SUARA PEMBARUAN DAILY

Jurnalis Asing Diizinkan Memasuki Tibet

[LHASA] Pemerintah Tiongkok menunjukkan situasi di Tibet sudah dalam kendali, dengan membuka kunjungan jurnalis asing ke Lhasa, Rabu (26/4). Sebanyak 26 jurnalis asing yang diseleksi oleh Pemerintah Tiongkok, dibolehkan berada di ibu kota Tibet itu selama tiga hari, dengan pengawalan.

Kunjungan para jurnalis asing itu diprediksi akan mendapat kontrol ketat dan pemberitaan mereka condong berpihak pada versi Pemerintah Tiongkok. Pemerintah Tiongkok mengatakan para jurnalis asing itu dibolehkan berbicara dengan korban kerusuhan dan akan diperlihatkan pada properti yang dirusak para perusuh.

Tidak ada pernyataan Pemerintah Tiongkok untuk menjamin para jurnalis asing itu memiliki kebebasan dalam membuat laporan. Kantor berita AFP menyebutkan, jurnalisnya tidak disertakan dalam rombongan itu, demikian juga dengan jurnalis dari beberapa kantor berita dunia lainnya.

Sekitar 30 biksu Tibet memprotes ketidakbebasan beragama dan menolak tuduhan pemimpin spiritual mereka Dalai Lama sebagai penyebab kerusuhan baru-baru ini. Aksi ini mereka lakukan di tengah kunjungan wartawan asing ke Tibet, Kamis (27/3).

Mereka mengungkapkan protes ini saat para wartawan mengunjungi Wihara Jokang di Lhasa. Mereka menerikan yel-yel" Tidak ada kebebasan di Tibet. Mereka menegaskan, Dalai Lama tidak ada hubungannya dengan aksi antipemerintah yang dilakukan warga Tibet dan berakhir rusuh tersebut. Pejabat pemerintah yang mendampingi para wartawan segera menarik para wartawan menjauh dari para biksu itu.

Pemimpin spiritual Tibet Dalai Lama menilai positif dibolehkannya kunjungan para jurnalis asing ke Lhasa. "Sangat baik. Tapi semestinya disertai dengan kebebasan penuh. Hanya dengan begitu Anda bisa menilai situasi yang sebenarnya. Para koresponden juga harus mengerti latar belakang dari insiden yang terjadi di sana," katanya.

Tanpa pemahaman mengenai latar belakang, ujarnya, terbuka kemungkinan hanya bakal ada pemberitaan yang normatif atau dibuat-buat. Dia menambahkan, para jurnalis itu mesti mengerjakan pekerjaan rumah mereka lebih dulu, sebelum melaporkan situasi yang mereka lihat di Lhasa.

Pemerintah Tiongkok berkali-kali menekankan kerusuhan di Lhasa dan daerah lainnya sebagai serangan dari para perusuh Tibet pada etnis Tionghoa. Pemerintah menyebutkan 22 orang tewas di Lhasa, sebagian besar adalah warga sipil tak bersalah yang dibunuh oleh para perusuh. [AFP/AP/B-14]


Last modified: 27/3/08