erjalanan hidup Rinan penuh liku. Pria berusia 45 tahun itu adalah tukang ojek sepeda ontel di Jembatan Kali Besar Barat, Jakarta Barat. Rinan yang telah menyandarkan hidupnya pada sepeda ontel selama 30 tahun bahkan sebelum ia menikah itu, sungguh pria yang kuat. Demi kelanjutan hidup keluarga ia rela berpisah ribuan kilometer dari keluarga yang amat dicintainya.
Pakuaji, Tangerang adalah kampungnya. Di sanalah tinggal istri dan lima orang anaknya. Empat orang anaknya yang pertama, dan semuanya perempuan, telah tamat SMA dan sudah menikah. "Saya bangga anak pertama hingga keempat telah menyelesaikan SMU. Sebenarnya saya ingin mereka melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah tapi tidak ada biaya," tutur Rinan. Kebahagiaan keluarga Rinan semakin lengkap dengan hadirnya tiga orang cucu. Sementara itu, satu-satunya anak laki-laki Rinan masih SD. "Seminggu sekali saya pulang ke Pakuaji. Saya selalu mengayuh sepeda ini selama tiga jam pergi dan tiga jam pulang," tuturnya.
Pengorbanannya tak berhenti di situ. Selama tinggal di kawasan Kota Tua itu ia rela tidur di emperan toko dan mandi di MCK. Pakaian disimpannya dalam tas yang selalu dibawa setiap ia mengojek. "Saya langsung tertidur setelah rebahan di lantai," katanya. Waktu kerja Rinan pukul 06.00 hingga 24.00. Dengan penghasilan perhari Rp 20.000 hingga Rp 30.000, ia dapat membawa uang untuk keluarga Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu setiap minggunya. "Pendapatan saya tidak menentu. Sebenarnya saya capek. Tapi mau bagaimana lagi," keluhnya.
Kelelahan lelaki asli Pakuaji itu dirasakan pula oleh anak pertama hingga keempatnya. Mereka meminta ia berhenti. Ia enggan. Alasannya masih ada anak bungsu yang harus ia biayai pendidikannya. "Enggak enak hati minta biaya sekolah ke empat anak saya yang telah menikah. Lebih baik saya mengayuh sepeda," tuturnya. Dari lubuk hatinya yang terdalam, Rinan ingin menghabiskan masa tua dengan beternak bebek. Tetapi besarnya modal sebesar Rp 3 juta mengubur dalam-dalam asanya itu.
Kenangan
Tak pernah terlintas dalam benak Rinan menekuni pekerjaannya seperti saat ini. Awalnya ia diajak seorang teman menjadi tukang ojek sepeda ontel di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Hanya satu tahun ia di sana. Selanjutnya ia pindah ke Jembatan Kali Besar Barat. "Saya ingin sekali dagang tapi tidak ada modal. Suatu hari saya pernah memberitahu keinginan saya berdagang beras tapi tidak diizinkan keluara. Ya saya kerjakan saja apa yang ada di depan mata saya, daripada menganggur," ucap Rinan. Rinan mengenang pada 1985 Jembatan Kali Besar Barat rawan dengan penodongan. Anehnya mereka tidak pernah menodong tukang ojek sepeda ontel di sana. Kenangnya pula, ia pernah mengantarkan seorang penumpang ke Tanah Abang. "Asal saya tidak mengusili penodong-penodong itu, mereka pun tidak mengusili saya," tuturnya.
Perlahan namun pasti waktu menunjukkan pukul 24.00, suasana sekitar sepi. Terlihat satu dua motor dan mobil melewati jalan yang minim penerangan itu. Sesekali sesama tukang ojek sepeda ontel mendekati Rinan. Tampaknya malam itu sedikit orang yang akan menggunakan jasanya mengantarkan orang ke mana pun dengan sepeda ontelnya. "Tahun 1980-an jembatan ini ramai dengan supir dan bus antarkota serta pangkalan mobil," kenang Rinan. Untuk mengusir kebosanan Rinan kerap mengobrol dengan sesama tukang ojek sepeda ontel. Apapun dibicarakan, dari keluarga hingga pendapatan. Dinginnya malam tak menyurutkan semangat Rinan terus berjuang mengayuh sepeda mencari nafkah untuk keluarga. Hanya satu citanya anak-anaknya tidak menjadi pengayuh sepeda ontel seperti dirinya. [Ignasia Kijm]