SUARA PEMBARUAN DAILY

Petani Keluhkan Mahalnya Harga Pupuk

[YOGYAKARTA] Petani di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengeluhkan mahalnya harga pupuk jenis NPK dan KCL pada masa tanam saat ini. Jika pada musim tanam sebelumnya harga NPK Rp 4.500 per kilogram (kg), menjadi Rp 8.000 per kg. Kenaikan juga terjadi pada pupuk jenis KCL, dari Rp 4.250 per kg menjadi Rp 8.500 per kg.

Naiknya harga pupuk tersebut mengakibatkan turunnya lahan bawang merah di wilayah tersebut hingga mencapai 50 persen. Beberapa petani di wilayah Bantul mengemukakan, selain harga pupuk, harga obat-obatan serta upah lobang (pembuatan bedengan) juga naik dari Rp 6.500 per rhu (14 meter persegi), kini menjadi Rp 9.000 per rhu.

Petani Bawang Merah asal Sanden Bantul, Rhujito (47) mengungkapkan, petani terpaksa tidak menanam bawang merah, meski saat ini sudah memasuki musim tanam. "Kalau menjual, harga tertinggi bawang merah hanya Rp 8.000 per kg. Impas, alias tidak ada untung," katanya pada Rabu (26/3).

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul, Eddy Suharyanto mengatakan, penyebab berkurangnya lahan bawang merah musim ini lebih dikarenakan adanya kelangkaan benih. Harga benih nonlokal mencapai Rp 20.000 hingga 25.000 per kg.

Kritik Tajam

Sementara itu, dalam Diskusi Nasional 'Membangun Martabat Bangsa Melalui Kedaulatan Pangan' yang diselenggarakan oleh USC Satunama di Univer-sity Center UGM, Rabu (26/3), terungkap bahwa salah satu program pemerintah yang mendapat kritikan tajam yaitu soal pembagian paket benih ke petani. Meskipun program itu dilandasi dengan niat baik, namun dengan pilihan benih pertanian dari luar negeri telah menyebabkan potensi lokal hilang.

Petani asal Flores, Nusa Tenggara Timur, Ella mengatakan, sekarang petani miskin, itu karena banyak benih lokal hilang pasca-proyek revolusi hijau. "Pemerintah seperti lupa. Kebijakan harus tetap memperhatikan kearifan lokal," katanya.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh Sugiyo, petani dari kelompok tani Sidomakmur, Gedangsari Gunungkidul. Alokasi anggaran pertanian yang di antaranya disalurkan melalui penyaluran benih/bibit padi dalam pelaksanaan di daerah banyak kendala. Bibit padi yang tak sesuai wilayah dan pengabaian potensi daerah seperti penggunaan benih lokal telah membuat petani merugi.

Menanggapi itu, Mufid Busyairi, anggota Komi- si IV Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan, kini ada 25,4 juta petani yang berproduksi. Namun, dari 7,9 juta hektare lahan terancam konversi lahan.

Sementara itu, A Purba, petani sawit Simpang Tuan, Kabupaten Tanjungjabung Barat, Jambi, mengatakan, makelar pupuk semakin banyak di Provinsi Jambi menyusul tingginya permintaan pupuk para petani kelapa sawit. Makelar pupuk di daerah itu diduga menampung pupuk bersubsidi yang diselewengkan oknum-oknum tertentu. Pupuk bersubsidi itu dijual kepada petani sawit berdasi.

"Kami terpaksa membeli urea dari makelar karena persediaan pupuk bersubsidi di pengecer sulit diperoleh. Mereka pupuk menjual pupuk Rp 70.000 per sak berisi 50 kg," katanya. [152/141]


Last modified: 27/3/08