SUARA PEMBARUAN DAILY

Infrastruktur Seni Lukis Indonesia Tertinggal

SP/Ferry Kodrat

Pelukis Tiongkok, Chen Wenbo di depan salah satu karyanya yang berjudul "Good Luck" di Museum Nasional, Jakarta. Lukisan tersebut dipamerkan hingga Minggu (30/3).

Seorang pelukis harus memperhatikan lidahnya. Artinya, pelukis tidak boleh banyak bicara. Semua yang dibicarakan oleh pelukis sudah tertuang lewat sapuan karyanya di atas kanvas.

Itulah komentar yang diucapkan dua pelukis dari Provinsi Sichuan, Tiongkok, Chen Wenbo dan Xiao Ping sebelum berlangsung diskusi "Wacana dan Pasar Seni Rupa Kontemporer Tiongkok dan Indonesia" di Museum Nasional, Jakarta, Selasa (25/3) siang.

Diskusi itu dihadiri para pelukis, kolektor, kurator dan pemerhati lukisan Tiongkok dan Indonesia.

Pada diskusi itu, kurator asal Indonesia yang juga pemimpin redaksi majalah C Art, Edi Supriono membeberkan perubahan karya yang dilakukan Wenbo, yaitu dari lukisan figur manusia menjadi benda-benda kecil seperti dadu, cangkir, bola golf, namun tidak mengurangi nilai seni kontemporer modern.

Komentar itu direspons Wenbo dengan mengatakan, dunia seni rupa sangat menuntut kemahiran teknis, meskipun seseorang tetap membutuhkan makna dari karya-karyanya.

Sebagian dari karya-karyanya itu dipamerkan dalam pameran bertajuk "The Sichuan Movement" yang dipelopori Linda Gallery di Museum Nasional Jakarta, Senin (24/3) hingga Minggu (30/3). Kali ini dia memamerkan lukisan dadu berjudul "Good Luck".

Menurut Wenbo, pelukis harus berani menghadapi tantangan baru dengan meninggalkan identitas lamanya, dan kebahagiaan pelukis bukan karena lukisannya terjual habis.

"Sejak tahun 1996 hingga 2000, saya dikenal sebagai pelukis orang-orang muda. Di luar dugaan, lukisan saya itu ternyata laku keras ketika saya pameran di Paris, Prancis. Sebanyak 20 lukisan saya dalam pameran Vit Z habis terjual. Bahkan, banyak orang-orang Barat serta galeri-galeri di Prancis yang memesan agar saya membuat lukisan yang sama," katanya.

Sebagai pelukis muda di Tiongkok, Wenbo mengaku gundah, meskipun pasar untuk menampung seluruh lukisan orang muda sudah terbuka di hadapannya. Keuntungan besar pun bisa diraihnya. Namun,Wenbo memutuskan untuk tidak mengikuti seniornya dengan mempertahankan identitasnya dalam berkarya. Dia beralih dari lukisan orang muda ke lukisan benda-benda kecil. Inovasi yang dilakukan Wenbo ini ternyata bisa diterima pasar karena dia terus menggali inovasi dalam mengangkat tema lukisannya.

Standar Penilaian

Menurut Pemimpin Redaksi Art Market Zhang Yuan, ada beberapa aspek yang menjadi standar penilaian orang terhadap baik atau tidaknya karya seorang pelukis. Seperti tempat pameran, mekanisme pasar yang baik, standarisasi galeri yang memilih pelukis yang bagus, hingga tanggung jawab pelukis terhadap masyarakat.

Menurutnya, aspek-aspek tersebut sangat berkaitan dengan infrastruktur yang menunjang perkembangan dunia seni rupa, baik di Tiongkok maupun Indonesia. Menanggapi itu, anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Bambang, ada persamaan perkembangan seni rupa Tiongkok dengan Indonesia, khususnya dalam infrastruktur. Tetapi Indonesia tertinggal dibanding Tiongkok. Hal itu, ujarnya, disebabkan seni rupa Indonesia kurang diinformasikan ke luar Indonesia.

"Infrastruktur di Indonesia tertinggal jauh jika dibandingkan dengan karyanya itu sendiri," tegas Bambang.

Dia pun menanyakan kepada wakil dari Tiongkok, mengapa seni rupa Tiongkok lebih mengglobal dan seberapa jauh peranan media massa di Tiongkok mengangkat seni rupa?

Dua pertanyaan Bambang tersebut dijawab kurator dari Beijing, Zhu Qi. Menurut dia, dunia seni lukis Tiongkok tiga kali mengalami perubahan, mulai dari pengaruh agama Taoisme pada abad IX, pengaruh agama Buddha saat Dinasti Tang, dan pengaruh Barat pada abad XVIII. Pengaruh Barat sempat terhenti pada tahun 1949 hingga 1970. Namun, setelah terjadinya "Revolusi Budaya" di Tiongkok awal tahun 90-an, mulai banyak pelukis-pelukis Tiongkok yang belajar di Barat, khususnya di Paris.

"Saat itu, mereka membawa pulang karya-karya lukis yang memadukan antara budaya Barat dengan tradisional Tiongkok. Jadi, para pelukis Tiongkok, sama sekali tidak melupakan budaya mereka sendiri. Meskipun karya itu tidak laku di Tiongkok, di Barat sendiri justru banyak peminatnya. Karya-karya inilah yang memberikan ciri khas tersendiri sehingga cepat terkenal," jelasnya.

Mengenai peranan media massa sendiri, menurut Zhu, di Tiongkok tidak mudah membuat koran atau majalah khusus seni rupa karena harus mendapat izin dari pemerintah. Peliputan media massa juga tidak terlalu banyak. Hanya saja, katanya, pemerintah Tiongkok sangat membantu mengembangkan dunia seni rupa di Tiongkok, apalagi setelah banyak orang-orang kaya di Tiongkok yang tertarik dengan lukisan-lukisan karya pelukis Tiongkok.

"Tetapi, saya tekankan, pengaruh media massa sangat besar terhadap perkembangan seni," ujarnya.

Sementara, dosen seni lukis dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Tri Aru Wiratno menjelaskan bahwa para pelukis Tiongkok pandai menempatkan dirinya untuk menjadi seorang humas dan jeli dalam melihat pasar. Jadi, meskipun mereka mengubah bentuk karya, ujarnya, karya-karya terbaru mereka tetap laku karena mereka sudah mempunyai nama dari karya-karya sebelumnya.

"Bagi mereka, mengubah karya sama saja membuka pasar baru, meskipun karyanya yang lama tetap laku dan masih ditunggu banyak orang," tambahnya. [F-4]


Last modified: 26/3/08