[JAKARTA] Pada pemilihan umum (pemilu) 2009, Partai Golkar bertekad untuk menang dengan cara-cara yang jujur. Partai Golkar tidak ingin memenangkan pemilu mendatang dengan kekuatan "wasit atau penonton".
Hal itu diungkapkan Ketua Umum DPP Partai Golkar M Jusuf Kalla saat membuka seminar Undang-undang Politik menyongsong pemilu 2009 yang aspiratif dan demokrasi, di Jakarta, Kamis (27/3). Seminar yang diikuti 24 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar dan anggota KPU itu diselenggarakan oleh DPP Partai Golkar.
Jusuf Kalla yang juga Wakil Presiden RI mengibaratkan penyelenggaraan pemilu sama seperti sebuah pertandingan sepak bola. Pada pertandingan tersebut terdapat pemain, wasit, panitia, dan penonton. Karena itu, setiap yang terlibat, khususnya, para pemain dalam pertandingan tersebut harus mengetahui peraturan-peraturan yang ada.
"Partai Golkar tidak ingin memenangkan pertandingan dengan kekuatan wasit atau penonton. Kami ingin memenangkan pertandingan dengan aturan yang ada dan tentunya dengan jujur. Kami akan menghindari hal-hal yang melanggar," ujar dia.
Kalla juga mengatakan jika dalam pertandingan tersebut para pemain tidak mematuhi peraturan, akan sering terjadi pelanggaran-pelanggaran. Kalla menginginkan pemilu 2009 berlangsung secara jujur, adil, dan sederhana.
Sederhana yang dimaksud adalah tidak perlu memakai anggaran yang cukup besar. Ia mengaku sempat kaget ketika KPU mengajukan anggaran sebesar Rp 48 triliun. Dia mengungkapkan dengan jumlah tersebut, pemilu di Indonesia merupakan pemilu yang paling mahal di dunia.
"Saya sempat menanyakan salah satu pejabat di Malaysia bahwa pemilu di sana hanya membutuhkan dana sekitar Rp 500 miliar. Padahal, kalau kita mau irit, paling hanya sepuluh triliun rupiah," kata dia.
Sementara itu, Ketua DPP Partai Golkar Muladi yang bertindak sebagai pembicara kunci mengatakan Partai Golkar berpandangan bahwa sudah cukup masa transisi demokrasi yang berjalan selama sepuluh tahun. [M-16]