Korupsi dan kolusi bukan hanya menarik dari segi fakta. Kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) pun bisa menarik jika dikemas dalam fiksi. Bahkan legenda masyarakat Betawi, Mariyah, atau yang lebih dikenal dengan "Si Manis Jembatan Ancol" ikut berbicara tentang korupsi BLBI.
Mariyah yang selama ini dikenal sebagai sosok yang menakutkan oleh warga Jakarta akan menjadi sosok lain di tangan dalang wayang Betawi, Tizar Purbaya.
Tizar mencoba menyuguhkan sisi lain "Si Manis Jembatan Ancol" saat mementaskan wayang Betawi dengan lakon "Si Manis Jembatan Ancol" di Warung Apresiasi (Wapress) Bulungan, Jakarta, pada Kamis (27/3) malam.
"Cerita wayang ini berbeda dengan wayang golek Jawa Barat. Jadi bisa lebih fleksibel," ujar Tizar kepada SP, Selasa (25/2).
Tizar akan memasukkan sindiran-sindiran, seperti kisah seorang anak Betawi yang bercita-cita menjadi jenderal, juga akan ditampilkan gambaran penindasan saat masyarakat masih berada dalam kesulitan. Dikisahkan, Mariyah, seorang perempuan Betawi menjalin hubungan dengan pria keturunan Belanda bernama Mathias.
Namun, hubungan kedua anak manusia itu tidak mendapat persetujuan dari orangtua Mathias, dan akhirnya kandas di tengah jalan. Mariyah akhirnya besukaan dengan penjual asinan bernama Husin.
Mathias, yang masih menyimpan rasa cinta kepada Mariyah cemburu pada Husin. Pria Indo itu menyuruh centeng-centengnya membunuh Husin. Tewasnya Husin membuat Mariyah sedih. Di tengah kesedihan itu, tiba-tiba makhluk halus penguasa kawasan Ancol memendam rasa kepada Mariyah. Makhluk halus yang disebut Tizar sebagai Jin Ancol, kemudian membawa Mariyah ke alamnya. Sebelum menghilang dibawa Jin Ancol, Mariyah sempat berpesan agar setiap orang yang melintas di jembatan Ancol harus meminta izin.
"Sampai sekarang di daerah itu, masih sering terjadi kecelakaan, makanya kalau lewat jembatan harus bunyiin klakson," kata Tizar.
Pertunjukan wayang Betawi yang akan disuguhkan Tizar merupakan pembukaan Program Kama, program yang mewadahi seni tradisional. Rencananya acara yang terselenggara atas kerja sama Waruang Apresiasi Bulungan dengan perusahaan rokok itu, akan digelar setiap Kamis malam di akhir bulan. Menurut penggagas acara, Yanusa Nugroho, semula acara itu direncanakan dilaksanakan setiap bulan selama satu tahun penuh. Namun, karena beberapa pertimbangan Kama diselenggarakan selama empat bulan. [SYH/N-4]