SUARA PEMBARUAN DAILY

Bom Irak, Iran Dituding Bertanggung Jawab

[WASHINGTON] Presiden AS George W Bush dalam sebuah pernyataan hari Senin (24/3), menyatakan simpati serta menegaskan bahwa pengorbanan nyawa 4.000 tentara AS di Irak tidak akan sia-sia. Di sisi lain, Gedung Putih juga kembali mengisyaratkan tidak akan melakukan penarikan pasukan tempur tambahan AS di Irak dalam waktu dekat ini.

Empat tentara AS tewas akibat ledakan bom pinggir jalan di Baghdad, Minggu (23/3) malam, sehingga jumlah korban militer AS yang tewas di Irak sejak invasi 2003 mencapai 4.000 orang. Jumlah tersebut terbilang jauh lebih sedikit jika dibandingkan sejumlah perang AS di era modern seperti Perang Vietnam dan Korea. Tetapi, jumlah itu jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan kebanyakan warga AS, termasuk Bush, setelah invasi AS ke Irak.

Sementara itu, Komandan Tertinggi AS di Irak Jenderal David Petraeus mengatakan Iran terlibat dalam serangkaian serangan ke seantero Irak pada hari Minggu yang menewaskan sedikitnya 57 orang, termasuk empat tentara AS. "Iran memasok peralatan canggih bagi militan-militan di Irak," kata Petraeus. Dalam kekerasan tersebut, serangan roket dan mortir juga menggempur Green Zone, kompleks pemerintahan dan perwakilan asing, di Baghdad yang berada di bawah pengawalan ketat aparat keamanan AS. Gempuran ke Green Zone terjadi bersamaan dengan dilancarkannya serangan bom truk bunuh diri di Mosul, kota di wilayah utara Irak.

Bush sebetulnya telah menyatakan diakhirinya operasi tempur berskala besar di Irak pada bulan Mei 2003. Tetapi, operasi militer melawan kelompok perlawanan terus berlangsung. Dari 4.000 korban tentara AS, sebagian besar tewas sesudah bulan Mei 2003.

"Pada suatu hari nanti, orang-orang akan menatap kembali peristiwa ini dalam sejarah dan mengatakan terima kasih Tuhan, ada orang-orang yang dengan penuh keberanian mau berkorban karena mereka meletakkan landasan untuk perdamaian bagi generasi-generasi mendatang," kata Bush seusai pertemuan selama dua jam dengan Departemen Luar Negeri AS tentang upaya-upaya diplomasi jangka panjang.

Irak menjadi pukulan keras bagi kepresidenan Bush dan berkontribusi bagi jatuhnya popularitas Presiden AS dari Partai Republik itu dalam sejumlah jajak pendapat. [AP/AFP/E-9]


Last modified: 24/3/08