[JAKARTA] Wakil Presiden M Jusuf Kalla memberikan lampu hijau untuk para investor melakukan prastudi kelayakan proyek pembangunan terowongan bawah tanah (deep tunnel) terintegrasi untuk mengatasi masalah banjir dan kemacetan di Jakarta.
Hal itu diungkapkan salah seorang investor, Schehan Shahab seusai diterima Wapres Jusuf Kalla, di Istana Wapres, Jakarta, Selasa (25/3).
Hadir dalam pertemuan tersebut di antaranya, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto, Dubes Belanda untuk Indonesia B Koekkoek dan Dubes Jerman untuk Indonesia Baron Paul von Maltzhan.
Menurut Schehan, meski baru wacana Wapres sudah memberikan lampu hijau untuk melakukan prastudi kelayakan. "Ini jelas menggembirakan bagi kami," katanya.
Dalam prastudi kelayakan tersebut, pihaknya akan melibatkan investor lainnya, yakni dari Jerman, Belanda, serta beberapa bank nasional. Alasan dipilihnya Jerman dan Belanda, dia mengutarakan, untuk Jerman sangat mumpuni memiliki alat-alat berat berteknologi, sedangkan Belanda ahli dalam membuat tanggul.
Dia mengatakan, prastudi kelayakan proyek senilai US$ 1,8 juta itu akan dilakukan mulai pekan ini dan memakan waktu enam bulan dengan biaya sekitar US$ 400 ribu. "Jika hasil prastudi kelayakan diterima maka kami akan segera melakukan studi kelayakan mengenai proyek itu dengan perkiraan anggaran sekitar US$ 2 juta," ujar dia.
Shechan mengatakan, seluruh dana pra studi kelayakan dan studi kelayakan ditanggung oleh para investor. "Setelah studi kelayakan pada akhir 2009 proyek sudah dapat dilakukan, dan tidak sepeser pun memakai uang negara," kata dia.
Dijelaskan, pembangunan terowongan bawah tanah itu akan dilakukan sepanjang 22 kilometer dengan jalur MT Haryono - Manggarai - Pluit dengan kedalaman 20 meter dari permukaan tanah. Diharapkan, proyek tersebut dapat disinergikan dengan pembangunan kanal banjir timur, sehingga masalah banjir dan kemacetan dapat diatasi secara lebih optimal. Skema pembiayaan proyek, melalui mekanisme BOT (Build, Operation, Transfer). [M-16]