SUARA PEMBARUAN DAILY

Sekilas

Kadis Pertanian Ditahan

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat, Sulaiman, Selasa (25/3), dijebloskan ke penjara karena tersangkut kasus dugaan penyelewengan bantuan racun hama tanaman bagi petani yang menjadi korban bencana alam tahun 2006.

"Penahanan kami lakukan untuk memudahkan proses penyidikan," kata Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Payakumbuh, Sungarpin SH, Selasa siang, di Padang. Didampingi tim penyidik Selmadera, Mulyadi, dan Isranaedi, Sungarpin menjelaskan, tersangka Sulaiman ditahan dan dititipkan di Lembaga Pemasyarakatan Payakumbuh, berdasarkan Surat Perintah Penahanan No Print.-203/N.3/12/FD-1/03/2008.

Dalam surat tersebut, Sulaiman didakwa pihak Kejaksaan Negeri Payakumbuh melanggar Pasal 3 UU No 31 Tahun 1999 jo UU No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Kasus ini berpotensi merugikan keuangan negara sebesar Rp106 juta.

"Sebelum kami tahan, Sulaiman diperiksa sebagai saksi. Namun, setelah cukup bukti dan saksi, dia terpaksa ditahan demi memudahkan penyidikan," katanya. [BO/W-8]

Tewas Tenggelam di Sungai Tajum

Seorang anggota Samapta Polres Metro Jakarta Pusat, Polda Metro Jaya, Briptu Pol Wasis Doyo Tripambudi (24), yang tenggelam di Sungai Tajum, Desa Losari, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, ditemukan tewas, Rabu (26/3).

Korban sedang menjalani cuti tahunan. Masa cuti ini dimanfaatkan untuk mudik ke kampung halamannya di RT 3/ RW 2 Grumbul Ketasari, Desa Losari, Kecamatan Rawalo, Banyumas. Ia tiba di rumah orang tuanya Selasa (25/3) sekitar pukul 15.00 WIB. Keluarganya menyambut kedatangan Wasis dengan mengajak makan bersama. Sekitar pukul 15.30 WIB, dia mengunjungi kakak sepupunya, Inar Sumarwati (42) yang rumahnya berhadapan dengan rumah orangtua korban.

Setelah bertemu dengan kakaknya, ia kembali ke rumah untuk pamitan mau melihat kebun yang ada di tepi Sungai Tajum. Jaraknya sekitar 500 meter dari rumahnya. Di kebun itu, Wasis hanya seorang diri. Diduga usai melihat kebun, ia turun ke sungai untuk cuci tangan dan kaki. Saat turun ke sungai sore itu airnya sedang deras .Diperkirakan korban terpeleset hingga tercebur ke sungai. Tubuh korban pun hanyut terseret arus sungai dan tenggelam. [WMO/M-11]

200 Rumah Diterjang Puting Beliung

Sebanyak 200 rumah di empat desa di Kecamatan
Percut Sei Tuan, Kabupaten Deliserdang, Sumatera
Utara, rusak parah diterjang puting beliung Rabu (26/3) sekitar pukul 17.30 WIB. Sementara, dua warga terpaksa dilarikan ke rumah sakit akibat tertimpa bangunan rumah. Sementara kerugian diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.

Menurut Ashari (45) warga Dusun 6, Desa Tembung,
mengatakan puting beliung memorakporandakan
kawasan itu hanya dalam waktu sekitar lima menit.

"Sebelum kejadian, hujan turun, tidak begitu deras
tetapi angin yang datang sangat kencang. Ketika itu
terdengar suara bising dan tiba-tiba atap rumah saya
mulai beterbangan. Tetapi ternyata bukan cuma rumah
saya saja, karena banyak rumah tetangga juga
mengalami nasib sama," katanya.

Akibat kejadian tersebut, aliran listrik di daerah
tersebut juga padam. Warga panik segera menyelamatkan diri ke rumah tetangga lain.

Camat Percut Sei Tuan, H Syafrullah mengatakan, mengantisipasi hal tersebut pihaknya telah membangun sejumlah posko dan menyiapkan dapur umum untuk para korban yang mengungsi akibat rumahnya rusak. Selain itu, ia mengimbau warga selalui waspada terhadap bencana alam. Pihaknya sedang mengumpulkan bantuan untuk menolong para korban yang rumahnya rusak. [151]

Tinjau Ulang Sekda Salatiga

Gubernur Jawa Tengah diminta meninjau ulang penetapan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Salatiga, Sri Sedjati. Penetapan Sri sebagai sekda dinilai berbau nepotisme, karena wali kota tidak dimintai pendapat soal penetapan tersebut.

"Kami menuntut agar penetapan Sri Sedjati sebagai sekda ditinjau kembali dan bila perlu dibatalkan," kata Ketua Pelaksana Harian Front Komunitas Indonesia Satu (FKI-1), KH Suyono Nurwahadi, di Semarang, Rabu (26/3).

KH Suyono dan sejumlah aktivis FKI-1 sebelumnya mendatangi Kantor Gubernur, untuk beraudiensi dengan gubernur dan mempertanyakan masalah penetapan sekda Salatiga. Namun, gubernur tidak ada di tempat. Penetapan Sri kental berbau nepotisme, karena Sri yang sebelumnya menjabat Asisten III Sekda Jateng, merupakan adik kandung dari Hendrawan, mantan Sekda Provinsi Jateng. [142]


Last modified: 27/3/08