SUARA PEMBARUAN DAILY

Panen Raya, Harga Gabah Anjlok

Benahi Manajemen Stok Beras

[JAKARTA] Pemerintah diminta segera membenahi manajemen stok beras sesuai dengan karakter komoditas beras, rasio produksi konsumsi, respons petani, serta kematangan pasar besar. Sebab, persoalan perberasan nasional saat ini, faktor utama pada manajemen stok yang lemah. Demikian dikatakan Guru Besar Ekonomi Pertanian, Universitas Lampung, Bustanul Arifin, Selasa (25/3).

Dijelaskan, produksi beras utama dihasilkan pada 4-5 bulan panen raya (Februari-Juni), atau biasa disebut musim rendeng, yang mencapai 65 persen dari total produksi nasional. Produksi berikutnya dihasilkan pada musim gadu I (Juni-September) dengan produksi sekitar 30 persen. Sisanya sekitar lima persen dihasilkan pada musim paceklik pada Oktober-Januari.

Lemahnya manajemen stok beras inilah yang memicu fluktuasi harga beras setiap tahun terus berulang. Harga gabah petani merosot drastis ketika panen raya, sebaliknya harga gabah dan beras naik tajam saat paceklik.

Menurut Bustanul, akibat manajemen stok yang tidak memihak, petani selalu berada pada posisi tidak diuntungkan. "Di saat harga beras dunia melonjak hingga sekitar US$ 700 per ton, harga beras petani Indonesia hanya sekitar US$ 400 per ton. Itupun umumnya dibeli dalam bentuk gabah dengan harga kurang dari US$ 200 per ton," ujarnya.

Senada dengan itu, pengamat perberasan Husein Sawit menjelaskan, beras memiliki karakteristik pasar yang paradoks. Pada saat harga beras di tingkat konsumen melonjak, pengaruh kenaikan harga tidak serta merta terjadi, dan tidak sepenuhnya mendongkrak harga gabah. Sedangkan penurunan harga beras di tingkat konsumen berpengaruh sempurna dan cepat ke harga gabah di tingkat petani.

Sebaliknya, peningkatan harga gabah di tingkat petani secara cepat langsung menyebabkan harga beras di tingkat konsumen meningkat. Sedangkan penurunan harga gabah di tingkat petani, tidak serta merta menurunkan harga beras di tingkat konsumen.

Secara terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Departemen Pertanian, Soetarto Alimuso memperkirakan dengan produktivitas rata-rata 4,7 ton per ha, produksi gabah periode tersebut mencapai sekitar 26 juta ton gabah kering giling (GKG), atau setara 15,6 juta ton beras. Jumlah tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan enam bulan.

Harga Gabah Anjlok

Sementara itu, pada panen raya kali ini, petani di Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah kembali mengeluh karena harga gabah anjlok. "Dari dulu keadaan seperti ini terjadi, setiap panen. Harga gabah rendah dan itu yang membuat keuntungan kami terkuras, sebab biaya produksi terus meningkat dan hampir mendekati harga jual gabah," ujar Daeng Mangalle, petani di Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulsel.

Dia menjelaskan, hasil panennya yang hanya 6 ton cuma terjual Rp 1.700 per kg. Padahal, harga yang ditetapkan pemerintah untuk gabah kering panen (GKP) Rp 2.000 per kg.

Kondisi yang sama melanda petani di Demak, Jateng. Petani mengeluhkan anjloknya harga GKP hingga Rp 1.300-Rp 1.400 per kg.

Di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, harga GKP di tingkat petani diperkirakan akan turun hingga Rp 1.750 dari saat ini Rp 2.200 per kg. Hal itu mengingat panen raya akan terjadi pada akhir Maret nanti. [L-11/148/142/152]


Last modified: 25/3/08