
Oleh Lila Fitri Aly
erasaan Anya tak menentu ketika kembali ke ibukota. Puluhan tahun yang lalu dia harus keluar dari Jakarta, berpindah dari satu kota ke kota lain, bersembunyi di satu kenalan ke kenalan lain.
Sejak saat itulah tak pernah ada lagi rasa aman dalam dirinya. Hanya ketakutan yang ada, apalagi kalau harus tampil di depan umum. Ia nyaris tak punya kepercayaan diri.
Kembali ke Jakarta, berarti ia harus berani membiarkan dirinya dililit kenangan lama. Bayangan masa muda yang penuh kobaran cinta, gairah hidup, cita-cita, dan impian datang silih berganti. Matanya membasah. Butiran-butiran air mata itu terus jatuh sepanjang tahun.
Puluhan tahun Anya memendam rindu dan kesepian. Ia memiliki anak-anak yang mencintainya. Ia pernah punya suami, namun hidupnya sunyi.
"Anya, dunia sudah berubah, keluarlah dari persembunyianmu. Marilah kita ketemu teman-teman lama kita," bujuk Astuti. Dulu, mereka adalah wartawan-wartawan muda yang penuh semangat. Setelah peristiwa '65, keadaan berubah total. Mereka berpisah, tanpa tahu di mana rimbanya, kini bertemu kembali.
"Lain kali saja Tut, aku belum siap," jawab Anya lirih. Anya masih tetap takut, walaupun era telah berubah.
Astutilah yang membawanya kembali ke dunia nyata. Ia memperkenalkannya kembali pada sastra dan jurnalistik. Bahagia menyelimuti Anya. Rasa hausnya akan dunia intelektual terpuaskan. Selama ini ia terpasung dalam belenggu hidup.
"Kamu masih ingat Mario?" bisik Astuti. Jantung Anya berdebar kencang. Mario adalah laki-laki dari masa lalunya.
"Ingat tidak?" ledek Astuti. Anya hanya tersenyum saja. Banyak kenangannya bersama Mario. Situasi politik yang tak kondusif di masa itu membuat mereka harus berpisah.
Keduanya menjadi dekat karena sama-sama mencintai sastra. Komunikasi mudah terjalin karena keduanya berasal dari keluarga yang berpendidikan.
Ketika cinta mulai semakin mendalam, tiba-tiba Mario sadar siapa Anya. Gadis ini anak seorang tokoh partai yang cukup punya nama. Ia baru teringat kalau orangtuanya selalu mengingatkannya agar ia tak berhubungan dengan kelompok kiri itu. Keluarga Mario punya dendam besar pada kelompok ini yang telah memotori perampasan tanah-tanah mereka atas nama rakyat kecil.
Mario berasal dari keluarga tuan tanah yang kaya raya. Di samping punya banyak tanah, mereka memiliki beberapa penggilingan padi. Mereka adalah keluarga pedagang sejak dari generasi ke generasi. Jiwa kewirausahaan ini pula yang sangat menonjol pada Mario. Ia tak tertarik pada politik. Dunia bisnis lebih menantangnya. Sejak awal, ia telah merintis penerbitan buku-buku.
Anya dibesarkan dalam rasa kebangsaan yang tinggi. Semangat perjuangan ayahnya untuk membela rakyat kecil mempengaruhinya. Tak heran kemudian dia menjadi wartawan. Media diyakini bisa dijadikan alat perjuangan untuk pengentasan persoalan bangsa. Namun bisa dipastikan, ketika itu, baik Anya maupun Mario tak punya sikap politik.
Ketika sama-sama sadar akan latar belakang keluarga masing-masing, mereka banyak berdiam diri.
"Anya, haruskah kita berpisah karena persoalan keluarga?" tanya Mario. Suasana kota ketika itu terasa kacau, tegang dan jauh dari rasa aman. Para jenderal baru saja terbunuh.
"Aku tak bisa menjawabmu, Mario," jawab Anya serak. Di satu sisi, dia begitu mencintai Mario, tetapi di sisi lain ia tahu bahwa keluarga Mario tak merestuinya. Ayahnya, iapun yakin pasti menentangnya. Mereka alergi pada tuan tanah yang feodal.
"Apakah kita lari ke luar negeri saja?" tanya Mario. Tawaran ini keluar begitu saja dari bibirnya sebagai refleksi atas kebingungannya.
Anya tak menjawabnya. Ia tahu itu bukan solusi. Mario sendiri menyadarinya. Di awal tahun '66, mulai banyak jatuh korban. Keamanan keluarga Anya mulai terusik. Mereka harus keluar dari Jakarta.
Dalam perjalanan, Anya harus berpisah dengan kedua adiknya. Kemudian, ia harus melepaskan pula kedua orangtuanya. Anya dititipkan pada tantenya. Namun Anya tak bisa lama tinggal di situ demi keamanan.
Anya mencari penghidupan baru. Namanya pun terus berubah-ubah. Ia tak punya identitas diri. Anya menetap di sebuah kota, setelah seorang laki-laki menyuntingnya.
Anya menikah untuk sebuah perlindungan. Si wartawan perempuan itu menikah dengan tanpa gelora cinta. Hingga usai upacara pernikahan ia masih mengenang Mario.
Suaminya tak tahu identitas dirinya. Anya pun tak berniat membongkarnya. Tak ingin menuai persoalan baru. Biarlah dirinya terkubur dalam masa lalu. Menjadi istri Parto adalah identitas barunya.
Mas Parto adalah pedagang ikan asin. Persoalan bangsa tak pernah menjadi perhatiannya. Hidupnya hanya berkisar antara makan, cari uang, dan tempat tidur. Anya, si mantan wartawan, yang dibesarkan dalam keluarga terdidik harus menjalankan hidup semacam ini. Namun ia bertekad untuk tegak, karena tetap bermimpi bisa bertemu dengan keluarganya. Namun sampai sekarang tak ada sepotong berita didengarnya tentang mereka.
Belakangan Anya merasa sangat letih dan tak sehat. Dia tak mampu meladeni suaminya lagi di tempat tidur. Apalagi, dia tak pernah punya pembantu di rumah. Semua pekerjaan harus ditanganinya sendiri, walaupun anak-anak membantu.
Anya tak sanggup lagi meladeni gairah suaminya. Akhirnya, ia membiarkan Parto menikah lagi. Dia ingin bebas. Di usianya yang tak muda lagi, Anya ingin istirahat.
"Anya, kau harus datang kali ini. Mario akan datang sebagai pembicara. Dialah yang menerbitkan buku kumpulan cerpen yang pernah dimuat di koran kita dulu. Karyamu juga ada di buku itu," kata Astuti penuh semangat.
"Ada karyaku? Siapa yang menyimpannya?" tanya Anya terkejut. Hatinya tergetar. Ia terkenang masa lalunya. Betapa ia sangat senang menulis fiksi.
"Sudah, sudah, tak usah tanya, datang saja. Mau kan?" desak Astuti.
"Ah, aku tak mau datang, aku malu, aku sudah tua," jawab Anya lemah.
"Malu, malu. Malu sama siapa. Mario konglomerat sekarang. Belum tentu dia ingat sama kamu kok. Usaha penerbitannya meraksasa sekarang," tutur Astuti bersemangat. Anya terus bergulat dengan pikirannya.
Dengan kemeja putihnya, dia usia 65, Mario kelihatan gagah dan matang ketika bicara di depan forum. Wajahnya segar dan banyak menebar senyum. Dia adalah profil orang sukses. Tanpa sadar Anya terus memandangnya, dan rupanya Mario membalasnya. Anya menjadi tersipu dan salah tingkah. Padahal ia sengaja duduk di barisan paling belakang.
"Benarkah kamu, Anya temanku dulu?" sapa Mario ketika acara ramah tamah berlangsung. Anya sedang bersiap-siap pulang. Ia memang mau menghindar dari Mario.
"Kamu Anya kan?" tanya Mario lagi, ketika tak mendapat reaksi dari perempuan tua itu.
"Maaf, maaf, ya, betul saya Anya," balas Anya tergagap.
"Masih kenal aku kan?" tanya Mario lembut. Anya membuang wajahnya ke tempat lain.
"Sebentar ya Pak, aku ada keperluan lain," kata Anya seraya pergi.
"Anya, aku ini Mario. Kamu tak lupa kan," kejar Mario. Langkah kaki Anya menjadi tertahan.
"Ya, ya," jawab Anya tergagap. Matanya membasah.
"Kalau kenal, kenapa kamu tak menegurku?"
"Ya betul," jawab Anya singkat.
"Anya, kamu dulu kan seorang wartawan yang hebat, penulis fiksi yang handal. Aku rindu karya-karyamu. Bikinlah novel, biar aku yang menerbitkannya," katanya bertubi-tubi.
Hati Anya tersentuh melihat kejujuran Mario. Laki-laki itu tak berubah, tak pernah sombong, walaupun telah menjadi orang kaya.
"Terima kasih, Mario. Aku bahagia mendapat apresiasi darimu," ucap Anya tergetar. Lega dadanya. Bongkahan beban yang selama ini ditanggungnya mendadak ringan. Anya seperti bangkit dari sebuah kematian. Ia seperti berada di dunia baru.
"Anya ke mana kamu selama ini?" Mario bertanya. Hati Anya semakin diaduk-aduk mendengarnya. Tak disangkanya ia masih bisa merasakan keindahan ini.
Untuk beberapa menit, keduanya dibungkam dalam diam. Pandangannya Anya semakin kabur. Hanya singkat pertemuan itu. Anya pamit pulang. Ia bertekad akan memenuhi permintaan Mario. Sebuah novel harus dilahirkan. Mungkin inilah satu-satunya peninggalannya, yang bisa memberi arti bagi hidupnya, sebelum kematian menjemputnya.
Jakarta, Mei-Juni-Desember 2007