
Judul Buku: 99 Keistimewaan Gus Dur
Penerbit: Kultura, Jakarta
Penulis: KH A Nur Alam Bakhtir
Editor: Zamzami, M Si
Cetakan: Pertama, Februari, 2008
Tebal Buku: 170 halaman
enjelang Pemilu 2009 suhu perpolitikan di Indonesia kian memanas. Kita lihat saja ulah KH Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur seringkali melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversial. Misalnya, baru saja Gus Dur menyatakan akan mengepung bersama rakyat Garda Bangsa NU jika Gus Dur dicekal dalam pemilu 2009 mendatang. Mantan Presiden RI Ke-4 ini akan dicalonkan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Gus Dur merupakan salah satu tokoh politik, cendekiawan dan ulama yang memiliki pengaruh besar di tubuh organisasi masyarakat (Ormas) Islam di dalam warga Nahdlatul Ulama (NU), yang juga memiliki karakter dan perilaku cukup nyleneh serta sepak terjang dalam perpolitikannya cukup banyak, membuat resah dan takut lawan-lawan politiknya.
Buku yang ditulis KH A Nur Alam Bakhtir berjudul 99 Keistimewaan Gus Dur ini pada dasarnya ingin membicarakan sisi keunikan dan keistimewaan selama perjalanan hidup dan karier politiknya terhadap pola dan sikap perilaku Gus Dur yang tidak konsisten. Melalui sikapnya, dia begitu berani mengambil keputusan dalam setiap kebijakan pemerintah. Meski bertentangan dengan banyak pihak dan berisiko bagi jabatannya. Akan tetapi, kebijakan tersebut tetap dilakukan oleh Gus Dur.
Pertanyaanya kemudian adalah kenapa KH A Nur Alam Bakhtir dalam judul buku ini menggunakan angka 99 dan apa hubungannya dengan keistimewaan Gus Dur? Angka 99 merupakan nama Asmaul Husna (nama-nama Tuhan yang baik). Angka 9 dikenal dengan "raja" yang mempunyai beberapa kelebihan. Begitu pula, dengan sikap dan perilaku Gus Dur juga banyak memiliki nilai-nilai yang baik bagi kepentingan masyarakat dan bangsa Indonesia.
Pemahaman Mendalam
Keistimewaan Gus Dur adalah ia menguasai dengan fasih dan aktif empat bahasa asing. Selain itu, Gus Dur dapat membaca dengan baik tiga bahasa asing lainnya. Lebih dari itu, sebagaimana ditulis oleh Greg Barton dalam karyanya "Biografi Gus Dur". Gus Dur memiliki pemahaman yang mendalam tentang kebudayaan-kebudayaan yang relevan dengan ketujuh bahasa asing tersebut (hlm: 152).
Selain itu, Gus Dur adalah orang yang memiliki sense of humor yang tinggi, toleran terhadap semua agama, kritis terhadap siapa saja, banyak berkunjung dan dikunjungi, sangat pemaaf terhadap orang yang mencacinya, menjadi pemrakarsa berbagai forum nasional, cendekiawan moralis, memuliakan ulama dan penebar tokoh Islam yang telah wafat, berani mengatakan yang haqq, kezuhudannya teruji, Husnuzhan kepada siapa pun serta sangat menghargai perbedaan, serius memperjuangkan tegaknya syari'at Islam, pejuang demokrasi sejati, sabar menghadapi fitnah, mempunyai bargaining position yang tinggi, inspirator yang mencerdaskan, konsisten dengan konsep persaudaraan, sangat tajam indera keenamnya, sangat teguh memegang prinsip kebenaran, membuat NU lebih berwibawa, berjiwa pluralis, piawai memberikan kritik melalui humor, mencintai sesama dan pahlawan penyelamat bangsa.
Gus Dur juga dikenal sebagai tokoh kharismatik yang tidak sekadar dikarenakan dirinya merupakan keturunan "darah biru" atau cucu dari KH Hasyim Asyari (dari jalur ayahnya) dan KH Bisri Sam- suri (dari jalur ibunya). Kharisma Gus Dur lebih dikarenakan keistimewaan, kemampuannya yang luar biasa dan kontribusinya yang demikian besar untuk kepentingan umat manusia. Salah satu koleganya, Sarwono Kusumaatmadja pernah mengatakan kepada media bahwa "Gus Dur" itu kalau ngomong, orang ngertinya satu dua bulan lagi." Ternyata, apa yang diucapkan Gus Dur, pada akhirnya terbukti. Meskipun pada awalnya orang- orang tidak menggubris atau bahkan mencemoohnya (hlm: 83).
Di sisi lain, keunikan Gus Dur adalah melalui perilakunya yang sering berbeda dengan kebiasaan orang pada umumnya dan paradigmanya yang jauh ke depan. Anggapan orang-orang yang dekat dengan Gus Dur, ia mengetahui sebelum kejadian itu terjadi dan akhirnya Gus Dur dianggap sebagai seorang Waliyullah. Hal itu juga pernah dikatakan oleh pengamat politik Indonesia, William Liddle yang mempunyai organisasi massa paling berwibawa. Dalam konteks ini, Gus Dur juga mempunyai kualitas moral dan spritiual yang tinggi untuk mengemban ajaran Islam demi mengantarkan kemajuan bangsa Indonesia ke depan.
Buku ini adalah kumpulan tulisan KH. A. Nur Alam Bakhtir, seorang da'i yang kini memegang jabatan di DPRD DKI Jakarta dan sebagai Dewan Syura DPW PKB DKI Jakarta. Ia adalah Ketua Badan Kehormatan DPRD DKI Jakarta (mewakili Partai Kebangkitan Bangsa), Anggota Komisi A (Bidang Pemerintahan) Penasihat Fraksi Kebangkitan Reformasi. Ia juga sebagai anggota Majelis Dewan Kehormatan Pusat Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi). [Syahrul Kirom, pencinta buku]