SUARA PEMBARUAN DAILY

Pemimpin Tua Vs Pemimpin Muda

Oleh Muthiah Alhasany

Kabar mengejutkan mengenai Muhaimin Iskandar yang diminta mundur dari jabatan Ketua Umum PKB membuat banyak orang terhenyak. PKB adalah salah satu partai terbesar di negeri ini. Kalau terjadi ricuh di pucuk pimpinan akan membuat anggotanya bingung. Ada apa di tubuh PKB? Benarkah apa yang diduga orang bahwa PKB terpecah-belah?

Sebenarnya masalah di tubuh DPP PKB adalah salah satu contoh dari masalah kepemimpinan. Dalam hal ini terjadi ketidaksesuaian antara pemimpin tua dan pemimpin muda. Muhaimin Iskandar mewakili figur pemimpin muda dan Gus Dur merupakan gambaran dari seorang pemimpin tua. Sekjen PKB Yenny Wahid terlepas dari kemampuan yang dimiliki, tidak dimasukkan dalam hitungan karena dia adalah putri Gus Dur yang sudah tentu akan mengikuti kata-kata ayahnya.

Di tubuh partai-partai lain, terutama di partai-partai besar, juga ada masalah seperti ini, ada ketidaksamaan pandangan dan langkah antara tokoh-tokoh senior dengan para yuniornya. Namun, beberapa partai mampu meredam konflik dengan cara masing-masing. Sebab, jika hal ini tidak mampu dianulir dan persoalan meruncing, maka potensi perpecahan di tubuh partai tersebut akan membesar. Eksistensi partai selanjutnya terancam dan ini berbahaya mengingat Pemilu 2009 tinggal hitungan waktu.

Ada satu pola kepemimpinan yang seringkali dijalankan tokoh-tokoh politik tua di Indonesia, apalagi di Pulau Jawa. Dari kacamata dunia modern, pola kepemimpinan ini sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Namun, kalau ditinjau dari segi budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia, maka masih sulit untuk dihilangkan. Justru bisa dikatakan bahwa pola kepemimpinan mereka masih dibutuhkan dan akan tetap hidup sampai beberapa periode lagi.

Pada umumnya, tokoh-tokoh tua yang masih bertahan sekarang ini adalah orang-orang yang sudah sangat berpengalaman. Sudah banyak makan asam garam di dunia politik. Banyak di antara mereka telah melewati tiga zaman, yaitu zaman penjajahan, zaman kemerdekaan, dan zaman pembangunan. Pada partai-partai yang berbasis organisasi keagamaan maka pemimpinnya juga merupakan pemimpin agama. Misalnya, NU dan Muhammadiyah. Para kiai, meski ditempatkan sebagai penasihat, tetapi memiliki pengaruh yang sangat besar kepada fungsionaris partai. Keistimewaan pada NU, di atas mereka masih ada lagi tokoh-tokoh yang diperhitungkan, yaitu para kiai sepuh yang sangat disegani.

Lebih "Wise"

Dengan bekal pengalaman dan kedalaman ilmu agama maka tokoh-tokoh tua tersebut biasanya lebih wise dalam memandang suatu persoalan. Mereka tidak akan gegabah dalam mengambil keputusan. Kalau ada suatu masalah maka tokoh-tokoh tua itu akan meninjau dari berbagai sudut, menelaah dengan hati-hati dan diperhitungkan baik buruknya. Mereka cukup sabar untuk melihat dan mendengarkan reaksi orang lain. Generasi muda mungkin menilai ini sebagai suatu keterlambatan. Akan tetapi, ketika tokoh-tokoh tua ini memberikan solusi, tentu yang terbaik bagi keutuhan organisasi dan kemaslahatan umat.

Memang tidak semua tokoh tua dapat bertindak bijaksana. Apalagi mereka yang sudah terlepas dari kehidupan spiritual yang mengabaikan urusan duniawi. Tokoh-tokoh ini telah terjebak dalam dunia politik yang pragmatis di mana mereka lebih banyak berhubungan dengan kekuasaan, ambisi, dan materi. Dalam keadaan seperti ini, mereka sama saja dengan orang lain, yang bisa dipengaruhi oleh suasana, salah memilih teman atau kehilangan intuisi untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Ketika menghadapi suatu persoalan yang muncul adalah rasa ego, merasa lebih pintar, merasa lebih berpengalaman dan merasa lebih senior. Akibatnya, sikap dan tingkah laku mereka seringkali menjadi otoriter, kolot, dan tidak suka dibantah. Hal ini yang menghalangi persatuan antara generasi tua dengan generasi muda, Pandangan dan pendapat dua generasi sulit mencapai titik temu.

Indonesia telah memiliki banyak tokoh dari generasi muda. Kita patut berbangga akan hal ini. Keberlangsungan bangsa dan negara kelak ditentukan oleh generasi muda. Kita berharap proses regenerasi akan berjalan dengan baik. Tongkat kepemimpinan dari generasi tua dapat diberikan kepada generasi muda tanpa perlu pertumpahan darah.

Generasi muda diwarnai dengan tokoh-tokoh yang telah menjalani pendidikan formal yang tinggi. Bahkan ada di antaranya yang mendapat gelar kesarjanaan dari luar negeri. Sebagian tokoh muda adalah pentolan-pentolan organisasi kemahasiswaan yang cukup dikenal, seperti PMII, GMKI, GMNI, PMKRI, dan sebagainya. Mereka meneruskan kiprahnya di partai-partai yang satu haluan dengan organisasi yang telah diikutinya. Sebagian lagi adalah tokoh profesional yang tertarik untuk terjun ke dunia politik praktis.

Lazimnya, generasi muda mempunyai ciri lebih dinamis, senang dengan pergerakan yang pesat Kita bisa melihat bahwa tokoh-tokoh muda yang menonjol dewasa ini memperlihatkan kecerdasan yang tinggi, tajam berpikir, dan cepat tanggap pada situasi. Mereka sensitif terhadap setiap perubahan di sekitarnya, apalagi terhadap persoalan sehari-hari dalam masyarakat. Karena itu mereka akan cepat memberikan reaksi dan antisipasi. Tokoh-tokoh ini tidak akan tenang jika belum ikut andil dalam isu-isu yang tengah berkembang. Bagi mereka tidak boleh ada waktu yang terbuang percuma. Sedapat mungkin setiap persoalan diselesaikan dalam waktu yang singkat.

Namun, gerak cepat mereka lebih mengesankan ketergesa-gesaan. Apabila terlalu memaksakan ketergesaan maka generasi muda cenderung menjadi lebih ceroboh, salah perhitungan, atau salah mengambil langkah. Di sisi lain, karena banyak di antara mereka yang mengenyam pendidikan di kota atau bahkan di luar negeri, maka mereka sering berpedoman pada dunia Barat. Boleh saja kita berpikiran modern, tetapi tidak semua yang berasal dari Barat pantas ditiru atau diterapkan di Indonesia, sebab belum tentu sesuai dengan kehidupan masyarakat kita yang mempunyai budaya dan karakter tersendiri.

Dalam berorganisasi, terutama di partai politik yang harus memperhitungkan segala risiko, kecerobohan atau ketidakhatihatian dapat menyebabkan keputusan atau kebijakan kontradiktif, yang dapat menjerumuskan pimpinan pada masalah yang berkepanjangan. Kesalahan seperti ini bisa dimanfaatkan oleh saingan dari partai- partai lain untuk memecah belah partai tersebut. Partai yang menjadi saingan utama bisa dengan mudah melindas partai itu.

Kombinasi

Untuk mempertahankan eksistensi partai yang paling tepat adalah mengkombinasikan antara generasi tua dengan generasi muda. Sebagaimana semboyan Bhinneka Tunggal Ika, kita ditantang untuk menyatukan perbedaan dua generasi. Penyatuan itu baik dalam struktur organisasi atau pun dalam persamaan persepsi terhadap masalah-masalah prinsipal. Dan hal ini bisa diwujudkan dengan mengacu pada disiplin terhadap AD/ART partai. Siapa pun, tanpa kecuali, harus konsisten dengan aturan-aturan organisasi yang telah ditetapkan dalam AD/ART. Setiap masalah yang timbul diselesaikan secara organisatoris.

Selayaknya organisasi di masa sekarang memperhatikan dinamika dunia politik, baik di dalam negeri mau pun internasional. Karena dinamika politik sangat tinggi maka fungsionaris partai lebih dipercayakan kepada generasi muda. Namun, generasi tua dapat mengawasi jalannya organisasi dengan menjadi penasihat, pembina, atau semacamnya. Sehingga ketika ada langkah pemimpin muda yang salah dapat segera diperbaiki. Kalau ada langkah yang kebablasan dapat segera direm. Kesabaran dan ketelitian pemimpin tua dapat membantu pemimpin muda untuk berhati-hati. Generasi muda juga harus mau mendengarkan saran dan nasihat pemimpin tua agar bisa bertindak lebih bijaksana.

Tidak dipungkiri masih banyak tokoh tua yang enggan lengser dari jabatan pimpinan. Ada yang sudah beberapa periode memegang pucuk pimpinan, tetapi tak mau diganti oleh orang lain. Padahal inilah saatnya mereka bersikap legowo, memberikan kesempatan kepada tokoh-tokoh muda untuk memimpin organisasi. Sekali-dua kali melakukan kesalahan adalah wajar, sebagai manusia berakal mereka akan belajar dari pengalaman. Dengan begitu kepemimpinan mereka akan semakin terasah.

Sebagai organisasi politik, konflik-konflik di tubuh partai adalah hal yang lumrah. Namun, bukan berarti lantas dibiarkan menjadi duri dalam daging. Apalagi jika persoalan itu menyangkut perbedaan pendapat antara pemimpin tua dan pemimpin muda. Kembali lagi, kita harus berpegang pada sistem organisasi yang diatur dalam AD/ART partai. Bila masalah yang terjadi sulit diselesaikan secara sistem, maka yang paling tepat adalah jika organisasi itu memiliki tokoh kunci, tokoh yang bisa menjadi penengah, yang menjembatani perbedaan pemimpin tua dengan pemimpin muda.

Penulis adalah Sekum Wanita Penulis Indonesia


Last modified: 2/4/08