![]()
SP/Fuska Sani Evani
Warga Kasihan, Bantul, Karyo Utomo (80), merontokkan padi dengan cara tradisional yakni menggilas padi dengan kakinya. Hal itu diyakini demi mengurangi kerugian jika dilakukan dengan mesin perontok padi.
[YOGYAKARTA] Bupati Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Idham Samawi menyayangkan sikap Bulog dalam hal pembelian gabah petani. Kriteria kadar air 14 persen tidak realistis, sementara petani sendiri tidak pernah mengerti apa yang dimaksud dengan kadar air tersebut.
"Kami mensinyalir, perlakuan Bulog itu hanya demi memperlancar kinerja para mitranya, namun mengesampingkan kepentingan petaninya. Kami sanggup kok beli gabah petani Rp 2.100 per kilogram (kg) dan itu tanpa syarat. Semua bisa masuk," kata Idham, Jumat (28/3) di Yogyakarta.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul tidak akan menerapkan kriteria pembelian gabah petani seperti Bulog.
"Ini susah diterima, masa mau menjual gabah, seorang petani harus membawa gabahnya ke laboratorium dulu, baru bisa diterima. Dan kalau tidak memenuhi kriteria, gabah petani itu akan dibeli jauh di bawah harga pembelian pemerintah (HPP). Kita tidak mau ini terjadi, meski sekarang musim panen raya, pemerintah tetap harus berpihak pada petani," katanya.
Tidak Tertipu
Pemkab tidaklah mungkin membeli seluruh hasil petani Bantul yang diperkirakan akan menembus 60.000 ton. Dengan sistem pembelian oleh pemerintah di masa panen raya ini, adalah salah satu cara agar petani tidak tertipu oleh para tengkulak.
"Di kabupaten Bantul kita beli gabah petani lebih tinggi dari HPP yaitu Rp 2.100 per kg. Itu kita ambil berdasarkan perhitungan analisis usaha petani," katanya.
Yang penting, pemerintah menggugah kesadaran petani agar tidak menjual gabahnya di sawah dengan sistem ijon dan tebas oleh para tengkulak. "Saya pikir petani kita sekarang pintar dan lebih memilih menjual beras dari pada gabah," katanya.
Idham mengusulkan ke pemerintah pusat agar, memperhatikan kearifan lokal di masing-masing daerah. [152]