SUARA PEMBARUAN DAILY

Jam Malam Diberlakukan di Baghdad

AFP/Ali Yussef

Sejumlah pemuda melihat mobil yang hancur akibat bom mobil di Baghdad, Irak, Kamis (27/3). Dalam kejadian ini dua orang meninggal.

[BAGHDAD] Komando militer Baghdad memberlakukan jam malam di ibu kota Irak tersebut, Kamis (27/3) malam, sebagai upaya membendung pertikaian sengit antara milisi-milisi Syiah dengan pasukan keamanan.

Tidak ada kendaraan, sepeda motor, atau pejalan kaki diperbolehkan melintasi jalan-jalan di seantero Baghdad tanpa izin dari pukul 23.00 waktu setempat, Kamis malam, hingga pukul 05.00 waktu setempat Minggu pagi.

Berita pemberlakuan jam malam di Baghdad disiarkan stasiun televisi milik Pemerintah Irak. Jam malam itu diumumkan hanya berselang satu jam sebelum diberlakukan.

Pemberlakuan jam malam ditempuh militer Irak seiring memuncaknya kemarahan para pendukung ulama radikal Syiah Muqtada al-Sadr atas operasi militer yang ditempuh Pemerintah Irak terhadap milisi Tentara Mahdi yang dipimpinnya di Basra, pelabuhan minyak yang berada di wilayah selatan Baghdad.

Operasi-operasi keamanan yang dilancarkan pemerintahan al-Maliki menyulut protes dan bentrokan mematikan di Baghdad hingga meluas ke seantero wilayah selatan yang merupakan basis Syiah.

Perdana Menteri Nouri al-Maliki, dalam sebuah pernyataan Kamis (27/3), mengatakan ia menempuh operasi militer untuk mengatasi geng-geng kriminal. Al-Maliki juga bersumpah tidak akan menghentikan peperangan hingga kekerasan di Basra, kota terbesar kedua di Irak, bisa diakhiri.

"Kami telah memikirkan masak-masak untuk melancarkan peperangan ini. Dan kami akan terus berperang hingga akhir. Tidak ada kata mundur," kata al-Maliki pada para pemimpin suku di wilayah Basra dalam sebuah pidato yang disiarkan secara nasional di stasiun televisi Pemerintah Irak.

"Irak telah menjadi negaranya para geng, milisi, dan para pelanggar hukum," kata al-Maliki. Ia mengatakan misi bersejarah dilakukan ke Basra untuk memulihkan ketertiban hukum di wilayah itu.

Sebaliknya, para pendukung al-Sadr menuduh faksi-faksi Syiah lain yang merupakan seterunya dan kini memegang kendali atas pasukan keamanan Irak, telah mendalangi penangkapan-penangkapan terhadap para pengikut al-Sadr untuk menghalangi mereka agar tidak dapat melakukan kampanye efektif menjelang digelarnya serangkaian pemilu tingkat provinsi pada musim gugur mendatang.

Gencatan senjata yang disepakati Tentara Mahdi tak urung terancam kandas akibat bentrokan yang semakin memanas di Basra serta mengarah pada eskalasi kekerasan secara dramatis setelah selama sebulan situasi di kota industri minyak tersebut relatif tenang.

Didesak Mundur

Sementara itu, ribuan demonstran menuntut al-Maliki segera mundur. Desakan disampaikan di tengah terus berlangsungnya tembakan-tembakan roket tanpa henti yang dilancarkan milisi al-Sadr ke Green Zone, kompleks Pemerintahan Irak dan perwakilan asing yang dijaga ketat pasukan AS.

Di Kazimiyah, kawasan permukiman di Baghdad, ribuan pendukung al-Sadr mengecam al-Maliki sebagai diktator baru. Mereka berdemonstrasi sembari membawa peti mata yang ditempeli gambar perdana menteri dukungan AS tersebut. Ribuan orang juga berdemonstrasi di Kota Sadr, distrik Syiah terbesar di Baghdad.

Al-Sadr, selaku pemimpin milisi Syiah, menyerukan agar solusi politik dikedepankan guna mengatasi krisis yang semakin memanas. Al-Sadr, dalam pernyataan yang disampaikan dari Najaf, mengatakan solusi politik sangat dibutuhkan agar pertumpahan darah antarsesama warga Irak dapat segera diakhiri.

Tetapi, al-Sadr dalam pernyataan yang disampaikan pembantu dekatnya, Hazem al-Aaraji, tidak menyerukan perintah bagi milisi Tentara Mahdi yang dipimpinnya agar segera menghentikan serangan-serangan ke Green Zone maupun untuk mengakhiri peperangan di Basra.

Di tengah upaya keras Irak dan AS mengatasi letupan kekerasan baru di Irak, Departemen Luar Negeri AS memerintahkan seluruh personil di Kedubes AS agar tidak meninggalkan Green Zone untuk mengantisipasi berlanjutnya serangan roket dan mortir yang terjadi akibat kemarahan ekstrimis Syiah pascaberlangsungnya operasi militer. [AP/AFP/E-9]


Last modified: 27/3/08