SUARA PEMBARUAN DAILY

Menjaga Unsur Tradisi di Setiap Sentuhan Arsitektur

Arsitektur memegang peranan penting dalam menyusun karakter dan pribadi bangsa. Bangunan menjadi bagian dari konstruksi sosial budaya yang menyusun fisik kota, dan wajah bangsa. Arsitek diharapkan mampu menangkap jiwa tradisi untuk menghasilkan karya-karya yang bermartabat bagi bangsa Indonesia.

Budayawan, Romo Mudji Su- trisno mengungkapkan hal itu pada seminar dan diskusi "Refleksi Peran Arsitek Indonesia di dalam 100 Tahun Komitmen Kehidupan Berbangsa dan Bernegara," di Jakarta, baru-baru ini.

Mudji mengatakan, idealisme arsitek, khususnya arsitek alumni Universitas Indonesia (UI), selama seratus tahun terakhir jauh lebih kuat dibanding kelompok-kelompok arsitek lain. "Saya mengenal beberapa alumnus UI, sebagian bahkan dekat sekali dan terbukti, mereka tidak mau kompromi soal idealisme dengan pihak yang tidak berpihak kepada rakyat," katanya.

Selama rentang waktu itu pula, para arsitek UI telah membentuk ke-Indonesia-an yang jenius lokal. Di tangan arsitek, lokalitas itu dikolaborasikan dengan yang baru menjadi sesuatu yang modern.

Budayawan yang juga dikenal sebagai aktivis politik itu mengingatkan dalam membangun karya modern, arsitek harus melihat lingkungan sekitar. "Mereka ikut dalam kelompok zamannya, saya rasa pengenalan mengenai ekologi dan lingkungan kanan-kirinya itu masih harus," katanya.

Dikatakan, karya arsitek UI angkatan 1982, Yori Antar adalah satu dari beberapa contoh karya yang mampu menangkap jiwa tradisi dan sosial. Rumah yang dirancang Yori tahun 1993 di Desa Silu dan Obeola, Timor Barat berangkat dari budaya lokal serta memanfaatkan material di lingkungan sekitar. Atapnya menggunakan ijuk, sebagaimana atap rumah tradisional setempat ume k'bubu. Selain karya Yori, karya alumni UI lain yang dinilai memiliki perspektif sosial adalah desain seperti Jalan Salib di Manado, menara Maluku, dan rumah untuk narkoba.

Pada diskusi itu, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Budi Sukada mengatakan, kecenderungan arsitektur yang semakin trendi adalah hal yang membahayakan. Akibatnya, masyarakat menilai bangunan yang baru seumur jagung dianggap kuno, ketinggalan zaman.

"Arsitektur menjadi fashionable, setelah dua, tiga tahun orang cepat bosan dan ingin mengganti, padahal bangunan tidak dapat diganti begitu cepat, itu bahayanya," kata Budi.

Selain itu, Budi mengatakan, komitmen para arsitek selama seratus tahun terakhir pada dasarnya tidak mengalami perubahan. Namun, kondisi dan situasi yang dibuat sedemikian rupa oleh pemerintah menjadikan arsitek seperti berdiri di persimpangan jalan.

Pemerintah menjadikan Indonesia sebagai tempat yang paling enak dan tepat untuk memasukkan ide-ide baru, padahal belum tentu cocok bagi Indonesia. [SYH/N-4]


Last modified: 28/3/08