SUARA PEMBARUAN DAILY

Dinda Kanyadewi

Situs Amoral

sp/alex suban

Rencana pemerintah menutup situs berbau pornografi pada April 2008 sangat tepat, mengingat dampak negatifnya bagi moral masyarakat. Pemerintah melalui Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) akan menyiapkan aturan dan soft ware gratis guna menangkal akses ke situs-situs porno.

Keputusan pemerintah yang baru keluar pertengahan Maret ini, menurut artis muda Dinda Kanyadewi sedikit terlambat. Dampak negatifnya sudah lebih dulu merambat ke masyarakat, baru kemudian pemerintah sadar situs porno merusak masyarakat.

Anak-anak di bawah umur yang seharusnya tidak melihat situs porno, kenyataannya bisa bebas mengambil atau melihat gambar-gambar 'panas' tersebut.

"Pemerintah kurang cepat mengambil langkah menutup situs porno. Anak-anak atau remaja yang masih duduk di bangku sekolahan kebanyakan sudah menjadi consumer dari situs porno itu. Tetapi seperti pepatah bilang, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali," kata Dinda saat dihubungi SP, Jumat (28/3).

Menurut perempuan kelahiran Balikpapan, 5 Februari 1987 itu, website porno sudah bukan barang hal tabu untuk dikonsumsi semua orang. Bahkan, beberapa pelayanan internet tidak melarang pengunjung yang datang membuka situs porno. Anehnya lagi, beberapa pelayanan internet justru menyediakan website porno untuk pengunjung.

Dampak dari bebasnya mengakses situs negatif, yakni bertambahnya tindak kriminal seperti pelecehan seksual, perkosaan, dan kekerasan seksual pada anak. Ditambah lagi, dalam situs biasanya diajarkan cara melakukan tindakan seks dengan gambar yang jelas.

Dara yang bermain dalam film Kawin Kontrak ini menuturkan terdapat situs porno yang sangat amoral, yakni situs russianboys.com. Situs tersebut menampilkan cara-cara bercinta orang-orang tua yang berusia lanjut dengan anak-anak di bawah umur. Kelainan seks seperti itu dengan bebas diakses oleh semua masyarakat tanpa dipungut biaya.

"Mau jadi apa generasi penerus bangsa Indonesia, kalau hiburan yang dipilih adalah membuka situs-situs porno. Tidak heran kalau moral bangsa semakin hancur. Pemerintah harus tegas dan benar-benar menutup situs porno, jangan hanya janji saja," lontar mantan finalis GADIS Sampul 2002 ini.

Bagi sebagian orang, situs porno memang melanggar aturan. Tetapi untuk sebagian orang ada yang berpendapat situs tersebut adalah cara untuk berekspresi atau mengungkapkan karya seni. Dinda berpendapat website porno jelas-jelas bukan bagian dari seni. Itu hanya pendapat omong kosong yang mencari pembenaran. Sebab, seni tidak memberikan dampak negatif bagi penikmatnya. Seni bisa memberikan inspirasi atau pencerahan, bukannya menimbulkan inspirasi untuk berbuat jahat.

Keputusan pemerintah untuk menutup akses situs porno ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia saja. Negara maju seperti Tiongkok dan Amerika Serikat juga mengeblok situs-status negatif agar tidak bisa diakses. Sanksi yang diberikan untuk pembuat situs juga berat. Indonesia sendiri menetapkan denda Rp 1 miliar bagi si pembuat situs porno.

Dinda yang hobi chatting juga mengatakan pemerintah jangan hanya memberikan denda kepada si pembuat situs porno, tetapi juga kepada masyarakat yang gemar membuka situs tersebut. Karena logikanya situs porno tidak akan semakin bertambah bila tidak ada masyarakat yang setia mengaksesnya.

"Kesalahan ada di kedua belah pihak, si pembuat dan masyarakat yang mengakses. Kalau pemerintah mau benar-benar memberantas situs porno sanksi harus diberikan di dua pihak tersebut," kata Dinda mantap. [EAS/U-5]


Last modified: 28/3/08