SUARA PEMBARUAN DAILY

Sajak Dadan Suwarna

Matamulah

matamulah yang memijarkan sumbu-sumbu harapan

terpiara. cahaya menerangi langkah

menyisakan celah bagi lorong yang terserah

kupuja kelopak mata dan sungging

yang terpahat atas rekah

dari apakah kerjap tercipta

dan gaduh berdegup sepanjang dada?

*

Memandangmu

aku memandangmu dengan patahan kata

yang rapuh menyusun kekuatan

jemari asa

aku memandangmu dengan mata berkabut

di hadapan lelehan genang

memahatkan hakikat ada

*

Sejarah Kebenaran

lapisan debu mengawetkan jasad

seseorang yang meregang, kebenaran abadi

diacuhkan tangan yang setia menyalin nama

kemanusiaan tahun-tahun yang tersengal

tahun-tahun kenyataan yang kuasa

pecahan kaca memercik muka

kebenaran pun berkibar di luar jendela

dengan hujan dan darah yang kian tumpah

kata-kata merenggut hidup jari terkepal

urat-urat masa silam pembalasan

terbalaskan

hidup memecah kepala

membenturkan keyakinan di gerbang kaca

*

Kehilangan

bagi e.

dan jemari yang letih

menjangkau semburat warna

di lengkung langit jingga

berjatuhan kubang asa

*

Anak Panah

aku hanya terserah perjalanan takdir

ketika jari memilih suratan cahaya

tangan menawarkan tumpuan rencana

hidup adalah huyung mata

yang awam menghimpun hasrat kala

kususuri lorong bagi titian

juga perjalanan asa buta

maka daun-daun yang menyongsong ajal kehidupan

seiring ranting yang hujam

labuh di masa silam

aku pun memuja kelahiran tiada

*

Puing-puing Rangka

ada puing-puing rangka yang gagal mendirikan hunian rencana

tahun-tahun seperti patahan ranting

yang lepuh menopang keinginan asa

bilik keyakinan yang mungkin menampung kehangatan

adalah juga yang letih menegakkan pilihan-pilihan gamang

kucatat kemudian namamu dalam lembar-lembar sengal

hanya itu yang mengguratkan usia

menguapkan pondasi keheningan

beribu kali, tangan kejang dan pikiran menerawang

*

Perjalanan Bumi Kita

bagi erf

bumi adalah jemari yang tersiram nyala

mengelus helai rambut

dan harapan meledakkan kenyamanan

memecah urat saraf impian

yang telanjur kau salurkan menghadap kenyataan

tariklah ke ruang kaca; napas yang berbenah

jadi pangkal angin mengembara

ketika nyala menghanguskan rangka impian

dan tungku disiapkan

asamu menghembus titik nyala

*


Last modified: 28/3/08