SUARA PEMBARUAN DAILY

Roda Kehidupan

Terbangkan Aku ke Angkasa

foto-foto:Abimanyu

Sebagian koleksi layang-layang di Museum Layang-layang Indonesia di Pondok Labu, Jakarta Selatan, didedikasikan untuk melestarikan salah satu khazanah budaya bangsa Indonesia.

Layang-layang sepanjang masa,

bagai hidup manusia di dunia.

Layang-layang di angkasa,

bagaikan merdeka hidup manusia...

Penggalan puisi di atas bisa dibaca di dinding salah satu ruangan Museum Layang-layang Indonesia, di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan.

Di museum berbentuk joglo yang didedikasikan untuk melestarikan salah satu khazanah budaya bangsa Indonesia itu, pengunjung seakan-akan dibawa mengelilingi wilayah Indonesia, dari barat sampai timur. Berbagai koleksi layang-layang itu seolah-olah bercerita tentang budaya masing-masing daerah, lewat aneka ragam corak, pilihan warna, bentuk, dan gambar.

Di antaranya tampak Janggan, satu di antara layang-layang tradisional Bali, dengan ekornya yang panjang. "Layangan ini biasa dipakai untuk ritual dan tradisi keagamaan masyarakat Bali," ujar CP Supriyadi (36), pemandu museum itu, Senin, 3 Maret lalu.

Selain memamerkan beragam layang-layang tradisional, di ruangan tersebut juga bisa ditemui peninggalan sejarah, awal mula manusia membuat layang-layang. Di antaranya dapat dilihat bahan dasar layang-layang dedaunan ubi gandum dan anyaman tali dari serat daun nanas, yang dipakai masyarakat dari gua di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.

Di museum itu tersimpan sekitar 500 koleksi layang-layang aneka jenis, bentuk, dan ukuran. Memang tidak semua ditampilkan. "Paling tidak kami mengganti display (pajangan, Red) setahun dua kali," kata Supriyadi. Bapak dua anak itu mengaku mengajar cara membuat layang-layang di berbagai daerah, termasuk mengajar para siswa sekolah luar biasa di Lombok. Di sebuah lemari di ruangan tersebut juga dapat disaksikan beragam pin dan kaus hasil perlombaan dari festival layang-layang. Di sisi lainnya, dapat dilihat sebuah layang-layang pancing, yang biasanya dipakai nelayan untuk menangkap ikan.

Paket Acara

Keberadaan Museum Layang-layang Indonesia diprakarsai oleh Merindo Kites & Gallery. Merindo Kites & Gallery, wadah bagi kalangan yang menekuni layang-layang yang didirikan pada tahun 1988 itu, merasa memiliki tanggung jawab dan berupaya untuk melestarikan satu khazanah budaya bangsa.

Dewasa ini perkembangan layang-layang di Indonesia cenderung mengarah ke bentuk modern. Dampak dari makin beragamnya aspek pencitraan layang-layang bentuk modern, dikhawatirkan menyebabkan hilangnya budaya layang-layang tradisional yang spesifik dan unik dari setiap wilayah Indonesia.

Museum layang-layang itu, merupakan satu-satunya museum layang-layang di Indonesia. Pendiri dan pengelolanya adalah Endang Widjanarko Puspoyo (55), nama yang mungkin tidak asing lagi bagi pencinta layang-layang, baik di Indonesia maupun mancanegara.

Museum yang sangat menonjolkan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia yang tercermin dari bentuk bangunan dan galerinya itu, diresmikan pada 23 Maret 2003. Untuk memeriahkan hari jadinya yang kelima, museum menggelar lomba pada 18 Maret sampai 29 Maret ini.

Dengan membayar tiket seharga Rp 10.000, pengunjung museum mendapat kesempatan menonton pemutaran film singkat seputar sejarah layang-layang, sekaligus melongok bagian produksi dan galeri.

Suara mesin jahit terdengar begitu melewati bagian produksi. Di tempat itu bisa ditemui Chully (45), sedang asyik menjahit pola layang-layang. "Saya sudah bekerja di museum ini sekitar enam tahun," tutur perempuan yang juga pencinta layang-layang itu.

Bukan hanya pesanan, dia juga membuat layang-layang untuk dijual ke pengunjung. "Biasanya rata-rata produksi layangan untuk satu polanya itu bisa mencapai 30 buah, dan untuk seharinya itu saya bisa mendapatkan pola yang berbeda," ujarnya.

Harga layang-layang pun beragam, mulai dari Rp 40.000 hingga ada yang mencapai satu atau dua juta rupiah per buah. "Penentuan harga dilihat dari tingkat keruwetan dan bentuk layang-layang yang dihasilkan," tutur Supriyadi, yang juga turut mengerjakan pembuatan layang-layang.

Jika ingin mendapatkan pengetahuan lebih luas mengenai layang-layang, pengunjung dapat memilih paket-paket lain yang lebih beragam, seperti paket Paperfold, yaitu paket dengan biaya Rp 300.000 untuk 30 peserta dan tiga pendamping. Melalui paket tersebut pengunjung dapat membuat layang-layang sederhana dan sangat mudah dengan hanya melipat kertas yang telah disediakan dan kemudian mewarnainya dengan crayon.

Paket lain, Diamond dengan biaya Rp 375.000, dapat diikuti 30 peserta dan tiga pendamping. Peserta dapat belajar membuat layang-layang aduan, merekatkan rangka dan menggunting, juga menghias dengan kertas warna atau crayon.

Selain paket-paket tadi, pengunjung juga dapat mengetahui bagaimana caranya melukis layang-layang, membuat keramik, dan membuat batik dengan biaya Rp 40.000 per orang. Peserta akan dibimbing pengajar ahli dengan lama belajar lebih kurang satu jam.

Layang-layang koleksi yang terbuat dari daun (bawah).

Esensi Layang-layang

Banyak orang menganggap layang-layang hanyalah permainan untuk melampiaskan hobi semata. Bahkan ada anggapan, layang-layang hanyalah sumber kecelakaan bagi anak-anak yang memainkannya.

Di balik semuanya itu, muncul esensi yang sangat menarik disimak. Layang-layang yang menurut referensi Tiongkok telah dimainkan di Negeri Tirai Bambu kurang lebih 3000 tahun yang lalu itu, ternyata mempunyai berbagai makna dan simbol yang berbeda di masing-masing negara.

Malaysia contohnya, menganggap layang-layang sebagai simbol penghalau roh jahat. Lain lagi dengan Jepang. Negara yang terkenal dengan para samurainya itu, memakai layang-layang sebagai simbol kelahiran anak laki-laki.

Di Indonesia sendiri, layang-layang merupakan unsur penting yang mengakar sejak dahulu kala. Layang-layang dipakai untuk kegiatan ritual-ritual keagamaan, Bali contohnya, menggunakan layang-layang sebagai salah satu kegiatan festival keagamaan mereka yang biasanya diadakan pada Agustus.

Bahkan menurut penelitian, layang-layang pernah dimainkan di negara kita ini kurang lebih 5000 tahun lalu. Gambaran layang-layang yang dibuat dari campuran getah pohon dan darah hewan itu terpampang jelas di dinding sebuah gua di Muna, Sulawesi Tenggara.

Jadi tidak salah jika kita membuang jauh-jauh pikiran yang mengatakan, layang-layang hanyalah sebuah kertas tak bermakna, yang kita biarkan melayang di udara tanpa rasa sensasi di saat kita memainkannya. Layang-layang akan membawa angan melayang di udara, menuju kebebasan yang merdeka, seperti tersirat dalam penggalan puisi di atas. [Vincent Asido]


Last modified: 24/3/08