SUARA PEMBARUAN DAILY

Harga Padi Anjlok, Petani Sedih

SP/M KIblat Said

H Nyonri (65), Ketua Kelompok Tani Sunggumanai Desa Palangga, Gowa, Sulsel, Jumat (28/3) memperlihatkan padinya yang sudah kering dan siap panen. Untuk mendapatkan harga yang layak, ia mengajak petani binaannya tak terburu-buru menjual gabah ke pedagang pada saat gabah sedang melimpah.

[KEDIRI] Para petani padi yang tengah panen di wilayah Indonesia, antara lain di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Sulawesi Selatan (Sulsel), Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Jawa Timur (Jatim) sedih dan makin menderita. Itu terjadi karena harga gabah makin anjlok dalam sepekan terakhir, kini harganya mencapai Rp 1.600 per kilogram (kg).

Seperti yang dialami petani padi di daerah Kediri, Jatim. Para petani di wilayah tersebut kelimpungan, setelah harga gabah kering giling (GKG) merosot menjadi Rp 1.600 di bawah harga pembelian pemerintah sebesar Rp 2.000 per kg. Cuaca buruk dan panen raya bersamaan menjadi penyebab harga gabah terus merosot, kata Nurhadi, petani asal Kecamatan Pagu, Kediri, Jatim, kepada SP, Sabtu (29/3) pagi.

Jatuhnya harga gabah terjadi sejak dua minggu lalu. Sebelumnya harganya Rp 1.900 terus merosot sehingga saat sekarang menjadi Rp 1.600 per kg. Sedangkan, akibat cuaca buruk menyebabkan petani melakukan panen dini, sehingga mutu padi menurun. Dalam kondisi cuaca buruk, hasil panen menurun, katanya.

Pada musim panen sebelumnya setiap satu hektare (ha) sawah produksinya 5-6 ton, kemudian turun menjadi 4 ton per ha. Jika hasil panen mencapai 4 ton per ha, dengan harga gabah Rp 1.600 per kg, uang yang dihasilkan menjadi Rp 6,4 juta. Setelah dikurangi dengan pembelian bibit, biaya perawatan, ongkos buruh tani maka keuntungan petani sangat tipis. Itu kalau sawah miliknya sendiri. Jika sewa, jelas petani rugi besar, katanya.

Sementara itu, pemantauan SP di salah satu sentra produksi padi di Desa Palangga, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, Sulsel, Jumat, ditemukan harga gabah fluktuasi dari Rp 1.800 per kg hingga Rp 1.900 per kg gabah kering panen (GKP).

Sampara (43), petani di desa itu mengaku, dengan harga gabah di bawah HPP Rp 2.000 per kg, sulit untuk mendapatkan keuntungan.

Gabah yang diperoleh dalam setiap musim panen sekitar 5,5 ton per ha. Kalau harga gabah Rp 1.800 per kg, hanya memperoleh nilai jual Rp 9,9 juta. Dari hasil itu, Sampara mendapat bagian sekitar Rp 4,9 juta, jumlah tersebut belum dikurangi biaya produksi yang harus ditanggungnya, yakni harga pupuk urea, TSP, Za, NPK dan ongkos buruh panen dan transportasi yang ditaksir sebesar Rp 1,8 juta.

Bantuan Bibit

Dengan demikian, hasil bersih yang dapat dinikmati setiap musim panen hanya sebesar Rp 3,1 juta. Masih untung ada bantuan bibit Ciherang sebanyak 30 kg dari petugas pertanian.

Menurutnya, untuk menaikkan harga jual gabah yang telah dibeli dari petani harus dijemur kembali dan dibersihkan, setelah itu dijual ke H Mustari, pemilik penggilingan padi yang menjadi mitra Bulog dengan harga sebesar Rp 2.050 per kg.

Sementara itu, H Nyonri (65), Ketua Kelompok Tani Sunggumanai Desa Palangga yang memimpin anggota 25 orang dan memiliki areal persawahan seluas 34 hektare (ha) mengatakan, melepas gabah saat sekarang ini memang sulit untuk mendapatkan harga yang layak.

Sementara itu, petani penggarap asal Banguntapan, Bantul, DIY, Purwanto mengatakabn, dari sawah seluas satu ha, dia berhak mendapatkan 2,5 ton gabah kering yang harus dibagi dua dengan kawannya. "Setelah jadi uang, saya dapat Rp 2 juta. Itu dalam waktu empat bulan kerja," katanya.

Dengan turunnya harga gabah, Purwanto mengaku memilih jual beras. Sebab penghasilannya lebih baik.

Lain lagi dengan Mbok Pujiah (56) warga Kasihan Bantul. Dengan penghasil-annya yang pas-pasan dari memetik padi di sawah, dia mengaku banyak meluangkan waktunya di pasar be- kerja sebagai buruh gendong. [080/133/152/148/149]


Last modified: 29/3/08