SUARA PEMBARUAN DAILY

Petinju Indonesia Belum Mampu Adaptasi Sistem Digital

Syamsul Anwar Harahap

[JAKARTA] Kegagalan petinju-petinju Indonesia pada kancah SEA Games dan babak penyisihan Olimpiade disebabkan ketidakmampuan mereka beradaptasi dengan sistem penilaian tinju digital yang sekarang diterapkan. Karena itu, Indonesia harus mengubah sistem latihan petinjunya untuk menyesuaikan dengan sistem penilaian tersebut, demikian penilaian pengamat tinju nasional Syamsul Anwar Harahap kepada SP, di Jakarta, Selasa (25/3).

"Coba Anda amati dengan seksama, petinju-petinju kita kalah angka mutlak pada SEA Games di Thailand lalu, dan penyisihan Olimpiade baru-baru ini. Ini bukti konkrit petinju kita tidak dapat menyesuaikan diri dengan sistem penilaian yang digunakan sekarang," ujarnya dalam kapasitas sebagai pengamat.

Menurut dia, teknik bertinju pada dasarnya ada dua, yaitu memukul dan menghindar. Kemampuan petinju Indonesia dalam hal memukul dia nilai rata-rata baru 30 hingga 40 persen. Sedangkan kemampuan menghindarnya 20 persen. "Bila dijumlahkan dan dibagi dua, maka rata-rata kemampuan mereka baru 30 persen. Hal ini jelas tidak memadai untuk merebut medali di arena SEA Games maupun kualifikasi Olimpiade, karena diperlukan paling tidak kemampuan rata-rata 70 persen untuk itu. Dengan demikian kemampuan mereka harus dinaikkan rata-rata 40 persen lagi," paparnya.

Sejauh ini dia melihat petinju Indonesia umumnya dilatih dengan porsi memukul 90 persen, menghindar 5 persen, taktik strategi 5 persen. Menurut dia, porsi latihan mereka harus diubah menjadi 50 banding 50, atau 60 banding 40 antara memukul dan menghindar. "Kita harus memulainya sekarang. Kalau tidak jangan bermimpi meraih medali emas pada SEA Games 2009 di Laos," katanya mengingatkan.

Tantangan yang dihadapi Indonesia pada SEA Games 2009, menurut dia, jauh lebih berat ketimbang SEA Games di Thailand, 2007 lalu. Dia melihat petinju-petinju tuan rumah Laos mulai menunjukkan perbaikan penampilan sehingga dua tahun lagi mereka menjadi matang. Indonesia bakal mendapat saingan ketat dari Laos, selain dari Thailand dan Filipina.

Sementara pada kancah Olimpiade, dia berpendapat saat ini hanya Arenaldo Moniaga yang memiliki potensi untuk diproyeksikan ke sana. Namun, dia mencatat masih ada dua hal yang harus ditingkatkan Arenaldo, yaitu kondisi fisik dan motivasi.

Ketika ditanya soal pelatih asing untuk memenuhi tuntutan di atas, Syamsul berpendapat, bukan masalah bila Indonesia akan menggunakan pelatih nasional atau pelatih asing. Yang terpenting, menurut dia, Pengurus Pusat Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina), harus membuat cetak biru lebih dulu. Certak biru inilah yang menjadi panduan pelatih dalam menangani petinju.

"Sudah dua periode kepengurusan Pertina menggunakan pelatih dari Kuba dan juga berlatih di sana. Namun tidak satu pun petinju kita yang bertinju dengan gaya Kuba. Padahal saya lihat sekarang petinju Thailand pun sudah mengadaptasi gaya tinju Kuba. Demikian pula sebagian besar negara di dunia telah mengikuti gaya Kuba," dia menjelaskan.

Dia menyarankan PP Pertina sebaiknya membuat cetak biru lebih dulu sebelum menentukan pelatih yang akan ditunjuk untuk menangani petinju-petinju nasional. "Dengan cetak biru itulah Pertina dapat mengontrol kerja pelatih. Jangan seperti yang lalu, Pertina didikte pelatih. Mau menggunakan pelatih dari Kuba atau Kazakhstan bukan masalah, yang penting jangan diberi cek kosong," ujarnya. [A-11]


Last modified: 26/3/08