[JAKARTA] Di tengah kondisi harga minyak dunia yang tinggi dan perlambatan ekonomi Amerika Serikat (AS) serta tekanan terhadap harga komoditi, perekonomian Indonesia masih dinilai baik, bahkan mengalami kemajuan. Dengan perkembangan perekonomian Indonesia saat ini, pemerintah optimistis ekspetasi pertumbuhan perekonomian Indonesia 2009 akan tercapai.
Demikian dikatakan Direktur Perencanaan Makro Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Prijambodo, ditemui SP dalam acara Citi Indonesia Economic and Political Outlook 2008 di Jakarta, Rabu (26/3).
"Ekonomi tahun lalu tumbuh 6,3 persen, masih dapat kita jangkau. Tahun 2009 ekonomi kita akan lebih baik, dengan ekspetasi pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih baik. Tetapi, dengan catatan faktor eksternal juga membaik," ujar Bambang usai acara.
Bambang mengatakan, ekonomi Indonesia tahun 2007 tumbuh 6,3 persen, ini pertama kalinya pasca krisis tahun 1997/1998 tumbuh di atas enam persen. Indikator pertumbuhan ekonomi tersebut, kata dia, dapat dilihat dari ekspor non-migas yang tumbuh hingga 15,5 persen, dan ekspor barang dan jasa secara riil tumbuh 8 persen.
Selain itu, daya beli masyarakat pulih sejak gejolak harga pada Oktober 2005 lalu dengan tingkat pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebanyak lima persen, serta investasi berupa pembentukan modal tetap bruto yang tumbuh dua digit pada semester II 2007.
Kemajuan ekonomi juga dapat dilihat dari stabilitas ekonomi yang terjaga dengan inflasi tahun 2007 sebesar 6,6 persen. Walaupun, tekanan harga, sejak paruh kedua Desember 2007, terutama dari harga komoditi dunia memberi dorongan inflasi. Laju inflasi Januari dan Februari 2008 berturut-turut 1,77 persen dan 0,65 persen.
Tetapi, Bambang menampik soal inflasi yang disebut-sebut akan menembus angka tujuh persen di tahun 2008 ini. Dia menjelaskan optimisme laju inflasi dapat ditekan menjadi 6,5 persen realistis untuk dicapai.
Investasi
Sementara itu, dari sektor investasi, sambung Bambang, pergerakannya menunjukkan arah positif. "Rasio investasi Indonesia meningkat 24,9 persen terhadap GDP (produk domestik bruto). Bahkan, saat ini ada sekitar 505 triliun rupiah potensi yang akan digerakkan pemerintah."
Hal serupa juga disampaikan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu. Menurut dia, upah minimum regional (UMR) buruh masih merupakan keunggulan Indonesia dalam menarik investasi asing. Walaupun, tren investasi yang banyak terserap di wilayah Jakarta dan Jawa Barat akan beralih ke wilayah yang memiliki UMR lebih rendah. Jawa Tengah misalnya.
"Di Yogyakarta, Jawa Tengah itu, UMR-nya masih berkisar Rp 600.000 - Rp 900.000 , sedangkan Jakarta dan Jawa Barat itu sudah 1 juta rupiah. Jadi, mungkin, tren investasinya akan beralih ke wilayah baru," tutur Mari Elka.
Tetapi, Indonesia memiliki pesaing berat di tingkat Asia, seperti India dan Bangladesh. Sedangkan, di tingkat negara-negara ASEAN, Indonesia bersaing dengan Vietnam. [CNV/M-6]