SUARA PEMBARUAN DAILY

Christina Mandang Jatuh Cinta pada Orgel Pipa

SP/Ruht Semiono - Christina Mandang

Alunan musik dari orgel pipa dalam suatu peribadatan di Gereja Protestan di Indonesia Barat (GPIB) Immanuel Jakarta rupanya benar-benar menghipnotis Christina Mandang. Usianya baru 12 tahun saat itu. Ia langsung jatuh cinta pada keindahan melodi yang tercipta melalui pipa-pipa bambu itu. Lalu, muncul rasa penasaran.

Orgel pipa memang berbeda dengan alat musik lainnya. Orgel yang dijuluki raja alat musik itu mampu menghasilkan berbagai macam bunyi dan kombinasi suara. Orgel pipa bisa menghasilkan bunyi terompet, bas, keyboard, suling, klarinet hingga bunyi menyerupai suara burung. Orgel pipa mampu menghasilkan bunyi yang sangat panjang yang tidak bisa dihasilkan alat musik lain.

Orgel pipa memiliki prinsip seperti suling. Register (suara) yang ditimbulkan orgel pipa berasal dari pipa-pipa dengan beragam ukuran panjang dan diameter. Orgel langka yang dapat ditemukan di gedung gereja GPIB Paulus atau Katedral Jakarta itu, juga memiliki pipa-pipa yang bisa mencapai 1.000 pipa seperti dijumpai di GPIB Imanuel.

Rasa penasaran mendorong Christina membulatkan tekad menekuni alat musik khas gereja itu langsung dari Pendeta Van Dop (HA Pandopo), pakar musik gereja dan penggubah lagu-lagu Kidung Jemaat. Kesukaannya mendengar bunyi orgel pipa membawa Christina memasuki dunia musik gereja. Putri pasangan asal Minahasa Lydia Rompas dan Daniel Mandang itu akhirnya serius menekuni musik gereja. Darah seni yang diwarisinya dari kakek dan neneknya yang mahir memainkan orgel pipa, mempermudahnya mengayuh keinginan itu.

Christina kini dikenal sebagai satu-satunya pemusik orgel pipa Indonesia yang meraih gelar master of music. Pada usia 30 tahun ia memperoleh gelar itu dari Royal Conservatoire Den Haag, Belanda.

Kepiawaiannya memainkan orgel pipa mengantarnya melanglang buana, menyelenggarakan konser di beberapa negara di Eropa. Di Indonesia, ia menunjukkan bakat bermusiknya dengan mengiringi konser musik gereja seperti Gaudete dan Messiah. Pada awal Maret lalu pengajar musik gereja di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta itu mendapat kehormatan membawakan dua lagu, membuka konser profesor musik asal Jerman, Burkard Schliessman.

Awal Karier

Pribadi yang cuek, itu kesan yang muncul ketika pertama kali menemuinya. Rambutnya dipotong pendek. Ia mengenakan kemeja hitam dan jelana jins ketika ditemui di kantornya di STT Jakarta.

Perempuan kelahiran 15 Februari 1972 itu menuturkan, bermain orgel pipa berbeda dengan organ biasa. Memainkan orgel pipa membutuhkan keahlian khusus, terutama dalam menyentuh tuts dan cara menghasilkan bunyi.

"Orgel pipa alat musik yang menarik. Pemusik yang menentukan suara yang akan ditimbulkannya. Pemain harus memikir- kan bunyi yang ingin dihasilkan. Berbeda dengan organ, teknologi mesinlah yang memainkan musik," ujarnya.

Kecintaan pada orgel pipa mengantar langkahnya melanjutkan kuliah ke Negeri Kincir Angin, mewujudkan impian untuk serius mempelajari orgel pipa. Atas usul guru dan idolanya, Pendeta Van Dop, ia memilih Konservatori Rotterdam, Belanda. Pilihan yang tepat, mengingat gereja Indonesia banyak mengadaptasi lagu-lagu gereja Belanda.

Belanda pula yang menjadi awal perjalanan karier musiknya. Setengah tahun di Rotterdam, ia bekerja sebagai pemusik gereja di sebuah gereja Katolik. Selama sembilan tahun ia menjadi pengiring musik gereja, yang cukup mampu membayarnya sebagai tenaga profesional. Ia bahkan sempat berkonser di beberapa kota di Belanda. Kembali ke Jakarta, ia bersama Virtuoso Choir mengadakan konser orgel pipa perdananya, berjudul Gaudete in Domino.

"Harapan saya akan semakin banyak orang tertarik menggeluti orgel pipa," kata Christina, yang juga mengajar orgel pipa. Kini ia mempunyai delapan anak asuh dari Jakarta dan Bandung untuk dididik menjadi pemusik orgel pipa profesional.

Musik gereja seolah memang sudah menjadi panggilan hatinya. Ia merindukan jemaat gereja dapat beribadah dengan benar, didukung penyelenggaraan musik gereja yang baik. Untuk mewujudkannya, Christina kerap membekali pemusik gereja dengan memberikan seminar atau lokakarya tentang musik gereja, hymnology, cantorship, dan paduan suara.

Pengetahuan dan keahliannya dalam bidang musik gereja bahkan membuat teman-temannya menjulukinya sebagai penerus Van Dop. Saat ini Christina menjabat sebagai Koordinator Musik Gereja Yayasan Musik Gereja (Yamuger).

Bersama Yamuger, ia menelurkan jilid pertama dari 12 seri Mari Mengiringi. Dalam buku itu terdapat 15 lagu Pelengkap Kidung Jemaat (PKJ) aransemen Christina. Beberapa edisi lain sedang ia persiapkan, di antaranya edisi lagu-lagu saat teduh, ibadah gereja, dan Natal.

Musik Gereja

Bicara tentang musik gereja, Christina menyesalkan banyak gereja yang menyelenggarakan musik tanpa mempersiapkan lagu dengan baik. Terkesan asal main, tanpa penguasaan bermusik yang baik. "Lagu yang dinyanyikan itu-itu saja, padahal lagu-lagu gereja Indonesia sangat kaya dan beragam, dari bermacam jenis musik mulai abad pertengahan hingga sekarang," katanya.

Musik gereja dapat dimainkan dengan berbagai macam alat musik, tidak hanya dengan organ atau piano. Musik gereja bisa dimainkan dengan iringan suling, drum, dan lainnya.

Esensi musik gereja, menurut Christina, adalah untuk beribadah, bukan sebagai pertunjukan musik atau sekadar menunjukkan bakat. Sering kali pengiring musik gereja (pemain musik dan pemimpin pujian) hanya memikirkan teknis cara bermusik, tetapi lupa sedang melayani Tuhan dan jemaat.

Secara spiritual, pengiring musik gereja berfungsi mendukung jemaat untuk beribadah. Pengiring musik gereja memiliki tugas membangun suasana ibadah sesuai tema. Memilih lagu ibadah harus sesuai dengan suasana yang ingin dibangun. "Apakah itu khusyuk, tenang, atau gegap gempita," ia mencontohkan.

Bagi Christina yang aktif melayani di GPIB Paulus itu, pengiring musik gereja bertindak sebagai perantara antara Tuhan dan jemaat. Melalui musik yang dinyanyikan, ia mewartakan Kabar Baik kepada jemaat sekaligus membawa jemaat mengucap syukur kepada Tuhan. Musik gereja mendukung jemaat mengekspresikan diri melalui lagu yang dinyanyikan.

"Itu sebabnya penting bagi pemusik mempersiapkan diri dengan latihan sebelum melayani. Pemain musik, termasuk jemaat, perlu mengetahui sejarah musik gereja, teologi, liturgi, dan mengerti lirik lagu. Seorang pengiring musik gereja juga perlu mengetahui kondisi jemaat sehingga pemilihan lagu sesuai dengan konteksnya," ujar Christina, yang dua kali sebulan mengiringi ibadah gereja melalui permainan orgel pipanya.

Perkembangan musik rohani Kristen pun tak luput dari perhatian anak pertama dari tiga bersaudara itu. Ia menilai lagu rohani populer saat ini diciptakan hanya untuk memuaskan hati pendengarnya, dan tidak ditujukan untuk ibadah. Lagu rohani zaman sekarang lebih terfokus tentang hubungan pribadi dan Tuhan. Jarang ada tema tentang hubungan dengan sesama. "Ada yang memberikan alasan bahwa itu adalah tipe individualisme masa kini. Tetapi apakah gereja membenarkan hal itu? Kita harus mengasihi sesama," katanya.

Lagu rohani harus mencerminkan empati kepada sesama. Ia menegaskan, nyanyian jemaat berbicara tentang tiga aspek, yaitu Tuhan, sesama, dan diri sendiri. Namun, ia mengajak untuk tidak memperdebatkan perbedaan jenis musik gereja. Ia menyarankan gereja konvensional dapat belajar dari musik gereja modern, begitu pula sebaliknya. Bukan masalah jenis musik, yang terpenting adalah syair lagu mengandung makna teologis. [Daurina Lestari Sinurat]


Last modified: 24/3/08