SUARA PEMBARUAN DAILY

TOKOH MINGGU INI

Demi Kebahagiaan Rakyat

istimewaJigme Khesar Namgyel Wangchuck

Pekan ini, Kerajaan Bhutan mengakhiri satu abad pemerintahan Monarki, dengan terpilihnya seorang Perdana Menteri, yang akan mengambil alih kekuasaan pemerintahan dari raja, sesuai dengan konstitusi baru negara itu yang diajukan sendiri oleh Raja Bhutan generasi keempat, Jigme Singye Wangchuck, pada 2005.

Berdasarkan konstitusi baru itu, putra pertama Jigme Singye Wangchuck, Jigme Khesar Namgyel Wangchuck, yang kemudian diangkat menjadi Raja Bhutan generasi kelima, setelah Singye memutuskan turun takhta lebih cepat, selanjutnya hanya akan menjadi kepala negara dan menyerahkan urusan pemerintahan pada Perdana Menteri.

Jigme Khesar Namgyel Wangchuck, yang lahir pada 21 Februari 1980, merupakan anak kedua Singye, dari istri ketiganya Ashi (ratu) Tshering Yangdon. Kerajaan Bhutan sendiri dimulai sejak diangkatnya Ugyen Wangchuck (1862-1926), putera Jigme Namgyel, pemimpin pasukan Bhutan yang berhasil mengusir Inggris dalam Perang Duar dan mempersatukan Bhutan pada abad ke-15.

Penobatan Ugyen sebagai Raja Bhutan pada 17 Desember 1907, kemudian dijadikan hari nasional Bhutan oleh masyarakat Bhutan juga disebut sebagai Druk Yul atau tanah naga petir. Proses demokrasi di Bhutan telah dimulai sejak Sangye memutuskan untuk mengganti Monarki Absolut, menjadi Monarki Konstitusional pada 1998.

Sangye kemudian membuat rancangan konstitusi baru pada 2005, yang ditetapkan sebagai konstitusi Bhutan melalui referendum sebagai dasar penerapan demokrasi parlementer di Bhutan. Pada 2006, Sangye memutuskan turun takhta lebih awal pada usia 65 tahun, dengan alasan demi memberi kesempatan pada putranya belajar banyak untuk memimpin rakyatnya.

Saat pemungutan suara digelar di Bhutan, Senin (24/3), untuk pertama kalinya memilih Perdana Menteri dalam sistem Parlementer di Bhutan, masyarakat Bhutan sendiri tetap mempertanyakan keputusan untuk menyerahkan kekuasaan pada politisi. Warga Bhutan menyebut sulit membayangkan, bagaimana pemerintahan berjalan di tangan para politisi yang akan bersaing memperebutkan kekuasaan.

Kecintaan masyarakat pada raja bukan tanpa alasan. Pada 2006, pendapatan perkapita Bhutan yang luasnya 47.000 km2 atau sedikit lebih kecil dari luas Provinsi Jawa Timur yang sekitar 47.922 km2, mencapai US$ 1.400 per tahun.

Sumber pendapatan utama Bhutan berasal dari ekspor energi listrik, yang didapat dengan mengolah sumber daya air mereka. Wajar jika masyarakat Bhutan sangat menghormati kedudukan raja, yang dinilai berhasil memimpin dan menyejahterakan negara itu. Sehingga, meski kekuasaan raja telah dilimpahkan pada Perdana Menteri, namun dipercaya raja tetap akan memiliki pengaruh yang sangat kuat.

Khesar, yang ditetapkan sebagai salah satu pemimpin muda dunia 2008, oleh Forum Ekonomi Dunia (WEF) yang berbasis di Jenewa, Swiss, juga dinilai akan memberikan pengaruh yang positif dalam mematangkan demokrasi di Bhutan. Setelah menjalani pendidikan dasar di Bhutan, Khesar melanjutkan pendidikan di Phillips Academy, di Andover, Belanda.

Keshar, yang berusia 28 tahun ini, melanjutkan pendidikannya di Cushing Academy and Wheaton College di Massachusetts, Amerika Serikat (AS), serta memperdalam ilmu politiknya di Magdalen College, Oxford University, di Inggris. [B-14]


Last modified: 28/3/08