SUARA PEMBARUAN DAILY

Masih Bergantung Dana Asing

[JAKARTA] Anggaran untuk program penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia masih sangat bergantung pada bantuan luar negeri. Dana yang umumnya berbentuk hibah ini dinilai sangat membantu karena kondisi keuangan negara yang terbatas. Namun, masalah akan timbul jika bantuan ini sewaktu-waktu berhenti.

Berkaitan dengan itu, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Paskah Suzetta, di sela-sela Lokakarya Nasional Penanggulangan HIV/AIDS, di Jakarta, belum lama ini, mengharapkan semua pihak memikirkan bagaimana mengurangi ketergantungan dan meningkatkan pendanaan sendiri.

Salah satu langkah, ujar Paskah, adalah dengan ditetapkannya Strategi Nasional (Stranas) Penanggulangan HIV/AIDS. Stranas itu merupakan instrumen utama dalam akselerasi pencapaian tujuan keenam Millennium Development Goals (MDGs) pada 2015, yaitu memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya.

Epidemi HIV/AIDS di Indonesia memang sangat mengkhawatirkan karena perkembangannya cukup cepat. Jika tahun 2004, kasus itu dilaporkan terjadi di 16 provinsi, maka pada 2007 telah ditemukan di 32 provinsi. Di Papua, prevalensi AIDS sangat tinggi.

"Prevalensi ini dikhawatirkan akan terus meningkat karena kasus HIV juga terus meningkat. Walaupun saat ini ada sekitar 6.000 kasus HIV, namun diperkirakan populasi yang rawan tertular HIV sebanyak 193.000 orang," katanya.

Komisi Nasional Penanggulangan HIV/AIDS menegaskan, secara global HIV/AIDS memang menjadi ancaman biologis terbesar di dunia. Menurut Badan AIDS Dunia (UNAIDS), hingga 2004 lalu ada 39,4 juta orang terinfeksi HIV dengan tingkat kematian mencapai 3,1 juta orang. Sedangkan di Indonesia, ada sekitar 90.000 sampai 130.000 orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Masih Ada Stigma

Aktivis Yayasan Peduli HIV/AIDS, Hendrika Wahyuni, mengemukakan, kematian akibat AIDS bukanlah terlihat dari angka-angka saja, melainkan banyak hal lain yang tersembunyi di dalamnya. Satu di antaranya adalah cap buruk (stigma). "Sejak awal ditemukannya kasus ini di manapun, masalah yang lebih serius dalam persoalan HIV/AIDS bukanlah hanya tentang kesehatan," ujar Hendrika. [E-5]


Last modified: 25/3/08