
emajuan teknik fotografi telah menampilkan realitas secara detail. Lantas masih adakah ruang tersisa bagi seni lukis? Kelompok pelukis Abstra-x menyuguhkan "realitas" dari efek pembiasan cahaya. Karya mereka justru bukan lukisan abstrak.
Sebut saja, lukisan berjudul O karya Dikdik Sayahdikumullah. Dari balik kaca mobil, dia ternyata menangkap banyak pengalaman yang menarik. Visualisasi bukan hanya tertuju pada sesuatu yang nyata, tetapi ada juga sesuatu yang semu yang terbias dari suatu proses pengaburan cahaya. Boleh jadi, itulah realitas yang kadang-kadang teringat atau mengingatkan lagi pada sesuatu yang pernah terlihat sebelumnya.
Dari hal-hal yang sederhana itulah, pelukis asal Bandung, Jawa Barat itu menemukan aneka persoalan. Termasuk saat seseorang harus membedakan realitas semu dari kenyataan. Walaupun kadang kala ada banyak stimulasi tentang realitas itu sendiri, orang tetap saja kesulitan untuk membedakannya. Realitas seolah memang berlapis-lapis. Dari pengalaman itu pula, dia ingin merefleksikan sebuah perasaan yang bisa dialami oleh semua orang dari hal-hal yang sederhana.
Sebagai seniman, Dikdik punya persepsi untuk bisa membedakan realitas lewat karya-karya lukisannya bertema O, Tokiwa, dan sejumlah karya lain. Lukisan-lukisan Dikdik itu menghiasi dinding Mon Decor Gallery, Jakarta, dalam sebuah pameran bertema "Muslihat Tanda" yang berlangsung pada 27 Maret hingga 6 April mendatang.
Selain lukisan-lukisan Dikdik, terpampang pula beberapa lukisan lima muridnya yaitu Willy Himawan, Iman Sapari, Harry Cahaya, Dadan Setiawan, dan Guntur Timur. Secara keseluruhan ada 20 lukisan yang akan dipamerkan Mon Decor Gallery dari enam pelukis yang menamakan dirinya sebagai Kelompok Abstra-x ini.
Meskipun satu kelompok, seluruh lukisan yang dipamerkan di galeri milik Martha Gunawan tersebut menghadirkan gaya yang berbeda-beda. Itu lantaran setiap seniman memiliki persepsi yang berbeda dalam melihat sebuah realitas yang didapatkan dari pengalamannya saat menempuh perjalanan sehari-hari, khususnya di Kota Bandung.

Bisa Dicerna
Melihat dari karya seluruh pelukis, Kurator Rizki A Zaelani tidak setuju kalau mereka disebut sebagai lukisan abstrak. Objek yang ditampilkan di atas kanvas jelas dan bisa dicerna. Sebenarnya, gaya lukisan Kelompok Abstra-x cenderung dekat pada impressionist. Sebaliknya, Dikdik mengaku tidak setuju dengan sebutan itu.
"Kami mengambil impressionist-nya hanya sebagai basis untuk mengeksplorasi persoalan agar lebih jelas. Akan tetapi, kaum impressionist bekerja menjauhi logika fotografi. Sementara kami justru mempermainkan refleksi yang konkret dari cahaya yang berpendar dan sudah terporasisasikan lewat kamera digital. Jadi, dari hasil itu, ada tanda-tanda yang cukup jelas dan bisa dipahami. Kalau boleh, kami menyebutnya sebagai lukisan 'Neo-Realist Ala Bandung'," kata Dikdik kepada SP di Jakarta, Rabu (26/3) malam.
Mengenai penggunaan kamera digital untuk mengeksplorasi hasil karya lukisannya tersebut, kurator pameran, Rizki A Zaelani yang didampingi Martha Gunawan saat menerima SP di Mon Decor Gallery, Jakarta, Rabu (26/3) siang, menjelaskan alat bantu adalah hal yang biasa dilakukan banyak pelukis. Bisa saja, ada pelukis yang harus menggunakan kamera, komputer, atau memanfaatkan teknologi internet. Sang pelukis bisa memanfaatkan teknologi itu untuk mengerjakan karya-karya mereka.
"Memang, karya-karya yang dipamerkan ini didasari oleh proses digital atau proses kecerdasan art-visual dalam komputer seperti pengambilan gambar sebuah cahaya. Di sini, cahaya itu adalah penampakan yang dibuat dari sebuah kode atau tanda menjadi suatu yang obyektif. Tanda-tanda itulah yang membuat keenam pelukis ini tertarik untuk dijadikan objek lukisannya. Itulah sebabnya saya memberi judul 'Muslihat Tanda' dalam pameran kali ini," kata Rizki. [F-4]