SUARA PEMBARUAN DAILY

Kembali ke Masa Lalu

Foto-Foto : SP/Ignatius Liliek, Repro Dok Sinematek Indonesia

Bioskop Orion, di Glodok, Jakarta.

Beberapa hasil jepretan kamera berwarna hitam putih tampak silih berganti di dinding ruangan Galeri Cipta 3, Taman Ismail Marzuki. Gambar-gambar gedung bioskop Tanah Air berpuluh tahun lalu itu ditayangkan bergantian melalui proyektor yang diletakkan tak jauh dari pintu masuk sebuah pameran bertajuk Sejarah Bioskop.

Beberapa partisi tinggi berwarna putih juga berdiri menampilkan pajangan-pajangan artikel berita tentang film di Indonesia dari tahun ke tahun dan membentuk sekat-sekat di dalam ruangan. Tulisan-tulisan berukuran besar memenuhi setiap permukaan partisi dengan judul-judul yang menarik mata.

Pameran Sejarah Bioskop yang dibuka pada Jumat (14/3) lalu adalah salah satu rangkaian program hasil kerjasama Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dengan Kineforum dalam rangka Bulan Film Nasional yang bertajuk Sejarah adalah Sekarang.

Bukan hanya gedung bioskop, tetapi juga ada foto-foto yang menggambarkan sistem penjualan tiket yang loketnya tidak semewah dan senyaman sekarang. Jauh sebelum Cineplex 21 mewarnai bisnis sinema di Indonesia.

Pameran yang akan berakhir Minggu (30/3) tersebut menampilkan foto bioskop Menteng, Megaria yang dahulu bernama Metropole di tahun 1984.

Kemudian gambar sistem penjualan tiket di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, lalu Teater Djakarta, yang sekarang sudah beralih menjadi 21 Cineplex dengan nama yang sama, Djakarta Theater, dan masih banyak lagi.

Artikel-artikel yang dipamerkan adalah kumpulan dari beberapa buku, surat kabar, dan situs yang seluruhnya memberitakan tentang naik-turunnya perjalanan film Indonesia, sejak permulaannya di Indonesia pada tahun 1900 sampai dengan tahun 2008.

Iklan film Loetoeng Kasaroeng di Bioskop Elita, Bandung.

Seperti artikel yang diambil dari sebuah buku yang ditulis oleh Budi Santoso, diawali pada 5 Desember 1900, film pertama kali diputar di suatu rumah di kawasan Kebon Jahe, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Film yang diputar saat itu adalah sebuah film bisu hitam putih tentang kedatangan Sribaginda Maharatoe Olanda bersama dengan Jang Moelja Hertog Hendrik ke kota Den Haag. Film-film yang diputar pada awal mula berdirinya bioskop lebih mengarah pada tayangan berita atau pengetahuan.

Pada tahun 1900-an pula, sebuah artikel menuliskan kelas-kelas yang membagi para penonton bioskop. Mulai dari kelas loge (istimewa) yang terdiri dari orang-orang Eropa berkulit putih, sampai dengan kelas kambing.

Disebut kelas kambing karena diisi oleh orang-orang pribumi muslim yang mayoritas berjenggot.

Kelas-kelas yang membagi para penikmat film pada tahun 1900 juga diikuti dengan jam pemutaran film. Waktu pertunjukan yang akhirnya dipilih oleh pengelola di Kebon Jahe adalah jam tujuh malam, dengan alasan agar sepulang menonton bioskop, orang-orang masih bisa berjudi dan menonton pertunjukan sandiwara kegemaran di tempat lain.

Selain itu, sejarah perkembangan bioskop di Indonesia juga mencatat klasifikasi penonton berdasarkan film yang diputar dengan dan tanpa sensor.

Film yang diputar dengan sensor dikenal dengan nama Sortie.

Disebut demikian karena film yang diputar adalah gabungan film-film yang menjadi pendek karena telah disensor. Sortie diperuntukkan bagi orang-orang pribumi. Foto-foto lama yang menuturkan tentang sejarah bioskop itu menjadi bahan dokumentasi yang bernilai. [WWH/N-5]


Last modified: 28/3/08