SUARA PEMBARUAN DAILY

Lebih Demokratis dan Terbuka

Judul: Hartini Hartarto dan Reformasi Dharma Wanita

Penulis: Carmelia Sukmawati

Penerbit: Yayasan PIDI, Jakarta

Tebal: 202 halaman

Cetakan: Februari 2008

Masih menarikkah berbicara tentang Dharma Wanita? Kenapa tidak, selama banyak pelajaran yang bisa dipetik di dalamnya. Terjadinya reformasi Mei 1998 mengakibatkan pemerintahan Orde Baru berakhir. Dampaknya, semua yang terkait dengan Orde Baru mendapat sorotan, tidak terkecuali Dharma Wanita. Sebagai ketua umum, Hartini Hartarto berusaha menyelamatkan organisasi ini dengan melakukan reformasi. Banyak anggota mendukung, hingga lahirlah Dharma Wanita Persatuan.

Organisasi Istri Pegawai Negeri Sipil Republik Indonesia, itu pun berganti nama. Peristiwa itu terjadi lebih sewindu yang lalu, dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Dharma Wanita, tanggal 7 Desember 1999. Dimotori oleh Ketua Umum Dharma Wanita masa itu, Hartini Hartarto, organisasi ini melakukan reformasi diri hingga melahirkan Dharma Wanita Persatuan (DWP). Dengan mengusung nama baru, visi dan misi organisasi disesuaikan menjadi lebih demokratis dan terbuka. Jika dahulu Dharma Wanita kental dengan muatan politik, setelah menjadi Dharma Wanita Persatuan, organisasi istri PNS ini netral dalam politik bahkan mengarah lebih independen.

Kalau pada masa selama Orde Baru ketuanya harus istri Menteri atau pejabat tertentu, kini dipilih secara demokrasi. Perbedaan bukan semata-mata pada penambahan kata persatuan. Ada esensi berbeda antara keduanya yang terletak pada visi dan misi. Selain itu, struktur organisasi Dharma Wanita Persatuan lebih simpel, demikian seperti dikutip dalam buku ini. Pembauran pada tubuh anggota jelas melibatkan juga generasi muda yang juga terpanggil dari dirinya tanpa ada unsur keterpaksaan.

Istilah Two In One mungkin layak ditujukan pada buku ini, karena memaparkan dua topik berbeda yang saling berkait. Yang pertama tentang perjalanan reformasi Dharma Wanita. Dalam buku ini diuraikan secara gamblang tentang upaya keras serta tarik ulur yang dilakukan hingga akhirnya dengan dukungan Ibu Negara pada masa itu, Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, terbentuklah Dharma Wanita Persatuan. Dengan membaca bagian ini, pembaca akan mengetahui bagaimana spirit reformasi yang diharapkan bisa diterapkan dalam organisasi ini pasca reformasi.

Perjalanan kehidupan Hartini Hartarto sebagai ketua Dharma Wanita terakhir di era Orde Baru juga bisa dibaca dalam buku ini. Hartini tumbuh menjadi anak yang berani dan tegas. Hartini yang berlatar belakang keluarga menak tapi kurang suka dengan istilah itu, pada masa remaja justru bertemu pria berdarah biru, Hartarto Sastrosoenarto. Dengan bahasa yang ringan yang tampilan halaman variatif, kisah kehidupan Hartini dan sejarah leluhurnya dipaparkan di sini. Terlahir sebagai anak dari ayah, R Didi Soekadi yang merupakan tokoh pergerakan sekaligus tokoh pers di Tanah Air, karena tahun 1932 telah menerbitkan Koran bernama Oetoesan Indonesia. Sempat dipaparkan bagaimana riwayat koran ini yang mungkin tidak banyak diketahui oleh insan pers saat ini.

Adanya dokumentasi koran itu di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta, secara tidak langsung telah menunjukan eksistensi surat kabar itu pada masanya. Atas jasa ayah dari Hartini, selain penghargaan melalui Keputusan Presiden sebagai anggota Konstituante, Pemerintah Kota Sukabumi memberikan nama jalan RD Sukardi dan pada Mei 2007, didirikan paviliun rumah sakit di Rumah Sakit Syamsudin SH dengan nama Paviliun D Sukardi. Kenangan perjuangan ayahanda tercinta pun dapat kita baca dalam buku ini. Sehingga, inilah yang makin membuat jiwa kepemimpinan Hartini terpancar dan rasa cinta tanah air yang mendalam tumbuh subur. [Ernie S Pingkan, pencinta buku]


Last modified: 28/3/08