[JAKARTA] Kepanikan Bank Sentral AS (The Fed) saat krisis subprime mortage mengguncang ekonomi AS dinilai membawa pengaruh buruk bagi perekonomian AS dan dunia. Reaksi panik The Fed justru membuat publik panik, dan memperparah situasi.
Demikian dikatakan ekonom dari John Hopkins University Steve Hanke dalam diskusi The US Federal Reserve's Role in the International Financial Crisis di Jakarta , Kamis (27/3).
"Amerika tidak siap dengan resesi. Bahkan, Washington kerap menyangkal ekonomi AS yang sedang dalam kondisi perlambatan. Hal ini menandakan AS tidak siap dengan resesi," ujar Hanke.
Tidak hanya itu, sambung Hanke, kebijakan yang diambil pemerintah AS dinilainya sering kali tidak tepat sasaran. Dia mengambil contoh ketika dolar AS anjlok tahun 2001 lalu. Saat itu, Washington bukannya mencari solusi mengatasi turunnya dolar, tetapi justru "sibuk" dengan Tiongkok. Pemerintah AS terlalu memandang Tiongkok sebagai ancaman. Akhirnya mengabaikan jalan keluar yang sesuai dengan persoalan sesungguhnya.
"Tetapi, sekalipun dolar AS kini lemah dan euro menguat, dolar AS akan tetap menjadi mata uang utama dunia. Banyak negara-negara di dunia masih menggunakan mata uang tersebut sebagai pertukaran bersama," ucap Hanke.
Namun, pernyataan Hanke itu ditampik oleh Peter F Gontha, salah satu panelis dalam acara diskusi tersebut. Menurut Peter, meski dolar AS masih menjadi primadona dalam pertukaran uang, kondisinya tidak akan selalu begitu.
"Situasi ini bisa berubah bila kondisi mata uang tersebut tidak lagi menjanjikan. Nantinya, saya percaya, ekonomi AS ke depan akan terpengaruh dan banyak pasar akan beralih dari pasar ekonomi AS ke negara-negara lainnya," tutur Peter.
Dampak dari persoalan di atas, dan ketidaksiapan Amerika dengan resesi, berpengaruh negatif terhadap sektor perekonomian di banyak negara-negara dunia. Tidak hanya Indonesia, tapi juga seluruh negara-negara lainnya.
Di Indonesia, perlambatan ekonomi AS ikut memberikan sumbangan terhadap gejolak ekonomi yang terjadi di Tanah Air. Ditambah lagi dengan persoalan harga komoditi dunia termasuk minyak mentah yang cukup tinggi. Akhirnya, terjadi tekanan terhadap sejumlah harga bahan pangan dan memberi kontribusi pada tingginya laju inflasi.
Sementara di Singapura, Korea, Taiwan, Filipina dan Malaysia, perlambatan ekonomi AS dan resesi yang dialami Amerika berdampak pada kegiatan ekspor barang-barang elektronik mereka. Aktivitas keuangan di Singapura dan Hong Kong juga mengalami gangguan. [CNV/M-6]