
etiap orang mempunyai selera berbeda akan film yang ditontonnya. Hobi menonton film, bisa saja menjadi berbeda untuk setiap individu. Sebab, jenis film yang beredar pun bermacam-macam. Karenanya ada yang hobi menonton film laga, komedi, animasi, horror, drama dan sebagainya. Bagaimana dengan para pehobi film kelas B? Apa itu film B?
Film kelas B atau biasa disebut dalam bahasa Inggris B- Movie, diartikan sebagai film yang dibuat dengan anggaran rendah. Pengertian ini pula yang mengindikasikan bahwa film-film berkelas B kebanyakan mengandung unsur pornografi dan kekerasan.
B-Movie berawal dari film dengan double feature yang ada di Hollywood. Double feature adalah film yang diputar di bioskop namun selalu diawali dengan pemutaran film murah atau film dengan budget rendah yang berdurasi 80 hingga 90 menit. Film murah itu biasa disebut film extra, dan berkembang menjadi film yang sekarang dikenal dengan istilah B-Movie.
Beberapa judul film Indonesia berkelas B yang terkenal di Amerika di antaranya, Lady Terminator atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan Pembalasan Ratu Pantai Selatan yang disutradarai oleh Jalil Jackson, kemudian The Devil Sword yang disutradarai oleh Ratno Timoer dan dibintangi oleh aktor laga Barry Prima dan Advent Bangun. Film-film yang dibintangi Suzanna, seperti Samson dan Delilah, Nyi Blorong, Nyi Roro Kidul, dan sebagainya termasuk pula dalam kategori film kelas B.
Ada sebuah anggapan yang mengatakan, unsur tersebut dimasukkan dengan tujuan tunggal menarik minat dan perhatian penonton untuk menonton film tersebut. Namun, dari zaman ke zaman, anggapan bahwa unsur pornografi dan kekerasan mutlak ada pada film kelas B tidak lagi dianut para penikmatnya.
Pada masa kini, penikmat B-Movie senang menonton film-film tersebut karena alasan humor khas yang terkandung di dalamnya. Untuk menonton sebuah film bergolongan B tidak diperlukan sebuah pemikiran yang rumit serta bekal pengetahuan untuk dapat mengerti arti yang terkandung dalam film tersebut.
Seorang kolektor film yang juga penggemar B-Movie, Fuat Zakiah, baru-baru ini menguraikan ketertarikannya terhadap film-film yang muncul di Indonesia pada era tahun 1980an itu. Karyawan sebuah institusi pendidikan tinggi swasta di Jakarta itu mengaku, awal mula tertarik dengan B-Movie dimulai pada 2007 lalu.
Meskipun belum lama menggemari film berkelas B, Fuat mengaku, unintentional comedy yang terkandung dalam film kelas B sangat menarik perhatiannya. Unintentional comedy yang dimaksud adalah adegan yang sesungguhnya tidak dimaksudkan untuk tujuan humor namun mampu memancing tawa penonton karena aplikasi teknologi yang masih sangat kuno untuk memunculkan efek.
Kemudian unsur fun atau kesenangan yang dapat dinikmati tanpa menggunakan logika. Hanya dengan duduk santai dan mengarahkan mata pada gambar, penonton sudah dapat menikmati kesenangan demi kesenangan yang mampu ditimbulkan sebuah B-Movie.
Salah satu alasan Fuat mengoleksi film kelas B adalah karena film-film tersebut sangat sulit didapatkan di pasaran Indonesia, bahkan dapat dikatakan tidak ada lagi. Untuk memperoleh sebuah judul B-Movie, pria berusia 24 tahun itu biasa memesan lewat sebuah situs layanan belanja asal Amerika.
Edmund, yang juga seorang kolektor DVD dan VCD film mengatakan, B-Movie adalah film yang menyenangkan dan sangat menghibur untuk ditonton karena ceritanya yang sederhana meskipun terkadang absurd. Selain itu, unsur humor yang ditimbulkan karena usaha membuat efek yang malah terlihat "culun".
Daya Pikat
Sementara itu menurut seorang sutradara muda berprestasi Indonesia yang juga merupakan penggemar berat film-film berkelas B, Joko Anwar, adalah film yang memiliki standar estetika dan teknik yang rendah namun punya daya pikat yang besar untuk para penonton.
Ia juga memberikan beberapa contoh karakter B-Movie, yaitu sebuah film yang tidak memiliki unsur pretensi dan unsur berdakwah atau menggurui seperti kebanyakan film yang beredar di pasaran akhir-akhir ini.
Sutradara yang sukses menggarap film Kala itu mengatakan, B-Movie sesungguhnya tidak dapat didefinisikan tetapi dapat dirasakan. Joko mengaku menyukai film-film berkelas B karena film-film tersebut membuatnya merasakan senandung orang-orang yang memiliki keinginan kuat untuk berbuat sesuatu yang besar namun tidak punya kemampuan. "Bagi saya, hal tersebut sangat dalam dan puitis," tandasnya.
Dalam menggarap film pun, Joko memiliki sebuah prinsip yang juga terkandung dalam B-Movie, yaitu bagaimana membuat film garapannya menjadi film yang semata-mata dapat menghibur penonton, dan tidak dipaksakan untuk menjadi sebuah karya yang kreatif. Ketika menggarap film Kala, ia juga menggunakan semangat yang ada dalam B-Movie.
Alhasil, Kala meraih predikat Best Film dalam Asian Hot Shots Film Festival di Berlin dan menjadi film yang digemari dan direkomendasikan banyak penikmat film di tanah air.
Dalam wawancara melalui telepon dengan SP, baru-baru ini, Joko yang mengagumi sutradara film B-Movie, Roger Corman, juga mengekspresikan kegembiraannya setelah mengamati perkembangan film-film masa kini yang semakin memiliki karakter B-Movie seperti film berjudul Shoot 'Em Up (2007) yang dibintangi oleh Clive Owen dan Monica Belucci.
Di tengah karakter penonton Indonesia yang menurutnya sedang dijangkiti penyakit sok mengkritik film seolah-olah seperti seorang ahli film, perkembangan film berkarakter B-Movie adalah suatu hal yang sangat baik menurutnya.
Hal tersebut untuk menyadarkan para penonton Indonesia bahwa untuk menjadi penonton yang baik tidak perlu terlihat pintar dan gengsi untuk mengakui keindahan B-Movie.
Menurutnya, menjadi seorang pecinta B-Movie adalah sesuatu yang justru membanggakan dan tidak perlu ditutup-tutupi atas nama gengsi. "Karena pada dasarnya, seorang penikmat film dapat dikatakan sejati apabila ia mampu menikmati dan mengakui kelebihan B-Movie," ujarnya. [WWH/N-5]