
SP/Ruht Semiono
Sebuah tokoh wayang Betawi dibuat menyerupai Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo dalam pergelaran wayang golek betawi di Warung Apresiasi, Bulungan, Jakarta Selatan, Kamis (27/3). Dalang Tizar Purbaya mementaskan lakon "Si Manis Jembatan Ancol", yang merupakan rangkaian acara seni pertunjukan tradisional setiap Kamis-Malam dan akan berlangsung setiap minggu terakhir bulan.
"Puaaasss...!" Itulah sepenggal kata yang diucapkan Yanusa Nugroho, cerpenis dan pencandu wayang usai pementasan wayang golek lenong Betawi dengan dalang Tizar Purbaya di Warung Apresiasi (Wapress) Bulungan, Jakarta Selatan, Kamis (27/3) malam.
anusa sendiri adalah penggagas pementasan wayang golek Betawi dengan lakon "Si Manis Jembatan Ancol, legenda Betawi yang sudah dikenal masyarakat luas. Pementasan itu menjadi awal Program Kama (Kamis Malam) yang merupakan ide Yanusa untuk menjadikan hari Kamis malam pada setiap akhir bulan sebagai hari pementasan seni-seni tradisional di Wapress Bulungan.
Sukses. Itulah yang kata yang tepat diberikan pada pementasan perdana seni tradisional Program Kama ini. Di hadapan sekitar 50 pengunjung yang tidak dipungut biaya tiket, Tizar tidak saja membuat seluruh penonton tertawa terbahak-bahak, tetapi juga kagum dengan inovasi dan kreativitasnya.
Pementasan "Si Manis Jembatan Ancol" berdurasi 120 menit dengan dua episode tersebut didominasi lelucon-lelucon segar, baik lelucon yang sedang tren saat ini maupun lelucon ala Betawi, layaknya berbalas pantun.
Setiap adegan diiringi gambang kromong yang terdiri atas alat musik kendang, gambang, gong, bonang, peking, terompet, dan kohyan, serta dua penyanyi perempuan yang bergantian menyanyikan lagu-lagu Betawi klasik seperti Dayung Sampan, Sirih Kuning, dan Jali-Jali.
Lelucon itu pulalah yang dijadikan dalang kawakan kelahiran Banten tahun 1950 ini, untuk mengkritisi kondisi politik dan ekonomi bangsa Indonesia saat ini. Jika pada wayang kulit dari Jawa Tengah tokoh yang menggelitik adalah Punakawan, Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong, atau pada wayang golek Sunda dengan tokoh Cepot-nya, maka pada wayang golek Betawi ini, tokoh sentral yang berdialog (antawacana) dan bergerak menghibur penonton adalah Ciblek dan Uja. Tetapi, tokoh-tokoh lainnya juga mampu menyegarkan pertunjukan karena kebolehan sang dalang dalam memainkan kalimat-kalimat yang lucu.
Sebut saja, adegan adu tebak-tebakan dengan taruhan antara Ciblek dengan Uja. Yang menarik, Uja ternyata pintar dan mampu berbahasa Inggris. Dia selalu menang dibanding Ciblek yang bersekolah di bawah pohon bambu dan hanya bisa berbahasa Betawi. Dari sekian banyak tebak-tebakan yang menggelitik adalah ketika Uja menanyakan bahasa Mandarin orang naik ojek. Ciblek tidak bisa menjawab dengan alasan, jangankan bahasa Mandarin, bahasa Inggris saja dia tidak bisa. Jawaban dari tebakan Uja itu adalah "Bon-ceng-an" (maksudnya boncengan).
Lelucon yang tidak kalah segarnya adalah ketika terjadi dialog antara tokoh wayang seorang anak bertelanjang dada dengan sebuah layang-layang yang disangkutkan di punggungnya dengan tokoh wayang Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo.
Memukau
Fauzi yang semula gusar dengan banjir yang selalu melanda Jakarta di kala musim hujan, menanya cita-cita Entong, karena di siang bolong Entong bukan sekolah tetapi malah mencari layang-layang.
Adegan demi adegan yang ditampilkan bukan saja membuat penonton tertawa, tetapi juga tertegun dengan kemampuan teknik wayang golek kreasi Tizar yang mampu menampilkan figur nyata layaknya orang hidup.
Selain mata yang berkedip atau mulut yang terbuka ketika berucap, boneka kayu tersebut juga bisa mengisap rokok dan mengeluarkan asap rokok dari mulutnya. Bukan itu saja, seorang pembantu Abah Acim, ayahnya Maria yang kemudian menjadi "Si Manis Jembatan Ancol", yaitu Dona juga bisa menari "ngebor" gaya Inul Daratista atau menari "patah-patah" ala Anissa Bahar.
Dengan kreasi dan inovasi yang ditampilkan Tizar tersebut, para penonton tidak terlalu hanyut dengan jalan cerita "Si Manis Jembatan Ancol", karena perhatian mereka sudah tergoda dan terpana dengan dialog serta permainan wayang golek oleh sutradara yang sudah mendalang di beberapa negara ini.
Setelah pementasan, Tizar pun mendemonstrasikan aksi boneka kayunya itu bisa mengeluarkan asap rokok dari mulutnya, tangannya putus, muntah mi, dan lain-lain. "Inilah wayang golek Betawi hasil penemuan saya di tahun 2001. Kehebatan wayang golek saya ini tidak kalah dengan wayang-wayang lainnya," katanya.
Tizar menambahkan, di rumahnya masih banyak tersimpan bentuk-bentuk wayang golek Betawi ciptaannya. "Ya, kalau ada sponsor yang mau menyelenggarakan pementasan wayang golek Betawi, saya akan menampilkan lakon Beningnya Hati Seekor Macan. Cerita dari lakon itu adalah mengenai lingkungan hidup," ujarnya. [F-4]