
Javier Mascherano saat diganjar kartu merah oleh wasit Steve Bennet pada pertandingan antara Liverpool melawan Manchester United. ap
erhelatan kompetisi liga utama sepakbola Inggris, Football Association (FA) Premier League, yang menghadapkan empat kesebelasan di peringkat teratas, Minggu (23/3) lalu, memang sangat seru. Hampir seminggu telah berlalu pertandingan Manchester United melawan Liverpool di Old Trafford serta pertandingan antara Chelsea melawan Arsenal di Stamford Bridge, namun masih saja ramai dibicarakan pencinta sepakbola di berbagai penjuru dunia.
Media-media Inggris maupun media olahraga - baik cetak maupun elektronik - di berbagai negara masih memasang berita lanjutan dan analisis dua pertandingan di hari Minggu yang dijuluki sebagai "Super Sunday" itu, sebagai laporan utama. Paling tidak sebagai berita yang cukup besar di berbagai media massa tersebut.
Contohnya, perilaku pelatih Liverpool, Rafael Benitez, dalam kasus dikeluarkannya Javier Mascherano, yang menyebabkan Liverpool harus bermain dengan 10 pemain dan menyerah telak 0-3 dari Manchester United. Sehari sesudah pertandingan timnya melawan United berlangsung, Benitez memang mengungkapkan kekesalannya terhadap wasit Steve Bennet yang mengeluarkan Mascherano.
"Tidak ada yang dapat mengerti (sikap wasit), hanya karena pemain itu (Mascherano, Red.) bertanya apa yang terjadi, dan sang wasit segera mengeluarkan kartu kuning kedua (dan kemudian kartu merah)," ujar Benitez.
Saat itu, Benitez mengungkapkan bahwa dirinya tak berminat untuk berbicara dengan sang wasit. "Apakah saya akan berbicara dengan wasit tersebut? Tidak. Saya rasa saya tak akan mendapatkan jawaban. Frustrasi? Saya memilih untuk tidak berkata apa pun," Benitez berkata lagi.
Namun, rupanya Benitez masih tetap tak puas dengan sikap sang wasit. Belakangan terungkap, pelatih Liverpool itu sedang mencari kesempatan untuk berbicara langsung dengan Keith Hackett, pimpinan para wasit di liga utama sepakbola Inggris itu. "Saya ingin berbicara dengan Keith Hackett karena sangat penting untuk menghasilkan suatu solusi," kata Benitez, walaupun ditambahkannya juga, "Di Liverpool kami menghargai (hasil) pertandingan melawan Manchester United, (kami juga menghargai) aturan yang ada dan menghormati wasit (yang memimpin pertandingan)."
Hackett saat ini menjabat sebagai general manager dari Professional Game Match Official Limited. Ia bertanggung jawab terhadap penunjukkan dan penugasan semua wasit di Liga Inggris. Benitez tampaknya ingin mengadu kepada Hackett tentang sikap Steve Bennet yang dianggap terlalu cepat mengeluarkan kartu hanya karena seorang pemain bertanya mengenai kesalahan yang dilakukannya, segera setelah sang wasit meniup peluit untuk menghentikan sementara pertandingan.
Benitez boleh saja berkilah begitu. Namun banyak penonton yang menganggap Steve Bennet telah menjalankan tugasnya dengan baik. Mascherano mungkin memang hanya ingin bertanya, namun sikap tubuhnya dianggap banyak orang jelas menunjukkan ancaman terhadap sang wasit. Hal itu terbukti kemudian, setelah kartu merah keluar, Mascherano masih mengejar Bennet, sehingga harus dicegah oleh sejumlah ofisial Liverpool, termasuk Benitez.
Namun serunya "Super Sunday" bukan hanya karena dikeluarkannya Mascherano, yang menyebabkan Liverpool melemah sehingga United bisa menang telak 3-0. Pertandingan itu sendiri menampilkan banyak aksi bintang lapangan. Selain kegemilangan Ronaldo, Wayne Rooney, dan Nani dari pihak Manchester United, tak bisa disangkal kehebatan penjaga gawang Liverpool, Pepe Reina, menyebabkan timnya hanya kalah 0-3.
Reina menghentikan dua tendangan Rooney di awal pertandingan. Dia juga berhasil menepis sejumlah peluang United untuk menghasilkan gol. Tak heran bila asisten pelatih Manchester United, Carlos Queiroz mengatakan, "Saya harus mengatakan penjaga gawang itu (Pepe Reina-Red.) benar-benar fantastis hari ini. Kalau bukan karena dia, mungkin kami akan mencetak hasil bersejarah melawan Liverpool."
Queiroz menambahkan, "Jadi apakah dia salah untuk dua gol pertama (Manchester United)? Ya, ada banyak kesempatan, cepat atau lambat itu akan membuat masalah (baginya). Dia mungkin harus lebih baik untuk menangkap bola, tetapi dia patut (dipuji) dari sejumlah kesempatan satu lawan satu yang berhasil diselamatkannya, dan ini bukan tanggung jawab seorang pemain saja."
Membalikkan Posisi
Kejadian yang tak kalah serunya juga terjadi di Stamford Bridge, London. Ketinggalan 1-0 dari Arsenal, tak membuat anak-anak Chelsea patah semangat. Kepandaian pelatih Chelsea, Avram Grant, dengan memasukkan Nicholas Anelka dan Juliano Belleti menggantikan Michael Ballack dan Claude Makelele di menit ke-70, membuat arus serangan berubah. Chelsea langsung menggebrak gawang Arsenal.
Bintang sepakbola asal Pantai Gading, Didier Drogba, berhasil membungkam para penggemar Arsenal. Pemain depan Chelsea itu seolah memalu gawang Arsenal dengan dua gol yang dicetaknya pada menit ke-73 dan 81. Anelka yang banyak dikritik dalam penampilan-penampilan sebelumnya, banyak berjasa membantu Drogba dan keseluruhan tim Chelsea untuk membalikkan keadaan, sehingga akhirnya menang 2-1 atas Arsenal.
Arsene Wenger, pelatih kepala Arsenal, mengakui kehadiran Anelka membuat Chelsea makin berbahaya. "Umpan-umpan panjang (Chelsea) telah membuat masalah bagi (tim) kami. Ketika Anelka masuk, hal itu membuat tim kami semakin dikepung bahaya," ujar Wenger.
Drogba semakin membuktikan dirinya sebagai pemain utama Chelsea. Drogba dipuji Grant, makin lama makin baik. "Didier tidak begitu baik ketika baru kembali dari Piala Afrika. Tetapi dia makin baik ketika (Chelsea) melawan Tottenham Hotspurs, dan hari ini dia sangat baik. Kami memang bermain baik, khususnya di babak kedua, melawan sebuah tim yang tak kalah bagusnya," ujar Avram Grant.
Kemenangan Chelsea atas Arsenal membalikkan posisi empat besar dalam liga utama Inggris. Manchester United memang masih berada di peringkat pertama dan Liverpool tetap di posisi keempat. Tetapi Chelsea kini menduduki tempat kedua, sementara Arsenal harus puas turun ke peringkat ketiga. Bila United masih kokoh di puncak klasemen dengan 73 angka, maka Chelsea mencatat 68 angka, unggul tipis dari Arsenal yang menorehkan 67 angka. Sementara Liverpool tertinggal cukup jauh dengan 59 angka, terpaut dua angka dari peringkat kelima yang kini ditempati oleh Everton.
Hasil "Super Sunday" tersebut membuat pertarungan United dengan Chelsea untuk menjadi juara liga utama sepakbola Inggris semakin seru dan sengit. Manchester United memang masih di posisi pertama dengan perbedaan lima angka dibandingkan Chelsea. Namun bukan berarti United akan mudah melenggang menjadi juara. Kesebelasan asuhan Alex Ferguson itu masih akan menghadapi lawan-lawan berat, termasuk melawan Arsenal pada 13 April dan Chelsea pada 26 April mendatang. United juga masih akan menghadapi West Ham pada 3 Mei 2008. Walaupun peringkatnya cukup jauh di bawah United, West Ham tercatat mampu menyulitkan anak-anak asuhan Ferguson pada musim kompetisi tahun ini dengan rekor 2-1 dalam tiga kali pertemuan mereka.
Sementara "The Blues" kelihatannya akan menghadapi lawan-lawan yang lebih mudah. Selain United, Chelsea hanya akan melawan peringkat kelima, Everton, pada 19 April yang akan datang. Lawan-lawan lainnya, secara "kelas" berada di bawah Chelsea. Permainan yang makin membaik dari Drogba, Anelka, Ballack, dan teman-temannya, membuat Chelsea berharap banyak dapat memetik angka penuh pada pertandingan-pertandingan berikutnya.
Bagaimana dengan Arsenal? Walaupun dalam pertandingan-pertandingan berikutnya, "The Gunners" diperkirakan mampu mengalahkan lawan-lawannya, namun usaha mereka untuk merebut gelar juara liga utama Inggris tampaknya makin sulit. Apalagi, Wenger harus memutar otak saat timnya menghadapi United pada 13 April mendatang.
Musim kompetisi ini tampaknya harus direlakan oleh Arsenal. Namun dengan perubahan beberapa pemain dan peningkatan stamina tim secara keseluruhan, beberapa pengamat sepakbola Inggris memperkirakan, Arsenal bakal menjadi "kuda hitam" yang berbahaya di musim kompetisi mendatang. [berbagai sumber/B-8]