SUARA PEMBARUAN DAILY

Sinetron Mendominasi Pilihan Pemirsa Anak

dok tpiSinetron ÒKisah NyataÓ

[JAKARTA] Tayangan di stasiun televisi merupakan jendela utama bagi anak-anak mendapatkan informasi, pengetahuan, dan hiburan. Terbukti, berdasarkan penelitian AGB Nielsen jumlah pemirsa anak di semua paruh waktu pada 2008 bertambah rata-rata 11-15 persen dibandingkan 2007. Pertambahan jumlah pemirsa anak tertinggi sampai 15 persen ada di pukul 18.00 WIB sampai 21.00 WIB.

Hasil Penelitian AGB Nielsen sampai Maret 2008, menunjukkan jumlah penonton anak lebih tinggi dibandingkan pemirsa dewasa. Jam-jam yang didominasi oleh anak-anak yakni pukul 06.00-10.00 WIB dan pukul 12.00-21.00 WIB.

Menurut AssociateDirector Marketing dan Client Service AGB Nielsen Media Research Hellen Katherina, anak-anak menghabiskan waktunya selama tiga jam per hari untuk menonton televisi. Sayangnya, dari tiga jam waktu yang dihabiskan hanya 20 menit saja dipakai untuk menonton program anak-anak.

"Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu menonton sinetron selama 50 menit daripada tayangan anak-anak atau pengetahuan. Ditambah lagi, kebanyakan stasiun TV menayangkan sinetron remaja atau orang dewasa. Jadi mau tak mau anak-anak terpaksa ikut menonton," papar Helen kepada SP, Kamis (27/3).

Tayangan anak adalah acara yang disiarkan khusus untuk anak-anak berusia 5 sampai 14 tahun. Aktris dan aktor yang terlibat dalam tayangan baik sebagai pemain atau pembawa acara juga harus berusia sama dengan penontonnya. Sayangnya dalam kenyataan banyak tayangan anak yang justru dibawakan oleh orang dewasa. Sebaliknya tayangan orang dewasa justru ditonton oleh anak-anak.

Jumlah kepermirsaan anak juga lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Pada prime time (jam tayang utama) jumlah pemirsa anak mencapai 1,47 juta anak dari total 42,6 juta orang yang menonton TV. Bahkan berdasarkan survei di 10 kota besar termasuk DKI Jakarta, persentase jumlah penonton anak mencapai 21 persen sementara jumlah penonton dewasa hanya 10,1 persen.

Tidak hanya jumlah pemirsa anak yang bertambah, program jam tayang anak juga ikut bertambah di beberapa stasiun TV nasional. Penambahan jam tayang program anak rata-rata dua jam per hari. Stasiun TV yang paling banyak menambahkan jam tayang yakni AnTV dari rata-rata satu jam menjadi empat jam untuk program kartun anak. Program anak di stasiun TV lokal Space Toon juga bertambah dari rata-rata 12 jam menjadi 15 jam per hari.

Lebih Murah

Namun, penambahan program tayang anak-anak masih didominasi oleh acara impor yang notabene lebih murah daripada program lokal. Program impor yang ditayangkan kebanyakan kartun, seperti Spongebob Squarepants the Movie yang hadir di RCTI. Khusus untuk program lokal, anak-anak lebih menyukai program yang dikemas dalam bentuk entertainment seperti Idola Cilik (RCTI), Pilih Dua Bintang (Indosiar), Soccer Boys (Trans7).

"Khusus untuk stasiun TV Trans7 memberikan porsi 39 persen untuk anak-anak dari total jam tayang program lokal," kata Hellen.

Sementara itu bila dilihat dari kebiasaan menonton anak-anak terdapat perbedaan 30 menit antara anak-anak kelas menengah atas dan bawah. Anak-anak dari golongan kelas menengah bawah lebih lama menonton 30 menit daripada anak di kelas menengah ke atas. Sementara untuk kategori program informasi, anak-anak menengah atas menghabiskan waktu 18 menit dan anak-anak kelas bawah hanya 16 menit.

Anak-anak kelas menengah atas lebih selektif menonton program yang sesuai dengan usianya dan lebih variatif. Sementara anak-anak dari golongan ekonomi menengah bawah tayangan sinetron menjadi pilihan utama.

"Dari pendidikannya saja sudah berbeda antara anak menengah atas dan menengah bawah. Anak-anak golongan atas sibuk dengan aktivitas sekolahnya, dan bila menonton didampingi orangtua sehingga tayangannya lebih terjamin," lontar Hellen.

Ditambahkan Hellen, program anak produksi lokal yang mulai marak tetap belum mampu merebut pemirsa anak. Waktu menonton anak-anak lebih banyak dipakai untuk menonton acara sinetron, film kartun yang justru tidak layak untuk mereka, dan musik. Karenanya peran orangtua masih sangat dibutuhkan ketika sang anak berada di depan TV.

"Anak-anak jangan dilepas di depan TV sendirian, orangtua harus mendampingi. Kalau perlu anak dan orangtua bisa memilih tayangan TV bersama yang bisa menimbulkan interaksi aktif," tambahnya. [EAS/U-5]


Last modified: 28/3/08