SUARA PEMBARUAN DAILY

Pindad Siap Produksi 30 Panser

[BANDUNG] Direktur Utama PT Pindad, Adik Avianto Sudarsono menyatakan siap membuat 30 unit panser pesanan Departemen Pertahanan (Dephan) dalam tahun 2008 ini meski dananya belum keluar dari Departemen Keuangan.

"Kami siap talangi karena sindikat bank. Kami dapat surat penunjukan langsung dari Menteri Pertahanan, itu jaminan bahwa akan dibayar oleh pemerintah," ujarnya di Bandung, Jawa Barat (Jabar), Senin (24/3).

Pindad berani memproduksi panser itu, karena sindikasi beberapa bank seperti BRI, BNI, dan Mandiri menyatakan kesanggupan membiayai hingga Rp 1 triliun, meski belum ada perjanjian pinjaman hitam di atas putih.

"Sebagai jaminan, pihaknya menjaminkan surat penunjukan langsung dari Departemen Pertahanan. Pembiayaan awal di sindikat bank BRI, BNI, Mandiri. Departemen Pertahanan memesan 150 panser yang bakal dijadikan untuk angkutan personel," katanya.

Bernegosiasi

Direktur Jenderal Sarana Pertahanan Departemen Pertahanan Marsda TNI Eris Herryanto mengatakan pihaknya masih bernegosiasi soal harga satuan dari panser. Pasalnya, panser yang dipesan itu nantinya memiliki spesifikasi alat yang berbeda-beda mulai dari konfigurasi komando, armor personal carrier, ambulans, dan recovery.

"30 panser dalam tahun ini, pada intinya ada dua angkatan yang memerlukan, yakni TNI AU dan TNI AD. Kebutuhan TNI AL itu harus amphibi," katanya.

Kerja sama pembuatan panser itu, awalnya mencapai 300 unit, namun diturunkan menjadi 150 unit. Anggaran yang didapat Dephan pada tahun ini mencapai Rp 36,3 triliun. Sedangkan anggaran untuk mencapai kekuatan minimum (essensial minimum force) itu Rp 100 triliun.

Terkait harga panser, Adik menjelaskan, harga standar per unitnya mencapai Rp 5,9 miliar. Harga tersebut belum termasuk alat-alat yang dipasang nantinya sesuai dengan konfigurasi yang diinginkan Dephan, misalnya, pelontar granat, alat komunikasi dengan pesawat tempur, dan peredam senapan.

Hingga saat ini, Pindad masih menanti kiriman mesin dari Renault untuk menyelesaikan pesanan panser itu. Sebelumnya, Pindad memakai mesin Perkasa produksi Texmaco, hanya saja kemampuannya tidak sesuai dengan yang diminta. "Tidak menggunakan Perkasa 220 HP (tenaga kuda). Yang diinginkan teknis untuk tempur dan sebagainya 320 HP," ungkapnya.

Adik mengaku mampu mengirim minimum 10 unit panser tersebut pada 5 Oktober 2008.

"Kami siap melakukan pengerjaan 150 unit tahun ini. Satu bulan 20 (unit) dengan satu shift. Apabila dua shift bisa 40 unit dan itu ada pilihan untuk didobel dengan menambah kekuatan kerja. Namun, pemasok mesin hanya menyanggupi 30 unit tahun ini," katanya.

Pindad sudah mendapatkan tugas untuk membuat kendaraan tempur. "Jadi panser yang bisa menembak. Sekarang ini hanya mengamankan dirinya saja. Fighting vehicle lebih mahal meriam daripada kendaraannya, karena harus ada penstabil senjata. Kendaraan goyang, senjata stabil," katanya. [153]


Last modified: 26/3/08