![]()
SP/Alex Suban
Petani memanen padi di lahan persawahan di Desa Koper, Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang, Banten, Rabu (26/3). Sejak dua pekan terakhir petani di kawasan itu memanen padi dengan harga jual gabah basah Rp 200.000 per kuintal. Sebelum panen, harga gabah basah berkisar pada Rp 300.000 per kuintal.
[JAKARTA] Departemen Pertanian akan menugaskan Badan Karantina Deptan untuk mengawasi kemungkinan adanya penyelundupan beras ke luar negeri. Meski pemerintah sudah melarang ekspor beras, kecuali beras organik, tingginya perbedaan (disparitas) harga beras dalam negeri dengan harga internasional rawan penyelundupan.
Untuk itu Deptan meminta TNI /Polri ikut memperketat pengawasan jalur pelayaran laut yang mungkin dijadikan pintu penyelundupan.
Demikian dikatakan Menteri Pertanian Anton Apriyantono menjawab pertanyaan SP, Kamis (27/3) mengenai kemungkinan adanya penyelundupan beras ke luar negeri. Harga beras internasional pekan lalu meroket hingga mencapai US$618,5 - US$745 (sekitar Rp 6 juta-Rp 6,5 juta) per ton untuk beras Filipina yang diekspor hingga ke pelabuhan tujuan.
Sementara harga beras di dalam negeri saat ini pada kisaran Rp 4.750 - Rp 6.000 per kg atau Rp 4,7-Rp 6 juta per ton.
Dalam kesempatan itu, Mentan mengatakan, pemerintah akan tetap mempertahankan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah untuk mencegah kenaikan harga beras yang dikhawatirkan semakin membebani masyarakat.
Berdasarkan Instruksi Presiden No 3/2007 mengenai HPP, harga Gabah Kering Panen dengan kadar air 25 persen dan kadar hampa 10 persen adalah Rp 2.000 per kg di tingkat petani dan Rp 2.035 per kg di penggilingan.
Sedangkan harga gabah kering giling dengan kadar air 14 persen dan kadar hampa 3 persen sebesar Rp 2.575 per kg di tingkat penggilingan dan Rp 2.600 per kg di gudang Bulog.
Sementara itu harga beras dengan kadar air 14 persen dan pecahan 20 persen ditetapkan sebesar Rp 4.000 per kg di gudang Bulog. Sebelumnya, sejumlah organisasi petani mendesak pemerintah menaikkan HPP gabah untuk meningkatkan kesejahteraan petani.
Dongkrak Harga
Menurut Mentan, jika HPP dinaikkan saat ini, imbasnya akan mendongkrak harga beras sehingga masyarakat miskin yang membelanjakan 22 persen dari penghasilannya untuk membeli beras akan semakin terbebani.
Mengani target produksi, Mentan tetap yakin target produksi 61,1 juta ton GKG pada tahun 2008 masih akan tercapai. Banjir yang melanda sebagian wilayah di Jawa Tengah dan Jawa Timur akan dikompensasi dengan pembukaan lahan baru seluas 40.000 ha di luar Jawa. Sehingga tahun ini diharapkan luas panen akan mencapai 12 juta hektare dengan produksi mencapai 61,10 juta ton GKG atau setara 36,7 juta ton beras. Sementara kebutuhan beras nasional sekitar 31,2 juta ton per tahun.
Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bulog Mohammad Ismet kepada SP menjelaskan, realisasi pengadaan 2008 sampai dengan 25 Maret 2008 adalah 218.785 ton dari kontrak 347.030 ton. Walaupun kualitas produksi diberitakan kurang menggembirakan karena penyerbukan padi terganggu, harga pembelian pemerintah tidak mengalami kenaikan dan perdagangan antarpulau untuk mengisi daerah defisit di luar Jawa cukup besar (karena harga di pasar dunia sangat tinggi).
Namun, kata Ismet, angka perbandingan data luas panen dan pengadaan selama tahun 2005 sampai dengan 2007 menunjukkan bahwa realisasi pengadaan 2008 lebih baik. [L-11]