
[JAKARTA] Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memotori solidaritas dunia untuk mengatasi kenaikan harga minyak dunia yang juga menyebabkan meningkatnya harga pangan. Sebab tanpa ada upaya konkret, krisis pangan dunia ini akan memukul perekonomian negara-negara, terutama negara-negara berkembang.
"Di luar energi dan gas, harga pangan melonjak tinggi. Bahkan satu studi mengatakan hanya dalam beberapa bulan, harganya melambung 40 persen lebih tinggi ditambah dengan fenomena gejolak keuangan global yang tampaknya sekarang masih terus berjalan dan kita tidak tahu seberapa luas dampaknya dan siapa yang menjadi korban," kata Yudhoyono kepada wartawan di depan ruang kerjanya, Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (27/3).
Sementara itu, Kamis (Jumat pagi WIB) harga minyak kembali melonjak tinggi akibat kekhawatiran tentang ketatnya pasokan dipicu berita bahwa penyabot telah meledakkan sebuah pipa saluran ekspor minyak Irak, kata para pedagang.
Kontrak utama New York, minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman Mei naik US$1,68 menjadi US$ 107,58 pada penutupan perdagangan. Dalam perdagangan harian sempat mencapai US$108,22
Di London, minyak mentah jenis brent north sea untuk pengiriman Mei naik US$1,01 pada US$105 per barel dan sempat mencapai US$105,60 .
"Kombinasi dari kecenderungan melemahnya dolar AS dan pengetatan pasokan menjadi pendorong para investor kembali ke pasar," kata Mike Fitzpatrick, seorang analis MF Global.
Harga minyak, yang telah melambung pada Rabu didorong melemahnya kembali dolar dan laporan cadangan energi AS yang bullish, kembali naik pada Kamis setelah terjadi sebuah serangan pada salura pipa utama minyak Irak.
Satu dari dua pipa utama ekpor minyak Irak dekat kota Basra diledakkan oleh penyabot pada Kamis, kata seorang juru bicara untuk Southern Oil Company.
Dua pertiga produksi minyak Irak berasal dari ladang-ladang minyak di selatan dan dialirkan melalui Basra. Sekitar 90 persen ekspor minyak Irak transit di kota pelabuhan tersebut, akses satu-satunya ke teluk.
Sangat Terpukul
Presiden Yudhoyono juga menyerukan kepada para pemimpin dunia untuk juga sangat serius, tidak kalah seriusnya seperti membahas perubahan iklim, mengatasi masalah kenaikan harga pangan ini. Sebab pangan dan energi, menurut dia, menyangkut kehidupan semua bangsa.
Dengan harga pangan yang begitu tinggi dan harga minyak yang meroket seperti ini, negara-negara yang belum berkembang akan sangat terpukul dan akan mengganggu millennium development goals. "Cita-cita kita, cita-cita PBB untuk mengurangi kemiskinan sejagat ini menjadi separuhnya dalam kurun waktu 15 tahun sejak tahun 2000 sampai 2015," lanjut Presiden.
Dia berharap PBB mengambil langkah-langkah yang proaktif, di samping upaya untuk memperkuat kerjasama global menghadapi perubahan iklim, untuk betul-betul menggalang kesadaran dan tanggungjawab kerjasama global agar dapat mengelola ekonomi dunia dan ekonomi semua negara akibat kenaikan harga minyak dan harga pangan.
Menurut Yudhoyono, tidak adil rasanya kalau keadaan kenaikan harga minyak dan pangan ini dibiarkan terus karena banyak negara dan umat mausia di dunia ini akan menanggung penderitaan yang berlebihan akibat kesulitan ekonomi yang dialami dunia. [A-21/AFP/Ant/M-6]