
SP/Adi Marsiela
Calon anggota Muda Wanadri berlari menuju tempat pelantikan di Kawah Upas, Gunung Tangkuban Parahu, Bandung, dalam Pendidikan Dasar Wanadri 2004.
erhimpunan penempuh rimba dan pendaki gunung Wanadri kembali mengadakan pendidikan dasar pada 12 Juli - 10 Agustus 2008. Pendidikan dasar yang diselenggarakan sebagai proses untuk menjadi anggota Wanadri itu, mengambil lokasi di Bandung dan sekitarnya.
Wanadri, seperti disampaikan Zainus Solihin (W-862 HR) dari Bidang Publikasi Wanadri, Rabu (26/3), membuka pendidikan dasar dua atau tiga tahun sekali sesuai kebutuhan. Pendidikan Dasar 2008 mencakup beberapa tahapan. Pada tahapan seleksi dan prapendidikan, calon siswa harus mengikuti tes kesehatan, tes fisik, tes psikologi, dan tes kemampuan dasar.
Siswa yang dinyatakan lolos seleksi, mengikuti tahapan pendidikan dasar di Situ Lembang selama dua minggu, meliputi pemberian materi secara teori dan simulasi tentang aktivitas di alam terbuka. Selain menjalani pelatihan fisik, mental, dan inteligensia, siswa memperoleh pembekalan rohani.
Tahapan berikut adalah praktik di lapangan yang berlangsung dua minggu. Tahapan ini meliputi materi pemanjatan tebing terjal di Citatah, olahraga arus deras di Citarum, long march di jalan raya, long march di rel kereta api, penyusuran pantai di Pantai Utara Jawa Barat, praktik gunung hutan di Gunung Burangrang, mencari dan menyelamatkan (search and rescue/SAR), dan survival.
Pendidikan Dasar Wanadri ditujukan bagi remaja atau pemuda-pemudi warga negara Indonesia yang berumur tidak kurang dari 16 tahun. Sehat jasmani dan rohani menjadi persyaratan mutlak.
"Pendaftaran dan pengembalian formulir dimulai 24 Maret sampai 24 Mei 2008. Peserta membayar biaya pendidikan dasar sebesar Rp 600.000, untuk formulir pendaftaran Rp 15.000, biaya seleksi Rp 235.000, dan biaya pendidikan Rp 350.000. Pesertanya dibatasi maksimal 150 orang," Zainus menjelaskan.
Pendidikan dasar itu diharapkan menghasilkan anggota muda Wanadri yang mempunyai dedikasi dan loyalitas tinggi terhadap perhimpunan, sesama anggota Wanadri pada khususnya, dan masyarakat luas pada umumnya. Perhimpunan penempuh rimba dan pendaki gunung tertua di Indonesia itu juga mengharapkan dapat mencetak anggota muda Wanadri yang mempunyai kemampuan tinggi dalam sikap mental, fisik, keterampilan berpikir dan bertindak, agar mampu mengembangkan diri dalam kondisi dan keadaan paling ekstrem, yang mungkin akan dialaminya sebagai konsekuensi manusia yang gemar hidup di alam bebas. "Kami juga berharap menghasilkan putra-putri Indonesia yang peka terhadap masalah kemanusiaan, alam, lingkungan dengan darma baktinya yang tanpa pamrih," ia menambahkan.
Bekas Pandu
Gagasan untuk mendirikan perhimpunan penempuh rimba dan pendaki gunung Wanadri dicetuskan oleh sekelompok pemuda yang sebagian besar sebelumnya aktif di kepanduan, pada 17 Januari 1964. Gagasan itu kemudian diresmikan pada 16 Mei 1964. Wanadri menjadi tempat berkumpul sekelompok orang yang mencintai kehidupan alam bebas.
Pendidikan dasar adalah suatu proses yang harus dijalankan demi kelangsungan organisasi agar terus berkembang. Melalui pendidikan dasar, Wanadri telah menelurkan beberapa angkatan terhitung dari tahun 1964, yakni angkatan Pendiri, Pelopor, Singawalang (laki-laki)-Srikandi (perempuan), Lawang Angin-Kayu Putih, Angin Rimba-Pendobrak, Hujan Kabut-Anggrek Liar, Tapak Rimba- Saliara, Angin Lembah-Puspa Rimba, Kabut Singgalang-Bunga Manik, Rawa Laut-Acintya Panka, Kabut Rimba-Kaliandra, Elang Rimba-Medinila, Badai Rimba-Altingia, Topan Rawa-Brugmansia, Bayu Rawa-Grenpinka, Tapak Lembah-Kayu Api, Elang Rawa-Pualam, Kabut Lembah-Kartika, Api Rawa-Puspa Kaldera, Hujan Rimba-Mutiara.
Informasi lebih lanjut dapat diperoleh di Wanadri Perwakilan Jakarta Jl Pahlawan No 12 A Kalibata Jakarta Selatan, telepon (021) 791 84012, atau Sekretariat Wanadri Jl Aceh 155 Bandung 40114, telepon (022) 4206440. [PR/A-18]