[JAKARTA] Pemerintah harus membenahi birokrasi dari tingkat pusat sampai daerah guna menarik pemodal asing masuk ke Indonesia. Sebab keluhan paling banyak para inverstor adalah birokrasi yang buruk sehingga mengakibatkan ekonomi berbiaya tinggi di Indonesia. Birokrasi yang buruk itu menyebabkan banyaknya pungutan yang memberatkan para pengusah. Untuk itu, sudah saatnya birokrasi menerapkan sistem reward and punishment (hadiah dan hukuman) seperti yang dipraktikkan oleh korporasi.
"Yang saya ingin dari pemerintah adalah bahwa setiap kebijakan di setiap sektor harus diambil secara hati-hati dan implementatif. Jadi bukan hanya Inpres (Instruksi Presiden) yang kemudian dalam implementasinya tidak sepenuhnya bisa berjalan akibat hambatan birokrasi. Karena hambatan terakhir yang dirasakan oleh dunia usaha yaitu birokrasi baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah. High cost economy yang makin bertambah, banyak pungutan yang tidak berkurang, misalnya di pelabuhan-pelabuhan yang menghambat eksport kita. Itu juga harus kita tanggulangi bersama. Presiden sudah mengetahuinya dan saya kira kesabaran beliau sudah sampai batasnya juga," kata Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) MS Hidayat kepada wartawan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (26/3) setelah mengikuti pembukaan musyawarah nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia.
Untuk mengatasi hambatan birokrasi tersebut, menurut dia, tidak perlu dengan menerbitkan aturan baru, tetapi - sekali lagi - cukup menerapkan sistem reward and punishment. Artinya, yang mendukung tumbuhnya investasi mendapat promosi jabatan sedangkan mereka yang tidak menudukung tumbuhnya investasi diberi hukuman.
Di tengah kinerja birokrasi yang belum bagus, dia melihat perlu ada usaha yang ekstra keras dari Presiden Yudhoyono untuk meyakinkan para investor agar mau menanamkan modalnya di Indonesia.
Dia mendesak pula pemerintah untuk menurunkan pajak penghasilan bagi dunia usaha (perseroan) hingga 25 persen, untuk menjaga persaingan dengan negara-negara lain, seperti Singapura, Malaysia, Tiongkok, Thailand dan pesaing lainnya. [A-21]