
Oleh Debora Basaria Hutabarat, MPsi
ada dasarnya setiap orangtua yang memiliki anak berharap anak mereka tidak mengalami masalah apa pun baik dari segi fisik, kognitif, emosi, maupun perilaku di dalam tahapan perkembangannya. Orangtua menginginkan anak mereka memiliki fisik yang sempurna, kemampuan berpikir yang baik, kematangan secara emosi, dan dapat menunjukkan perilaku yang diharapkan.
Namun ketika anak tidak menampilkan hal yang tidak sesuai dengan harapan oleh orangtua, dengan mudah orangtua melihat ada yang berbeda dari sang anak dibandingkan dengan anak yang lainnya. Dengan kata lain, orangtua akan melihat adanya permasalahan pada diri sang anak dan berpikir bahwa sang anak kemungkinan me- merlukan terapi ataupun treatment untuk mengatasi permasalahannya.
Sebenarnya jika dipikirkan secara lebih mendalam lagi ternyata tidak semua perbedaan yang ditunjukkan anak merupakan sesuatu yang negatif ataupun tidak baik, dan tidak semua perbedaan yang ditampilkan oleh anak pun juga merupakan sesuatu yang positif. Orangtua seringkali tidak menyadari, bahwa ada beberapa faktor-faktor yang membuat adanya perbedaan antara anak yang satu dengan anak yang lainnya.
Faktor-faktor tersebut di antaranya adalah faktor biologis dan genetika (keturunan), pola asuh, lingkungan, dan pendidikan. Dalam tahapan perkembangan anak, pembentukan kepribadian, identitas, dan diri seorang anak dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut. Sebagai contoh: gaya pengasuhan orangtua (parenting style) yang diterapkan dalam mengasuh dan membesarkan anak dapat mempengaruhi sifat, karakter kepribadian sang anak.
Berkaitan dengan pola asuh anak, perlu disadari bahwa pada dasarnya hal tersebut merupakan kombinasi/ kerja sama diantara figur ayah dan ibu dalam mengasuh dan membesarkan anak. "Kok anak saya perilakunya seperti itu ya?" atau pada saat anak menunjukkan kenakalan apa pun bentuknya misalnya berbohong, berkelahi, membantah, mencuri, mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan, maka hal yang pertama kali sebaiknya dilakukan oleh orangtua adalah melakukan introspeksi diri. Sebagai orangtua, tidak tertutup kemungkinan kenakalan yang ditunjukkan anak merupakan bentuk "protes" anak terhadap orangtuanya.
Terdapat beberapa penyebab seorang anak menunjukkan perilaku bermasalah adalah: kekurangan perhatian, perasaan tidak dicintai, perasaan tidak disayangi, dan perasaan tidak diterima. Hal lain yang bisa menyebabkan anak menjadi bermasalah adalah akibat pola komunikasi yang tidak baik antara orangtua dan anak, kondisi lingkungan tempat anak tinggal yang tidak kondusif, orangtua yang selalu bertikai, dan dampak perceraian orangtua. Ketika perceraian antara orangtua terjadi, dampak yang ditimbulkan tidak menutup kemungkinan menambah daftar timbulnya permasalahan pada anak.
Melihat kondisi yang seperti itu mungkin timbul pertanyaan "Apa yang dapat dilakukan untuk membantu permasalahan yang terjadi pada anak?" Dari buku karangan Dwiyani (2004) dapat dipetik satu pelajaran sederhana, yaitu jadilah sahabat bagi anak. Menjadi sahabat bagi anak, ternyata bukan persoalan yang mudah. Perlu adanya kebesaran hati, kerendahan ego untuk mau melakukan dalam arti mau menempatkan diri sejajar dengan anak.

Menjadi sahabat bagi anak dapat dimulai dengan langkah-langkah sederhana, di antaranya adalah: (1) Menyediakan waktu bagi anak. Rutinitas bekerja yang padat bukan menjadi alasan orangtua tidak dapat menjalin komunikasi dengan anak. Waktu yang terbatas jika diisi dengan suatu kualitas komunikasi yang baik akan menjadi sesuatu yang berarti buat anak; (2) Terlibat bukan sekedar melihat. Keterlibatan orangtua dalam kegiatan anak bukan hanya melihat aktivitas yang dilakukan anak berdampak pada terjalinnya hubungan yang lebih dekat antara anak dan orangtua; (3) Melindungi bukan mengurung. Pola asuh yang terlalu melindungi anak terkadang dapat membawa dampak yang buruk bagi perkembangan anak.
Anak dapat menjadi terkekang atau terbelenggu dalam aturan yang ditetapkan orangtua yang dapat membuat anak menunjukkan perlaku"membangkang" pada orangtua; (4) Berbincang bukan berbicara. Berbincang dan berbicara merupakan dua hal yang berbeda. Berbincang pada anak melibatkan proses dyadic antara anak dan orangtua, dan merupakan bentuk komunikasi dua arah, ada diskusi antara anak dan orang- tua sehingga kedua belah pihak dapat saling bertukar pikiran.
Berbeda dengan berbicara yang lebih cenderung merupakan bentuk komunikasi satu arah. Satu pihak mengucapkan sesuatu dan pihak lainnya mendengar hal yang diucapkan tanpa adanya hubungan timbal balik; (5) Mendengarkan secara aktif. Tidak semua orang bisa menjadi pendengar baik terutama pada saat berhadapan dengan anak yang sedang berbicara. Seringkali orangtua melakukannya sambil mengerjakan kegiatan yang sedang dilakukannya atau bahkan cenderung memotong bicara anak dengan mengatakan "nanti aja ya ngomongnya, Mama lagi sibuk". Jika hal ini selalu terjadi secara berulang maka bisa saja permasalahan yang dialami anak semakin tidak terselesaikan.
Untuk menghindari hal tersebut orangtua diharapkan memiliki kemampuan untuk mau mendengarkan secara aktif yang berarti adalah atensi dan pusat perhatian tertuju hanya kepada anak. Dengan demikian, anak memiliki perasaan diperhatikan dan dihargai oleh orangtuanya; (6) Tegas bukan keras. Sikap tegas memang terkadang diperlukan oleh setiap orangtua dalam mengasuh dan mendidik anak. Namun sikap tegas yang ditunjukkan orangtua tidak perlu dilakukan dalam bentuk kekerasan misalnya ketika anak tidak diperbolehkan tidak perlu dilakukan dengan cara membentak anak. Sikap keras yang ditunjukkan orangtua pada anak bukan merupakan solusi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan yang dialami anak.
Apa pun teknik yang dipilih oleh orangtua untuk mengatasi permasalahan anak, yang perlu untuk diperhatikan adalah cobalah melihat permasalahan anak secara objekif. Solusi yang diambil diupayakan merupakan solusi yang tepat untuk kebaikan anak, bukan sekedar hanya untuk menghindari statement/label negatif dari orang lain. Semoga Anda dapat menjadi orangtua mencintai dan dicintai oleh anak Anda. Salam.
Penulis adalah Staf Pengajar Fakultas Psikologi Ukrida Jakarta