SUARA PEMBARUAN DAILY

TAJUK RENCANA I

Aksi Buang Bayi Amoral

Warga Kelurahan Kamal, Kalideres, Jakarta Barat, Senin (24/3) lalu, dikejutkan dengan temuan mayat bayi laki-laki, lengkap dengan ari-arinya, yang sudah membusuk di kantong plastik. Dua hari sebelumnya, mayat bayi perempuan ditemukan pemulung dalam kantong plastik hitam di Kali Krukut Tanahsereal, Tambora, Jakarta Barat. Di hari yang sama, bayi perempuan usia dua bulan ditinggalkan (dibuang) ibunya di sebuah taksi.

Kejadian pembuangan dan pembunuhan bayi itu menambah daftar panjang aksi kejahatan terhadap bayi. Pada Maret ini, setidaknya tercatat enam kasus pembunuhan dan pembuangan bayi yang dilakukan oleh ibunya sendiri. Hal itu juga menunjukkan betapa semakin terkikisnya rasa kemanusiaan di antara kita. Bahkan kalau boleh dikatakan, binatang pun tidak akan melakukan kejahatan serupa terhadap anaknya.

Kita sangat prihatin dengan kondisi tersebut. Bagaimana mungkin seorang ibu yang sudah mengandung janin demikian lama begitu tega membuang anaknya sendiri, bahkan membunuhnya pada saat bayi itu baru belajar bernafas. Aksi buang bayi, baik yang sudah mati maupun masih hidup, menyadarkan kita bahwa ada yang tidak beres dalam kehidupan masyarakat sekarang ini. Moral dan etika sudah sedemikian jauh ditinggalkan. Sepertinya sifat kemanusiaan menjadi hilang pada saat-saat menghadapi situasi yang sulit, sehingga begitu mudah membuang bayi di tempat sampah atau memasukkan ke dalam tas plastik hitam. Bukannya memakamkan atau menyerahkan bayi itu ke panti asuhan.

Kita mendukung upaya Polda Metro Jaya yang akan menghukum berat pelaku aksi buang bayi dan aborsi, karena tindakan tersebut memang termasuk tindakan kriminal yang perlu diproses secara hukum. Terlebih jika dari awal sudah ada upaya untuk merencanakan pembunuhan terhadap bayi itu, hukuman berat patut dijatuhkan. Kita menghargai hukum dan pemerintah Indonesia, karena memang merekalah yang diberikan kewenangan untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun, kita juga perlu introspeksi diri, mengapa aksi buang bayi dan aborsi yang tak bermoral itu masih saja sering terjadi? Kita melihat dari aspek penegakan hukum. Apakah tindakan kejahatan tersebut benar-benar sudah diproses secara hukum, mulai dari kepolisian hingga pengadilan? Jangan-jangan proses penegakan hukum ini tidak berjalan sesuai yang diharapkan, sehingga tidak membuat jera pelaku dan mendorong orang lain untuk melakukan aksi serupa. Kita berharap proses hukum benar-benar ditegakkan.

Kita juga perlu melihat dari sisi masyarakat, apakah selama ini masyarakat menganggap kejahatan tersebut sebagai hal yang biasa dan tidak perlu mendapat ganjaran hukuman atau memberikan kesadaran agar pelaku bertobat? Jangan-jangan masyarakat beranggapan tindakan itu sebagai urusan pribadi dan merasa tidak perlu untuk campur tangan. Bagaimana kalau ternyata itu akhirnya melibatkan orang yang terdekat dengan kita? Kita berharap kehidupan bermasyarakat terus dipupuk untuk saling memperhatikan dan membangun moral dan etika yang baik, sehingga bangsa ini benar-benar menjadi bangsa yang bermartabat dan berperikemanusiaan.

Biarlah berbagai kejadian itu mengusik hati kita dan menggerakkan kita untuk memberikan pencerahan terhadap saudara-saudara kita yang karena beban ekonomi atau tekanan psikologis, akhirnya mengambil jalan pintas dengan membuang bayi atau aborsi. Kita masih punya Tuhan yang bisa menolong untuk memberikan jalan keluar terbaik. Janganlah terlalu mengandalkan pikiran manusia, tetapi berserahlah kepada Tuhan.


Last modified: 26/3/08