![]()
Didit Majalolo
Kelompok perkusi KunoKini yang menggabungkan alat musik tradisional Indonesia tampil di Bentara Budaya Jakarta, Jakarta, Rabu (26/3).
[JAKARTA] Empat orang pemuda asal Jakarta yang tergabung dalam grup musik perkusi KunoKini menampilkan musik dari berbagai masa pada pergelaran musik etnik bertajuk "From Past To The Future" di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Rabu (26/3) malam.
Perpaduan bunyi alat musik yang ditampilkan Bhismo, Bebi, Firzy, dan Akbar Nugraha mengajak pengunjung melintas dari masa lalu menuju masa depan, dari gending Jawa berakhir pada musik reggae, dari lagu Gundul-Gundul Pacul hingga lagu reggae masa kini Souljah.
Menurut Firzy, pesan utama pergelaran musik etnik adalah mencoba mengenalkan kembali alat-alat musik tradisional pada khalayak umum, terutama generasi muda. Ada kesan alat-alat musik tradisional sudah ditinggalkan generasi muda.
"Kami ingin membuktikan, jika alat-alat musik tradisional juga bisa memainkan lagu-lagu zaman sekarang," katanya.
Membuka sesi pertama pertunjukan, KunoKini hanya menampilkan instrumen tanpa suara manusia. Di sesi ini, nuansa masa lalu terasa lewat suguhan musik-musik dari grup yang terbentuk tahun 2003 itu. Nuansa ini ditambah kostum yang mendukung dari personel KunoKini. Bhismo, misalnya, mengenakan pakaian ala pembesar-pembesar Bali di masa silam. Dadanya terbuka dan dilengkapi dengan ikat kepala.
Perpaduan bunyi yang dihasilkan perkusi, rebana, dan djembe pada lagu pertama berjudul Reinkarnasi membuat penonton terkesima. Reinkarnas , menceritakan siklus kehidupan manusia, kelahiran, kematian, dan kelahiran kembali. Pada lagu berikutnya, yang berjudul Jawa, KunoKini mencoba membangkitkan semangat korban-korban bencana alam lewat irama bercorak ramai dan meriah.
Mengeksplorasi
KunoKini mulai mengeksplorasi alat musik tiup, seperti kerang Irian saat membawakan lagu berjudul Gelombang dan Bamboo Rainy. Di awal, lagu itu bertempo lambat, disusul bertempo cepat di tengah-tengah. Lewat lagu ini, KunoKini mengeksplorasi suara-suara alam, seperti tiruan suara katak dan gemericik air yang dihasilkan dari alat musik water stick. Pesan bertema lingkungan, "Selamatkan Hutan Kita" yang ingin disampaikan lewat lagu itu sangat mengena karena ditambah grafis yang menggambarkan pembalakan liar, dan kebakaran hutan di layar panggung.
Sementara itu, di sesi kedua, KunoKini mengajak penonton beranjak ke masa kini. Kesan itu terlihat dari kostum yang dikenakan keempat pemain yang mengenakan pakaian model penyanyi reggae. Di sesi ini, KunoKini berkolaborasi dengan penyanyi rap, Nova dan grup musik Outside Ordinary.
Tepuk tangan penonton yang mayoritas anak-anak muda membahana saat KunoKini dan Nova membawakan lagu berjudul Souljah. Teriakan penonton, semakin kencang ketika KunoKini menutup penampilannya dengan lagu Rasa Sayange berirama reggae dan penonton pun berdansa. Lirik lagu Rasa Sayange yang diubah KunoKini melukiskan kekecewaan generasi muda terhadap "pencurian" kebudayaan Indonesia oleh Malaysia.
Penyanyi reggae Mbah Surip yang menyaksikan pertunjukan musik etnik itu mengatakan, penampilan KunoKini malam itu sangat baik. Tetapi, dia menyayangkan panggung dan sound system yang kurang mendukung. Menurutnya, penampilan KunoKini akan lebih baik bila tanpa menggunakan sound system. [SYH/N-4]