengan nilai ekspor masing-masing berkisar antara NZD 30-40 juta, sementara Indonesia hanya meraih pangsa senilai NZD 16 juta. Padahal, kita semua tahu bahwa industri furniture Indonesia jauh lebih besar dan maju dibandingkan negara tetangga.

Penting pula dicatat bahwa Selandia Baru juga gerbang pemasaran bagi negara-negara Pasifik. Pengusaha dari sejumlah negara ASEAN lainnya yang jeli memanfaatkan peluang ini telah memetik manfaat yang signifikan. Pada era dimana biaya transportasi barang Internasional makin diperkecil oleh kemajuan teknologi, jarak geografis Selandia Baru dari Indonesia semestinya tidak lagi menjadi penghalang utama.

Lebih jauh, berlanjutnya apresiasi nilai tukar NZD membuat barang impor, dan perjalanan wisata semakin murah di mata konsumen Selandia Baru. Demikian pula penerimaan windfall profit dari pendapatan ekspor pertanian serta arus masuk modal asing pada akhirnya mengharuskan pelaku bisnis Selandia Baru mempertimbangkan alternatif-alternatif investasi yang menguntungkan di luar negeri.

Langgengnya persahabatan kedua negara melewati usia 50 tahun membuktikan bahwa hubungan kedua negara telah berkembang semakin dewasa dan bahwa saling pemahaman mulai dapat mengisi ruang kosong yang kerap muncul akibat persimpangan kepentingan politis. Namun hubungan ini akan lebih berarti lagi jika pelaku ekonomi dan bisnis di tanah air mau lebih dalam menengok ke Selandia Baru dan mencari tahu bagaimana memanfaatkan peluang-peluang yang tercipta dari perjalanan 5 dekade hubungan Indonesia-Selandia Baru. Seberapapun besarnya raihan-raihan diplomat kita di luar negeri, namun tanpa tindak lanjut kongkrit di bidang ekonomi, maka kerja keras ini menjadi futile belaka.

Penulis adalah Duta Besar Republik Indonesia untuk Selandia Baru merangkap Samoa dan Kerajaan Tonga. Tulisan ini pandangan pribadi dan ti dak mencerminkan sikap resmi Pemerintah RI


Last modified: 2/4/08