SUARA PEMBARUAN DAILY

Belajar Berpikir Positif

Oleh Andri Suryadi

** missed drop char **Tanpa terasa, sudah tiga bulan kita melewati tahun 2008. Pasti banyak hal yang telah kita perbuat selama tiga bulan ini. Saya sendiri ketika menulis artikel ini merasa betapa cepatnya waktu berlalu. Rasanya baru kemarin saya membuat resolusi bersama pasangan saya ketika merayakan tutup tahun bersama.

Sudah menjadi kebiasaan setiap tahun bagi sebagian kalangan untuk membuat resolusi di awal tahun. Mereka melakukannya dengan harapan bahwa tahun yang akan dilewati adalah tahun penuh kesuksesan. Kalau bisa malah bertambah sukses daripada tahun yang akan ditinggalkan.

Saya sendiri berbuat demikian pula. Saya mencoba melihat kembali perjalanan hidup saya di tahun 2007 dan membuat beberapa catatan tentangnya. Ada hal yang perlu ditingkatkan dan ada hal yang perlu diperbaiki. Walau jujur saya mengatakan, banyak resolusi yang dibuat setahun yang lalu belum juga terlaksana sampai saat ini.

Kita semua tentunya mengharapkan apa yang kita rencanakan akan berhasil. Kita mempersiapkan semuanya dengan sangat matang. Kita membuat berbagai rencana agar apa yang kita inginkan dapat berhasil. Namun, apa mau dikata, ketika semua tidak berjalan sebagaimana mestinya, malah kegagalan yang akan diterima.

Kita kemudian menjadi kecewa dan marah karena apa yang kita rencanakan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Sedemikian kecewanya kita sehingga terkadang memutuskan untuk segera berhenti melakukan hal itu lagi di kemudian hari.

Berhadapan dengan sesuatu yang tidak kita inginkan memang tidak menyenangkan. Berpisah dengan orang yang dicintai dan berkumpul dengan orang yang tidak disukai adalah penderitaan. Namun, begitulah kenyataan yang sering terjadi dalam kehidupan kita.

Begitu pula yang saya hadapi dalam praktik saya sehari-hari. Kebanyakan pasien yang datang lebih disebabkan mereka tidak mampu berhadapan dengan rasa kecewa.

Terkadang rasa kecewa yang begitu lama dipendam sehingga timbul dalam keadaan yang berbeda. Timbul sebagai keluhan fisik yang tidak dapat dijelaskan oleh berbagai pemeriksaan fisik dan penunjang.

Saya rasa setiap orang pernah merasa kecewa. Bila ada seseorang yang datang kepada saya dan mengatakan bahwa dia tidak pernah mengalami kekecewaan maka orang tersebut pastilah penuh kebohongan. Kekecewaan sepatutnya dianggap biasa karena memang dia timbul akibat perbuatan kita sendiri.

Anda pasti bingung mengapa saya berkata demikian. Saya tidak salah menyebutkan demikian karena itulah memang yang terjadi.

Ditentukan Kita Sendiri

Dosen saya pernah berkata bahwa segala sesuatu yang terjadi dengan perasaan kita ditentukan oleh sikap kita menghadapi peristiwa yang datang. Peristiwa itu sebenarnya bersifat netral. Baik buruknya ditentukan oleh kita sendiri.

Beliau pernah menanyakan apa yang timbul di pikiran kami semua ketika memikirkan warna hitam. Beberapa teman saya dan saya sendiri mengatakan hitam melambangkan kedukaan dan kegelapan. Tetapi dosen saya itu mengatakan ketika ia memikirkan warna hitam yang terbayang adalah warna tuxedo pria yang dipakai ke acara anugerah Oscar di Kodak Theater. Stimulus yang sama namun dipersepsikan berbeda.

Banyak orang bijak mengatakan kepada kita bahwa kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Mungkin itu bernada klise namun bila dipikirkan memang benar adanya. Yang dimaksud orang bijak tersebut adalah bagaimana cara pikiran kita menghadapi kegagalan itu. Kegagalan bagaimanapun tetaplah kegagalan. Namun, pikiran kita menghadapi kegagalan tersebut yang akan membedakan nilai dari kegagalan itu.

Salah seorang mahasiswa bimbingan saya pernah menanyakan, bagaimana caranya berpikir positif. Dia melihat bahwa kebanyakan dokter yang berprofesi sebagai psikiater atau ahli kesehatan jiwa bisa menempatkan kata-kata yang positif, baik untuk dirinya maupun pasiennya.

Saya pikir, kemampuan berpikir positif bukan hanya milik segelintir orang atau profesi saja. Kemampuan berpikir positif didapatkan dari proses belajar yang tidak sebentar. Dalam ilmu psikiatri, terapi kognitif adalah salah satu cara untuk belajar berpikir positif. Bagaimana kita diajak melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda. Bukan sudut pandang negatif yang selalu membuat kita kecewa.

Kita semua dapat belajar berpikir positif dari hal-hal yang kecil. Kita bisa memulainya dari bagaimana kita selalu mencari segi yang positif dari setiap orang yang kita kenal dan jumpai. Kita bisa belajar untuk memuji seseorang dengan tulus. Kebanyakan kita selalu menambahkan embel-embel kata "cukup" ketika ingin memberikan penghargaan kepada seseorang. Dia cukup baik, cukup pintar, cukup cantik, dan kata-kata lain yang selalu diberi awalan cukup. Mengapa kita tidak langsung saja mengatakan bahwa dia cantik, dia baik, dia pintar.

Dulu saya sering mendengar alasan orang melakukan itu. Katanya supaya yang dipuji tidak takabur dan besar kepala. Saya rasa alasan itu terlalu dibuat-buat. Kalau memang yang dipuji bagus apa salahnya kita jujur. Pujian kita tidak akan membuatnya takabur, malah akan membuatnya lebih menampilkan sisi terbaik dari diri orang yang dipuji.

Tentunya kebiasaan ini memerlukan waktu dan ketekunan yang besar. Tidak dapat dimungkiri bahwa memang lebih mudah berpikir negatif daripada positif apalagi bila menyangkut orang lain. Lingkungan yang membuat kita lebih sering kecewa juga membuat kita agak kesulitan berpikir positif.

Kita rasanya lebih sering kesulitan ketika menghadapi kenyataan harus berpikir positif tentang orang lain. Apalagi bila jelas-jelas kita memang dirugikan. Namun, selalu ada jalan untuk menghadapi kenyataan ini. Mulailah berpikir positif tentang diri kita sendiri.

Berlatihlah terus untuk melihat segala sesuatu dari kacamata yang positif. Tanpa disadari oleh kita semua bahwa hal ini sebenarnya menguntungkan kita. Saya masih belajar sampai saat ini, bagaimana dengan Anda?

Praktisi Kesehatan Jiwa andri_dr@rsgm.co.id


Last modified: 28/3/08