Suara pembaca dikirim melalui email opini@suarapembaruan.com atau Faks ke redaksi, disertai alamat lengkap dan fotocopy identitas yang masih berlaku
Banyak langkah yang dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menata seluruh jajarannya, sehingga bisa bekerja maksimal bagi kepentingan bangsa dan negara. Salah satu upaya ke arah tersebut adalah rekonstruksi pendidikan di bidang pertahanan dan keamanan. Hal tersebut terkait dengan bagaimana mengembangkan pendidikan yang bersifat komprehensif antara pertahanan dengan sipil, dan sinkronisasi antara kurikulum terkait untuk meningkatkan wawasan para perwira TNI dan Polri sekaligus diintegrasikan dengan pendidikan-pendidikan yang lain.
Upaya pengintegrasian sistem pendidikan terkait wawasan kebangsaan ini diperlukan agar secara konseptual para aparat keamanan dan pertahanan bisa kokoh. Menurut Presiden langkah ini diperlukan agar semua perjanjian internasional, seperti, ASEAN Charter, dapat dipahami secara maksimal dan berada dalam satu sinergi. Di sinilah urgensi pemahaman para perwira TNI dan Polri terhadap berbagai komitmen pemerintah yang berimplikasi pada kerja sama antarnegara ASEAN di berbagai bidang.
Langkah ini penting karena peran Indonesia semakin mengglobal, khususnya dalam hal pertahanan. Paling tidak Indonesia sering diminta untuk terlibat dalam berbagai operasi perdamaian yang dikordinir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Bahkan dalam pertemuan dengan Presiden Sudan, misalnya, Presiden Yudhoyono bukan hanya telah mendapat persetujuan dari pemerintah Sudan, tetapi juga Presiden Sudan meminta tambahan penggelaran pasukan polisi Indonesia pada misi PBB di Darfur. Hal tersebut menjadi bukti kuat akan peran Indonesia di dunia internasional.
Sugiyono
sugiyonosurat@yahoo.com Jalan Kemang Selatan Raya, Kemang, Jakarta Selatan