SUARA PEMBARUAN DAILY

Konser Ozomatli

Menikmati Racikan Irama Multietnik

Abimanyu

Kelompok musik Ozomatli dari Amerika Serikat beraksi dalam konser "Diversity Rocks" di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Jakarta Pusat, Selasa (25/3). Pertunjukan ini diselenggarakan atas kerja sama GKJ dengan Kedubes AS untuk Indonesia. Kelompok musik tersebut pernah mendapatkan Grammy Awards kategori Latin Rock dan Alternative Album.

Bertajuk "Diversity Rocks" (keragaman musik Rock, Red) grup band asal Amerika Serikat, Ozomatli, mengawali konser keliling Indonesia pertama mereka di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Selasa (25/3) malam. Saat irama latin mengalun, penonton pun ikut berjoget.

Rencananya band yang dimotori Ulises Bella (tenor sax, klarinet, dan vokal), Raul Pacheco (gitar dan vokal), Asdru Sierra (trompet dan vokal utama), Jabu Smith-Freeman (MC), Shef Bruton (trombon), Will-Dog Abers (bas dan vokal), Justin Poree (perkusi, MC dan vokal), Jiro Yamaguchi (perkusi), dan Mario Calire (dram) ini juga akan menggelar konser di Surya Park, Surabaya pada 29 Maret dan BKB Plaza, Palembang pada 31 Maret.

"Meski demikian, kami akan berada di Indonesia selama sembilan hari, sejak Selasa (25/3) hingga Kamis (3/4)," kata Jiro Yamaguchi.

Lagu berjudul City of Angels menjadi lagu pembuka dari konser Ozomatli di GKJ. Sejak pertama kemunculan mereka di atas panggung hingga 90 menit kemudian, band peraih Grammy Award dan Billboard Latin Award tersebut kerap membuat para penonton histeris.

Tanpa diminta penonton yang berasal dari dua bangsa, Indonesia dan Amerika Serikat ini serentak bertepuk tangan mengikuti irama. Bahkan, tak puas sampai di situ, para penonton yang tampak didominasi kaum muda ini juga tak segan-segan ikut bergoyang.

Sesuai dengan tema yang mereka usung malam itu, kesembilan anak muda yang berasal dari multietnik tersebut tampil membawakan lagu-lagu dalam berbagai genre musik, seperti hip hop, R & B, pop, rock, salsa, jazz, funk, reggae, dan latin.

Usai lagu pertama yang dibawakan dengan irama rap, band yang memulai debutnya di Los Angeles, Amerika Serikat tahun 1995 ini melanjutkan penampilan mereka dengan lagu berjudul Can't Stop.

Pada lagu ketiga berjudul Dos Cosas irama musik yang sejak awal kental dengan nuansa hip hop beralih ke samba. Beberapa personil Ozometli pun unjuk kebolehan menggoyangkan pinggul, sambil memutar-mutar tangan ke atas.

Makin Tergoda

Suasana mulai semakin "panas", para penonton makin tergoda untuk bergoyang. Mario Calire pun berteriak mengajak penonton menari. Ajakan ini tak disia-siakan penonton, begitu lagu keempat yang berjudul La Gallina dilantunkan, penonton pun sontak berdiri dan berjoget.

Lagu berirama latin ini pun kian terasa enak untuk dinikmati, karena para personel Ozomatli tanpa segan-segan menampilkan kepiawaian mereka dalam menari tango, samba, dan lainnya.

Tiupan klarinet dari Ulises Bella menambah histeria penonton. Energi Ozomatli dalam konser yang didukung GKJ dan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta ini pun, tampak tiada habisnya, pas dengan nama Ozomatli yang mereka usung.

Menurut Raul Pacheco, nama Ozomatli diambil dari kata Nahuatl (bahasa yang biasa digunakan orang- orang di Meksiko, Red), yang mereka lihat pada simbol shio monyet.

"Ozomatli juga mengandung arti seorang penari baik, api, hasil panen, dan musik," ungkapnya.

Sayangnya ruangan GKJ yang sesak oleh kursi-kursi penonton, membuat energi para penonton tak tersalurkan dengan sempurna. Namun, beberapa penonton yang tak lagi mampu menahan diri, akhirnya melepas emosi mereka dengan melompat-lompat (berjingkrak-jingkrak, Red) di depan kursi masing-masing, memenuhi ajakan Mario Calire yang turun dari panggung, saat lagu Here We Go dinyanyikan.

Selanjutnya berturut-turut Ozomatli menuntaskan seluruh lagu yang berjudul Magnolia Soul, Violeta, After Party, Believe, Cumbia, Cuando, La Temperatura, Chango, Sat Night, dan Como.

Usai lagu terakhir, hampir seluruh personel Ozomatli turun ke deretan bangku penonton. Mereka unjuk kebolehan di antara kursi-kursi penonton. Sejumlah penonton pun mencapai klimaks dengan berjoget di depan panggung.

Pendingin udara salah satu gedung pertunjukan tertua di Jakarta ini bahkan selama satu setengah jam tak mampu mendinginkan ruangan yang menjadi panas oleh energi penonton. Ozomatli benar-benar terlihat tahu apa yang diinginkan penontonnya. [Y-6]


Last modified: 26/3/08