SUARA PEMBARUAN DAILY

Seks, Politik, dan Media

Tjipta Lesmana

Sepuluh tahun lalu Silda Wall Spitzer, istri Eliot Spitzer, menyaksikan - melalui layar televisi - bagaimana Hillary Rodham Clinton dipermalukan oleh perilaku suaminya, Bill Clinton. Ketika itu, skandal seks Presiden Clinton dengan Monica Lewensky, mahasiswi yang sedang magang di Gedung Putih, sudah merebak ke seluruh pelosok Amerika. Apa komentar Nyonya Silda? "Kejadian seperti itu tak akan mungkin saya alami. Saya pasti akan meninggalkannya!"

Perempuan mana pun memang pantas marah jika dikhianati oleh suaminya; apalagi jika perselingkuhan sang suami menjadi berita headline media massa seantero dunia. Namun, ketika hal serupa dialami seorang ibu rumah tangga, belum tentu ia akan bereaksi seperti yang dikatakannya semula! Ini terjadi pada diri Silda, yang sejak 15 bulan yang lalu menjadi Nyonya Gubernur Negara Bagian New York.

Nyonya Silda berusaha memperlihatkan sikapnya yang tegar tatkala pada 10 Maret yang lalu ia mendampingi suaminya, Eliot Spitzer, memberikan keterangan pers singkat tentang skandalnya dengan seorang pelacur tingkat tinggi. Perempuan itu bernama Ashley Alexandra Dupre (22) dengan nama panggilan "Kristen". Eliot meminta maaf kepada istri dan keluarganya, serta penduduk New York. Sang Gubernur pada 13 Februari 2008 tertangkap basah sedang bermain seks dengan Dupre di sebuah hotel mewah di Kota Washington DC. Transaksi seks antara kedua manusia ini diatur oleh sebuah jaringan prostitusi tingkat tinggi, Emperors Club VIP. Eliot sendiri memberikan identitas palsu dengan nama George Fox.

Pelacuran, berdasarkan ketentuan perundang-undangan New York, adalah perbuatan terlarang. Undang-undang juga melarang keras "Transportasi pelacuran" dalam bentuk apa pun. Dupre tercatat penduduk New York, sehingga UU New York berlaku untuk dirinya, walaupun praktik prostitusi yang dilakukannya berlangsung di Washington DC.

Ia sengaja diminta Eliot terbang ke Washington DC dan bertemu di sebuah hotel mewah untuk menghindari jeratan hukum. Namun, aparat hukum federal diam-diam sudah mencium perilaku amoral Gubernur New York ini. Dengan bantuan alat penyadap telepon, percakapan antara Dupre dan George Fox dengan mudah dilacak dan direkam.

Ternyata, Eliot sudah berkali-kali "berhubungan" dengan Dupre, mantan penyanyi. Sekali "berhubungan", ia membayar sekitar US 3.400. Menurut pelacakan wartawan harian The New York Post, Eliot selama 10 tahun terakhir sudah malang-melintang bermain seks dengan banyak perempuan di berbagai negara bagian. Total uang yang dihabiskan untuk memenuhi kesenangannya itu berkisar US$ 80.000. Jadi, ketika Ny Silda menyaksikan Hillary Clinton menangis karena suaminya secara terbuka mengakui perbuatan serongnya dengan Monica, ketika itu juga suami Ny Silda mungkin sudah tidak lagi setia padanya.

Para politisi dan penduduk New York shok mendengar berita ini. Eliot Spitzer semula tidak mau mundur. Tapi, lawan-lawan politiknya, juga teman-temannya dari Partai Demokrat, sudah mempersiapkan impeachment jika sang Gubernur ngotot bertahan. Spitzer akhirnya mundur. Ia kini bahkan menghadapi kemungkinan diseret ke pengadilan, jika terbukti menggunakan uang rakyat untuk memenuhi hobinya itu.

Spitzer digantikan oleh Wakil Gubernur David Paterson. Lucunya, hanya sehari setelah dirinya dilantik sebagai Gubernur New York, Paterson mengakui kebenaran berita-berita yang dilansir media massa tentang kehidupan perkawinannya yang "tidak beres". Di hadapan puluhan wartawan media cetak dan elektronik, Paterson mengatakan ia pernah tidak setia pada istrinya, Michelle.

Dari 1999 sampai 2001 ia berselingkuh dengan beberapa perempuan. Satu di antaranya malah bekerja sebagai pegawai negeri di sebuah departemen di New York. Menurut Paterson, ia mengkhianati istrinya sebagai pelampiasan dendam atas tindakan istrinya yang juga selingkuh dengan lelaki lain. Michelle duduk di samping suaminya tatkala sang suami memberikan keterangan pers. Dan Michelle tidak bereaksi apa pun tatkala Paterson menuduhnya berselingkuh. Anehnya, media massa Amerika tidak meributkan berita mengenai kehidupan rumah tangga masa lalu David Paterson yang penuh dengan perilaku selingkuh.

Seks dan Politik

Politik, rupanya, sulit dipisahkan dari seks. Bill Clinton nyaris dijatuhkan lewat mekanisme impeachment hanya karena seorang wanita bernama Monica Lewensky. Tapi, skandal seks Clinton sebelumnya dengan beberapa perempuan lain, sebenarnya, sudah menjadi pemberitaan pers.

Eliot Spitzer baru menjabat 15 bulan sebagai Gubernur New York ketika perilakunya yang tercela di bidang seks dibongkar oleh media massa. Ketika berita heboh terkait dengan Gubernur New York "meledak" beberapa media Amerika juga menyingkap perilaku Jim McGreevey, mantan Gubernur New Jersey. Ternyata Jim seorang homo. Selama bertahun-tahun ia terlibat dalam "hubungan seks segi tiga" antara dirinya, Teddy Pedersen, dan sang istri yang bernama Dina Matos McGreevey. Adalah Teddy Pedersen yang membenarkan berita-berita pers. Teddy lama bekerja sebagai sopir, sekaligus pembantu, McGreevey. Jim McGreevey belakangan mengakui kebenaran pernyataan Teddy yang menghebohkan itu. Menurut Jim, mereka bertiga sering tidur di satu kamar jika bepergian ke luar kota.

Skandal Jim juga berakhir dengan pengunduran dirinya sebagai Gubernur. Pada akhirnya ia mengaku bahwa praktik gay bersama Pedersen berlangsung dua tahun sejak Pedersen diangkat sebagai sopirnya ketika Jim menjadi Wali Kota Wodbridge. Hubungan gay antara McGreevey dan Pedersen berakhir pada November 2001 ketika McGreevey terpilih sebagai Gubernur New Jersey. Kini McGreevey sedang menghadapi gugatan cerai istrinya. Dina Matos menuding McGreevey berbohong tentang dirinya yang homo. Dan kenyataan ini dianggap sebagai sumber kehancuran rumah tangga mereka.

Apakah keterkaitan antara seks dan politik juga berlaku di Indonesia? Cerita tentang perilaku amoral petinggi kita sebetulnya banyak. Cerita-cerita itu, umumnya, berhasil ditutup sebab pers kita tidak berani mengungkapnya. Kisah kasih Bung Karno dengan orang-orang yang dinikahinya diekspose media semata-mata setelah BK sudah jatuh dari singgasana kekuasaannya. Ketika de-Soekarnosisasi dianggap sangat menguntungkan Orde Baru, maka proses ini dibiarkan bebas terekspos.

Tapi, siapa yang berani mengekspos kisah kalangan petinggi Orde Baru - juga sekarang - yang kawin-cerai atau punya simpanan alias "WIL"? Jika dalam rezim Orde Baru pers benar-benar terkungkung, pada Orde Reformasi pun pers tidak sepenuhnya bebas. Wartawan kita umumnya bersikap menahan diri jika ada berita amat sensitif yang terkait dengan seorang pembesar. Salah-salah nyawanya terancam.

Ketika merebak berita tentang dugaan selingkuh seorang politisi dengan bintang film, pers kita sepertinya tidak antusias untuk melacaknya; begitu juga polisi. Selingkuh atau seks di luar pernikahan di republik ini menjadi delik aduan. Selama tidak ada pengaduan resmi dari pihak tertentu, polisi diam saja.

Pengungkapan seks dan politik, dengan demikian, amat bergantung pada sejauh mana pers bisa menjalankan kontrol sosialnya tanpa rasa takut. Presiden Clinton, Gubernur New York Eliot Spitzer, penggantinya, David Paterson, eks Gubernur New Jersey McGreevey, juga calon Presiden Gary Hart dan John Tower - Senator Amerika yang nyaris menjadi Menteri Pertahanan - semua dipermalukan akibat perilaku seksnya yang tercela, karena pers Amerika tanpa beban apa pun dapat mengeksposnya. Dan memang wartawan tidak menghadapi ancaman apa pun setelah memberitakan informasi itu.

Di Thailand, seorang Senator tahun lalu tertangkap basah tidur bersama dua pelacur anak-anak di sebuah hotel di Bangkok. Ia langsung "digebuk" habis oleh media setempat, diadili kemudian dijatuhi hukuman penjara.

Media di Indonesia masih jauh dari jangkauan coverage seperti itu. Kecuali takut terancam, sementara wartawan kita mungkin masih beranggapan bahwa persoalan seks adalah persoalan pribadi seseorang, bukan konsumsi untuk dipublikasikan, walaupun pelakunya adalah pejabat publik.

Penulis adalah dosen hukum pers


Last modified: 26/3/08