[JAKARTA] Warga Kelurahan Kamal, Kalideres gempar. Mereka menemukan jenazah bayi laki-laki yang sudah membusuk di dekat sumur warga tak jauh dari musala di RT 03 RW 08, Kelurahan Kamal, Kalideres, Jakarta Barat, Senin (24/3) pagi.
Budi, Ketua RT setempat mengatakan, belum jelas siapa orangtua bayi tersebut dan siapa yang membuangnya. "Bayi ini semula ditemukan Muksin, salah seorang warga kami sekitar pukul 04.00 WIB," ujar Budi kepada SP, Senin sore.
Saat itu Muksin tengah mengambil air wudhu. Dia mencium bau busuk. "Seperti bau ikan busuk," ujar Muksin ketika itu. Tak jauh dari musala, dia mene- mukan sebungkus plastik berwarna hitam di dekat sumur.
Dia memaparkan, bungkusan itu ditaruh berhimpitan antara sumur dan pagar. Jadi agak susah menjangkaunya. Awalnya dia tidak menduga isi bungkusan itu jenazah bayi. Dia enggan membukanya, karena baunya terlalu busuk. Mungkin bangkai kucing atau ikan. Karena itu dia menaruh bayi itu di tepi Jalan Benda Raya, kira-kira 100 meter dari sumur.
Beberapa jam kemudian, kemenakan Muksin yang baru saja pulang dan melintasi jalan itu bertanya-tanya seputar bungkusan plastik hitam yang tak jauh dari rumah Muksin. Ia mengatakan, bau busuk berasal dari bungkusan plastik hitam tidak lazim.
Ia curiga. Soalnya bungkusan plastik hitam itu sangat berat, dan dipenuhi tetesan darah. Sesegera mungkin ia dan Muksin melaporkan kejadian itu ke Budi.
Tak lama, Budi datang. Saat itu warga ramai mengerumuni bungkusan plastik hitam itu. Budi memberanikan diri membukanya. Dia terperanjat ketika mendapati seorang bayi laki-laki tidak bernafas. "Bayi dibungkus dengan tiga lapis plastik. Jadi kami agak susah membukanya," kata Budi.
Disa, seorang warga mengatakan, saat itu dia menyaksikan kondisi bayi yang terbujur kaku, biru membengkak, berselubung darah, dan masih memi- liki ari-ari. Lidahnya ter- julur keluar. "Sepertinya dicekik," ujarnya. Budi langsung melaporkan penemuan itu ke Polsek Metro Kalideres.
Kantong Plastik Hitam
Kasus penemuan bayi di Kalideres menambah panjang kasus serupa yang terjadi di Jabotabek. Berdasarkan data yang dihimpun SP, sejak Januari 2008 hingga 24 Maret 2008 setidaknya sudah ada delapan bayi dibuang orang tuanya dan ditemukan warga. Dari jumlah itu, enam bayi ditemukan dalam keadaan sudah tewas.
Seperti yang terjadi pada 18 Februari lalu, seorang nelayan, Rusli, menemukan mayat bayi tanpa pembungkus di perairan Cilincing, Jakarta Utara. Pada hari itu juga, Jaky, warga setempat menemukan mayat bayi yang diduga kembaran mayat bayi yang ditemukan di perairan Cilincing. Bayi yang ditemukan Jaky itu teronggok di bibir pantai belakang KBN Marunda, Cilincing, Jakarta Utara.
Lalu pada 9 Maret lalu, seorang warga menemukan jenazah bayi laki-laki di tempat pembuangan sampah di Ancol, Jakarta Utara. Bayi yang ari-arinya masih menempel itu berada di dalam kantong plastik hitam.
Kemudian pada 14 Maret, mayat bayi perempuan ditemukan di dalam sebuah angkot di Jalan Sentra Primer, Pulo Gebang, Jakarta Timur. Bayi itu dibalut kain putih dan dimasukkan ke dalam bungkusan plastik warna hitam. Bayi itu ditemukan di kolong bangku belakang di dalam angkot 31 jurusan Pulogadung-Harapan Indah Bekasi. Sejumlah warga menduga, kantong plastik hitam digunakan untuk mengelabui penumpang lainnya. Sebab isi kantong tidak terlihat dan diduga berisi barang belanjaan yang tertinggal.
Budi melanjutkan, aksi buang bayi menunjukkan orang tua yang tidak bertanggung jawab dan tidak bermoral.
Hal senada diungkapkan M Rusli warga Jakarta Utara. Menurut dia pihak kepolisian harus mengusut para pelaku yang membuang bayi. Pihak rumah sakit ataupun bidan bisa membantu aparat kepolisian mengungkap peristiwa yang kerap terjadi ini. "Pelakunya harus ditindak tegas," ujarnya. [DGT/Y-4]