SUARA PEMBARUAN DAILY

Menyimak Perkembangan Genre dan Selera Penonton

MD EntertainmentFilm ÒD.OÓ.

MVP PicturesFilm ÒAyat-ayat CintaÓ.

Tak dimungkiri, genre horor adalah lokomotif perfilman nasional abad ke-21. Sejak itu, produksi film dan variasi genre memang makin beragam. Alih-alih, semarak fenomena komedi seks, genre religi menyalip di tengah persaingan. Mungkinkah melahirkan epigon dan berumur panjang?

Tanggal 30 Maret, 58 tahun lalu, Usmar Ismail memulai syuting film Long March (Darah dan Doa). Film yang kemudian menjadi tonggak sejarah perfilman tanah air. Hari pertama syuting film itu dijadikan Hari Film Nasional, dan Usmar Ismail dinobatkan sebagai Bapak Film Nasional. Perjalanan selama 58 tahun sarat dengan suka dan duka. Film Tanah Air harus jatuh-bangun. Setelah 58 tahun pula kondisi film kita tetap rentan.

Mungkin saat ini kita bisa menarik napas lega melihat kondisi perfilman tanah air. Setelah mati suri dalam waktu yang cukup panjang -12 tahun-, perlahan-lahan sejak 2004 lalu film-film lokal berhasil menarik minat para penonton Indonesia. Rumah-rumah produksi pun gencar mengangkat tema lokal. Sejak 2004 hingga 2007, produksi film nasional naik dua kali lipat setiap tahunnya. Pada tahun 2007, tercatat 77 judul film yang didaftarkan untuk diproduksi. Tahun 2008 ini pun diprediksi akan diproduksi lebih dari 150 judul, bahkan ada yang memperkirakan hingga 200 judul.

Meskipun produksi film lokal saat ini sedang gegap gempita, tetapi kelambanan di sejumlah sisi juga masih terasakan. Seperti misalnya masalah revisi Undang-Undang Perfilman tahun 1992 yang sampai kini belum dibahas oleh anggota dewan, masalah sensor, perlindungan kerja yang lebih baik bagi para pekerja film, dan sebagainya.

Tidak hanya itu, dari sisi kualitas film yang dihasilkan, film-film tanah air pun terasa lambat jika dibandingkan dengan persaingan film global film internasional -Hollywood khususnya. Untungnya sebagian penikmat film tanah air masih bisa maklum, mereka menyesuaikan harapannya saat menonton film lokal dan film asing. Namun akan sampai kapan mereka merelakan permakluman itu, jika saingan film-film global sangat deras.

Keunggulan film tanah air adalah kedekatan cerita yang diangkat dalam setiap filmnya. Kisah-kisah film tanah air lebih bisa diterima dibanding dengan kisah-kisah yang diangkat film-film Hollywood. Namun sayangnya ada fenomena latah dalam memproduksi film-film tanah air. Dalam beberapa tahun terakhir genre film yang ditawarkan cenderung seragam.

Tengok saja, dekade 90-an kondisi film Tanah Air dibombardir dengan film bertema esek-esek. Jejak film bertema buka-bukaan ini mungkin bisa ditelusuri pertama kali lewat film Pulau Cinta produksi PT Inem Film pada 1979. Selanjutnya pada dekade 90-an film sejenis ini sangat menjamur. Tentu saja alasan "permintaan pasar" yang dijadikan acuan untuk memproduksi film jenis ini.

Berikutnya, pada tahun-tahun belakangan muncul kembali keseragaman genre horor. Di mulai keberhasilan film Jelangkung yang dibuat oleh Rizal Mantovani dan Jose Poernomo, banyak rumah produksi yang membuat tema seperti ini. Puncaknya pada libur Idul Fitri 2007 lalu, sejumlah jenis hantu bergentayangan di bioskop kita. Meskipun sejumlah insan film, seperti Garin Nugroho, sering kali mengkritisi kecenderungan keseragaman tema ini, film horor terus diproduksi.

Di tengah marak genre horor belakangan ini, muncul film Nagabonar Jadi 2 dan Get Married. Film Naga Bonar Jadi 2 yang menyisipkan rasa nasionalisme ini berhasil menarik perhatian penonton tanah air. Film ini berhasil bertahan lebih dari sebulan di bioskop Tanah Air. Kesuksesan film ini pun memotivasi produksi film-film komedi lainnya, seperti Quikie Express dan sebagainya.

Film komedi dengan kemasan "becandaan orang dewasa" pun mulai marak. Tema-tema seperti dalam film Extra Large; Antara Aku, Kau, dan Mak Erot, pun mulai bertebaran.

Namun yang paling baru adalah fenomena munculnya tema drama cinta yang sarat nuansa religius seperti yang dituangkan dalam film Ayat-Ayat Cinta. Film yang berdasarkan novel dengan judul yang sama karangan penulis Habiburahman El Shirazy ini berhasil menarik perhatian penonton Indonesia.

Kesuksesan film ini pun membuat rumah produksi Sinemart untuk memproduksi karya El Shirazy yang lainnya, Ketika Cinta Bertasbih. Bahkan manajer Habiburahman El Shirazy menceritakan tujuh buku yang dikarang oleh Kang Abik -panggilan akrab Habiburahman- itu sudah dijajaki untuk diangkat ke layar lebar.

Bisa jadi tema ini adalah genre baru di dunia perfilman tanah air drama religius. "Sebuah karya Islami adalah karya yang seluruh isinya sesuai dengan nilai-nilai agama yang diajarkan. Tidak harus dengan banyak adegan baca Al Quran, salat, atau sebagainya. Yang penting ruhnya sesuai dengan ajaran Islam," ujar Habiburahman dalam sebuah perbincangan belum lama ini.

Sutradara Chaerul Umam menceritakan sebuah film Islami tidak hanya berkisah tentang tema Islam, tetapi seluruh bagian film harus juga sesuai dengan ajaran Islam. "Seperti contoh ada adegan mesra antara pasangan suami-istri. Ini suami istri loh, tapi tetap saja adegan mesra itu harus dibuat sesuai dengan ketentuan yang ada," sebutnya.

Menurut Umam sulit untuk menentukan apakah fenomena Ayat-Ayat Cinta bisa menjadi titik tolak munculnya genre baru dalam perfilman tanah air, karena sebelumnya juga sudah ada film-film yang mengangkat tema religi. Namun untuk kisah drama percintaan yang bernapas religi, saat ini memang masih langka.

Menurut Umam jika nanti terbentuk penggemar setia terhadap drama religi maka bisa disebut muncul genre baru. Tetapi jika hanya sekedar numpang lewat saja, mungkin akan sama dengan tema-tema yang lainnya.

Melihat kecenderungan keseragaman tema ini memang menarik. Dari ribuan folklor dan cerita rakyat yang berkembang di Indonesia, sedikit sekali yang diangkat ke atas layar. Dari ribuan kisah kepahlawanan yang ada di Indonesia, sedikit sekali yang dipilih produser untuk diangkat menjadi film. Padahal tugas utama insan film saat ini adalah menjaga agar film kita tidak mati lagi. [SP/Kurniadi]


Last modified: 28/3/08