SUARA PEMBARUAN DAILY

Sosok

Dari Kritik Menjadi Pujian

Avram Grant

"Who is Avram Grant?" begitulah judul laporan utama halaman olahraga The Independent, suratkabar harian yang terbit di Inggris, dalam edisi 21 September 2007. "Avram Grant bisa dikatakan hampir tak dikenal oleh dunia sepakbola Inggris sampai kemarin pagi," kalimat pembuka dari berita itu.

Memang, publik dan pencinta sepakbola Inggris praktis baru mengenal Grant, setelah namanya diumumkan secara resmi oleh Roman Abramovich, pemilik klub sepakbola terkemuka Inggris, Chelsea, pada 20 September untuk menggantikan pelatih kenamaan Jose Mourinho.

Padahal Avram Grant bukanlah orang yang asing dalam dunia sepakbola. Dalam kariernya sebagai pelatih sepakbola, Grant telah membawa dua tim berbeda di tanah kelahirannya, Israel, keluar sebagai juara liga utama. Grant juga diakui sebagai arsitek tim sepakbola Israel yang modern. Sebagai manajer tim Israel dalam babak kualifikasi Piala Dunia 2006, Grant berhasil membawa timnya menjadi yang tak terkalahkan.

Grant yang tahun ini berusia 53 tahun, memulai kariernya di lapangan sepakbola dengan cukup unik. Dia tak bermain di kesebelasan di level mana pun di Israel, namun dia telah menjadi pelatih sepakbola di usianya ke-18 saat dia bertempat tinggal di Petrach Tikva, yang berada di pinggiran Tel Aviv, ibu kota Israel.

Dia membangun tim junior Hapoel Petrach Tikva menjadi kesebelasan yang disegani di Israel. Grant kemudian juga ditunjuk untuk menjadi manajer dari tim senior di kesebelasan yang sama pada saat usianya mencapai 32 tahun. Begitulah, Grant membangun kariernya di Israel, sebelum akhirnya menangani tim terkemuka negara itu, Maccabi Tel Aviv dan Maccabi Haifa.

Setelah menjadi pelatih Chelsea, bukan berarti perjalanan karier Grant berjalan mulus. Padahal sebenarnya Grant cukup berhasil menangani "The Blues". Dari 42 kali pertandingan Chelsea, Grant dan timnya hanya mengalami empat kali kekalahan. Namun kekalahan Chelsea dari Tottenham Hotspurs pada final Piala Carling, dan juga kekalahan tim asuhan Grant mencapai babak semi final Piala Football Association (FA), membuat Grant dihujani kritik habis-habisan oleh para supporter Chelsea.

Grant lalu dibanding-bandingkan dengan Jose Mourinho. Pelatih Chelsea asal Portugal yang kemudian digantikan Grant itu, berhasil membawa "The Blues" menjadi juara di Piala Carling maupun Piala FA. Lalu apakah Grant terganggu dengan sikap para penggemar Chelsea yang membandingkan dirinya dengan Mourinho?

Jawabannya, tidak. Grant tetap fokus membina pemain-pemain Chelsea. Hasilnya sudah diketahui. Dalam pertandingan "Super Sunday" 23 Maret lalu yang melibatkan empat peringkat teratas liga utama sepakbola Inggris, Grant berhasil membuktikan dirinya sebagai pelatih yang patut disegani.

Ketinggalan 0-1 dari Arsenal, Grant lalu memasukkan Nicholas Anelka dan Juliano Belleti untuk menggantikan Michael Ballack dan Claude Makelele di menit ke-70. Kecerdikan Grant yang pandai membaca situasi di lapangan hijau, membuat Chelsea akhirnya mampu menggebrak gawang Arsenal.

Pemain Chelsea asal Pantai Gading, Didier Drogba, dibantu Anelka dan Belleti mampu dua kali membobol gawang Arsenal. Hasil akhirnya Chelsea menang 2-1.

Para Chelsea yang tadinya mengkritik habis Grant, kini balik memujinya. Sama seperti ketika dikritik, Avram Grant juga tak terganggu dengan pujian yang diterimanya. "Saya tidak mendengar pada pujian. Saya hanya fokus pada (setiap) pertandingan, dan terus berpikir mencari yang cara tepat untuk menghasilkan tiga angka penuh," ujar Grant. [berbagai sumber/B-8]


Last modified: 28/3/08