iklus hidup bagi Sari, janda kembang berusia 22 tahun kelahiran Jember, Jawa Timur, sudah terbalik tiga ratus enam puluh derajat. Bagaimana tidak, bagi kebanyakan orang, siang adalah waktu untuk bekerja dan berkarya, dan malam waktu untuk beristirahat, tetapi bagi Sari, siang adalah waktu untuk istirahat. Sore hari hingga dini hari justru dia bekerja. Tiga tahun sudah, Sari merantau ke Ibukota. Di sini, ia mengadu nasib ke sana ke mari hanya untuk menghidupi putri semata wayangnya yang sudah menginjak kelas dua SD di kampungnya. Tuntutan hidup dan garis tangan memaksa dia bekerja sebagai wanita penghibur.
Wanita yang mengaku indekos di sekitar Jalan Pramuka, Jakarta Timur itu menuturkan, setiap hari berangkat kerja sekitar pukul 13.00 WIB dengan menggunakan ojek yang disewa bulanan. Profesinya sebagai wanita penghibur menuntutnya sudah harus siap-siap di kantornya sekitar pukul 14.00 WIB, melayani para lelaki yang haus akan hiburan. "Sebenarnya jam segitu masih sepi, tetapi gimana, Mami yang minta harus stand by, ya harus ikut," katanya.
Para tamu biasanya baru datang ke sauna tempatnya bekerja pada jam setelah kantor tutup, tepatnya pukul 18.00 WIB. "Sebelum tamu-tamunya tiba, biasanya saya dan teman-teman mengisi waktu dengan berdandan, nonton, ngerumpi dan ada juga yang main biliar, supaya enggak bosan," katanya.
Bila tamu-tamu sudah berdatangan, Mami biasanya menyuruh mereka duduk di tempat yang sudah disediakan atau kadang kala dipanggil berkenalan dengan calon pengguna jasa. Dalam semalam, kadang kala dia harus menemani tiga hingga empat orang tamu terus-menerus hingga pukul 23.00 WIB. Setelah itu, dia baru berbenah, sambil menghitung berapa tips yang diberi setiap orang tamu padanya. Sebagian dari tips tersebut digunakan untuk membayar sewa kos, membeli pakaian, dan tidak lupa disisihkan untuk si buah hati dan orangtuanya.
Untunglah, sang tukang ojek langganan selalu menjemputnya pada sekitar pukul 01.00 WIB, sehingga dirinya merasa aman dari ancaman-ancaman tindak kriminalitas. "Praktis, saya baru sampai ke kos dan istirahat pada subuh hingga siang hari," ungkapnya pasrah. Kendati irama hidup yang dijalani tidak normal, dia mengaku terpaksa menjalani profesi yang dia sadari penuh dengan dosa. Itu dilakukannya hanya untuk si buah hati.
Sari mengaku hatinya sering tersentuh ketika mendengar lagu yang didendangkan penyanyi kondang Titik Puspa, berjudul "Kupu-kupu Malam". Dalam salah satu syairnya berbunyi, "Dosakah yang ia kerjakan, sucikah mereka yang datang." Tetapi di lain sisi, ia terhibur dan harapan untuk kembali ke dunia yang nyata menguat ketika mendengar lagu dari kelompok Java Jive berjudul "Gadis Malam", yang dalam syair penutupnya mengajak "Tuk kembali pulang ke dunia yang hilang". [SP/Budi TP]